QALAMUNA NOORY

Dalam waktu terPENAkan kidung kehidupan

Hari ini, jam ini sudah waktunya pulang. Hujan deras mengelayut i luar sana mengurungkan niatku. Padahal sudah setengah delapan malam. Rencana hari ini pulang semobil dengan teman sekerja. Apalagi jika mengingat aku tidak membawa jas hujan. Jadi mau tak mau bareng dengan teman tersebut. Rencana kita memikirkannya, sayang tidak berjalan apa adanya.

Mobil yg terparkir manis di luar kehabisan aki. Dengan tidak sengaja teman kerja menghidupkan lampu. Hampir dua jam keadaan ini tidak disadari. Sehabis dari bengkel di pandaan langsung nyelonong masuk kantor, lupa telah menghidupkan lampu. Tersadari setelah salah satu teman beranjak pulang. Wah bisa berantakan semua rencana.

Percobaan awal dilakukan dengan penuh harap. Memang aki sudah habis benar. Teringat di gudang ada charger aki, maka cara itupun ditempuh. Sementara hujan nampak tidak lelah untuk mengguyur. Upaya untuk mendekatkan mobil dekat kanopi berhasil setelah susah payah mendorong berdua. Agar tidak terimbas air hujan mobil terpaksa harus berdiam ditempat terlindungi. Berhasil, walau tak sepenuhnya terlindungi. Lagipula kabel untuk menghubungkan sumber listrik ke charger ekat mobil ternyta kurang panjang. Walah… ada saja hambatan yang datang.

Setelah sana-sini cari kabel sisa test alat kemaren malam, kutemukan juga kabel yang masih nyangkut pada kontrol panel. Dibethot saja oleh temanku. Charger kini sudah terpasang tinggal menunggu pengisian. Lima belas menit, setengah jam. Cukuplah kiranya pengisian ini. Dicobalah barang sebentar. Kelegaan menjadi harapan sekaligus jalan terang unutk pulang. Nyatanya usaha inipun kurang berhasil. Dibiarkanlah lagi alat tersebut bekerja barang sebentar lagi. Sambil kuusahakan melihat-lihat kotak masuk emailku. Atau sambil menunggu dengan mengobrol sekilas2nya dengat teman-teman lewat chating. Hujan masih terus berguyur, lebat malah…

Sampailah waktunya menimbang untuk kesempatan terakhir. Kereta mesin diesel ini harus dikembalikan seperti gerobak yang mogok kerbaunya. Didorong tentunya yang aku maksudkan. Kulihat sekilas suasana di luar sana. Dan hujan sepertinya tak mau ambil peduli. Dengan bermodalkan semangat dan harapan pada kekuatan ringkih berdua, kupanjatkan doa. Sekiranya saja terkabul sapa tahu. Nyata jelas titik hujan yang mulai memasuki bibirku. Si teman di samping setir, sambil setengah mendorong. Aku menuntuk dengan segala keterbatasan nafasku. Kaos yang kukenakan mulai menambah dingin badanku. Rupanya satu-satunya alat pelindung dada ini juga tak kuasa menahan bulir-bular air hujan.

Kami dorong sekuatnya kereta mogok ini. Lima meter pertama terasa begitu berat. Bilangan kelipata keduanya mulai teras berjalan normal. terasa lebih ringat. Itu menambah semangatku mendorong. Lima meter berikutnya mulai laju ini mobil. Secepat kilat si teman melompat di belakang setir. sayang itu tidak membantu. Tenagaku sudah habis duluan. Kami terengah-engah sambil emmegangi perut. Kami pandangi mobil kurang tahu untung ini. Sudah berapa liter di minum solar siang ini. Tetap tak mau jalan engan sendirinya. Terpaksa kami unurkan lagi mobil untuk mengambil jarak dorong. Sampailah pada pututan untuk mengulang usaha terakhir ini. Sekuat tenaga tersisa semangkok baso tadi sore kami kerahkan. Harapan melambung tatakala terasa cepat benar mobil berlari. Si teman denga cepat pula berlari ke arah setir. Kudengar suara mendesis. Harapan sekiranya menjadi kenyataan. Ku kayuh sekali lagi mendorong gerobak diesel ini. Cuma sekali mendesis. Hanya itu yang dapat ia keluarkan. dan kami menyerah denga basah kuyup..

Aku duduk di samping kiri depan. Si teman melenguh di sampingku. Badan kami kuyup. Haya sengal nafa kami yang terdengar. MObil dengan beku masih diam tak bersuara. Kulihat senyum kecut mengembang terpaksa. Hujan masih gemericik di luar mobil. Terpaksa penyerahan harus diputuskan. Itu berarti mobil harus dioarkir kembali. Kami dorong didepan moncongnya. Kulihat tetangga sebelah melihat kami. Mungkin dipikir kami mai hujan-hujanan….

Didepan komputer aku merangkai huruf menjadi kata. Tersambung satu menyatu menjadi kalimat. Sambil mencoba menunggu kering badan. Baju sudah ku buang karena tak nyaman lagi. Aku harus pulang. Kali ini dengan mootor. TAk hiraukan lagi hujan yang nampak tambah deras. Segera aku akhhiri rangkaian kalimat ini. Sambil berfikir bagaimana caranya komputerku nanti tidak basah. Karena aku tidak membawa jas hujan. Tapi aku telah berjanji membuat company prfoile. Plak…reflek tanganku menggapai nyamuk yang menggigit sakit punggungku.Aku harus pulang. Bukan karena hujan ataupun kuyup komputerku. Aku hanya tak tahan gigitan nyamuk. Plakkk…

December 17, 2007 - Posted by | Diary

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: