QALAMUNA NOORY

Dalam waktu terPENAkan kidung kehidupan

Pokoknya menulis

Lebih dari dua bulan aku sudah tidak mengutak-utik lembar tulisan ini. Baru pagi ini aku sempatkan. Itupun karena , seperti biasa bangun pagi gara-gara isyak menjelang subuh. Jadi sekalian saja. Mulai tadi malam aku membaca-baca buku, yang  menurutku cukup menggelitik dan seakan memenuhi keinginan dan impianku selama ini. Keinginan mandiri secara pekerjaan, sehingga punya diri yang utuh, bebas dan terjaga selalu memiliki waktu. Tiga hal yang selama ini belum aku dapatkan. Walaupun belum selesai membacanya, aku dapat gambaran mrnarik untuk hidup dengan terminologi MALAS. Eiit.. yang ini lain dari persepsi dan opini dalam masyarakat. Malas dalam artian tidak melakukan apapun karena unsur nihilisme tindakan. Akan tetapi harus mulai merancang definisi sukses pribadi dan kebahagiaan diri. Karena yang diharapkan adalah kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. Jadi harus mulai mrnghilangkan obsesi pada materi, apalagi uang. Karena ternyata itu tidak menjamin orang mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan. Kepuasan dan kebahagiaan akan diperoleh jika seseorang melakukan pekerjaan yang menjadi kesenangannya. Pekerjaan yang selalu bisa membuatnya merasa puas apabila telah selesai. Untuk menjadikannya berarti (secara finansial dan emosional), maka harus dilakukan dengan antusias dan pebuh kebahagiaan.   Ini yang selalu ingin saya lakukan. Termasuk saat ini, membaca dan menulis. Yang jelas ke depannya aku punya obsesi untuk membaut taman baca bagi orang tak mampu dan menjadi penulis sekaligus wiraswastawan.Sebenarnya msih ada lagi yang ingin aku geluti, cita-cita sejak kecil yaitu ingin bergelut dalam dunia pendidika. Dimana nalar akan selalu bekerja dan dapat selalu mengikuti perjalanan peradaban.InsyaAllah aku akan selalu ingin menuju ke sana. Dan selalu berkeyakina  diri mampu meraihnya.Untuk mencapi itu semua mulai sekarang harus menyiapkan diri. Tidak hanya modal semangat dan bondo nekad. Persiaan secatra arah dan strategi tindakan harus mulai dirancang. Inilah gambarang awal yang ingin aku lakukan :         mulai mengaktifkan kembali menulis, walaupun dari hal kecil dan tak berguna         membaca buku, literatur dan menuangkan dalam pikiran.         Mulai untuk berjalan-jalan untuk menstimulasikan tindakan.         Menyisihkan uang buat modal awal.         Yang terpenting mulai menikmati hidup dan menghidupkan kembali rasa bahagia “setiap saat”         Buang sama sekali beban dan pikiran sedih apalagi kusut, namun tataplah ke depan dengan senyum. Sedih dan senang tak ada bedanya. Keduanya bernilai positif.Sukses adalah mempunya ruang waktu untuk  selalu bahagia. Kesuksesan tidak harus menunggu memiliki karier mentereng dan uang berjibun. Akan  tetaapi seberapa besar waktu hidup kita mampu diguunakan sesuai dengan keinginan. Mau punya waktu ngobrol dan romantis dengan isteri kapan ia mau, menjenguk saudara atau teman tanpa terganggu jadwal kerja. Waktu luang hati untuk selalu memberi dan memberikan pelayanan bagi orang lain. Bercakap dengan siapapun, termasuk petani di sawah, orang d pinggir jalan atau para penjaga gardu malam hari. Bisa menikmati pemandangan gunung yang menghijau bersama isteri dan keluarga, atau meratapi dalam sunyi kekacaauan kondisi hutan dan perilaku diri masyarakat. Kebebasan yang akan selalu diimpikan orang. Kebebasan waktu dan melakukan sesuatu sesuai keinginan. Tidak terbebani apalagi terpenjara oleh waktu dan pihak lain. Jadi apa yang ada di hadapan nikmati dan gunakan sebagai sarana bahagia. Tentunya dengan wajar dan memiliki arah yang membebaskan. Naif jika melakukan ekspresi kebebasan, malah secara tidak sadar merenggut kebahgiaan dan kebebasan itu sendiri.Deepak Chopra pernah menulis semua tujaun manusia adalah bahagia. Apapun status dan kondisi seseorang. Tidak peduk dia pegawai, bos, orang kaya, miskin ataupun yang tidak punya apa-apa. Dari berbagai obsesi yang mereka kejar, kalau diurut terus tujaunnya, pasti ingin bahagia. Namun yang menjasdi sulit adalah apakah harus menunggu begitu lama, sampai memiliki ini itu untuk dapat mencapai bahagia. Harus memilki karier jabatan tertentu untuk dapat mencapai bahagia, memiliki finansial tertentu untuk dapat merasakan bahagia. Itu  hanya angan-angan yang selalu memburu ke mana arah kita. Bagaikan bayangan yang selalu mengikuti kemanapun diri melangkah. Padahal yang ingin dicari diri itu sendiri, bukan bayangan diri. Jadi saat inipun sebenarnya setiap orang telah memiliki diri, tinggal bagaimanan menemukan dan menjadikannya bahagia. Tanpa harus menunggu sesuatu yang sebenarnya bukan diri itu sendiri. Bahagia sudah ada di dalam diri, tinggal bagaimana memunculkannya. Bahagia adalah soal pembebasan. Seberapa besar kemauan untuk membebaskan perasaandan hati ini untuk terasa behagia. Bahagia tidak datang dengan bantuan orang lain. Kemunculannya tergantung diri sendiri. Setiap orang memiliki jatah dan kesempatan bahagian yang sama. Terlepas bagaimana status, dimana tempat tinggalnya dan berapa usianya. Aku bahagia saat ini, karena telah melangkahkan kaki untuk menulis. Melepaskan segala kepemilikan materi. Yang malah membuat aku harus mengeluarkan enegi untuk memikirkannya. Aku yakin akan selalu bahagia jika mau melakukan apa yang aku inginkan. Masih banyak yang aku ingin lakukan lagi. Namun cukup ini dulu aku melakukan menulis. Waktuku bermanfaat. Aku bisa merasakannya saat ini. Hasil tulisan yang dapat aku baca kembali saat ini atau suatu saat nanti. Apapun penilaian tulisan ini…21 maret 2007

November 6, 2007 - Posted by | Diary

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: