QALAMUNA NOORY

Dalam waktu terPENAkan kidung kehidupan

Memulai lagi

Pagi terasa mendung, galau sore yang menyenandungkan awan gelap. Mau menghancurkan muka bumi dengan curahan hujan. Nyatanya tidak kesampaian hujan turun. Jadilah pagi ini keraguan untuk menyembulkan mentari atau bekerja keras mengumpulkan awan kembali setelah bercerai berai sore kemaren. Sudah lama jari ini tidak memencet tuts-tuts keyboard. Dampai lupa bagaimana harus memulai dengan kata yang tepat. Yng jelas sudah lama sekali, lebih dari 4 bulan.  Banyak hal terlewati tanpa mampu mengembalikan memori utuh kejadian tersebut. Peradaban sudah berjalan cepat, kaget pula aku mengikutinya. Terasa lama sekali mengasingkan di pusat penambangan, nun jauh di sana dari kota. Sehingga menjadikan otak lupa bagaimana seharusna berfikir. Titik mana seharusnya difikirkan dulu sebelum menulis. Diharapkan dengan itu tulisan akan menjadi terarah dan mampu mengerucut sesuai dengan keinginan. Maka pagi ini aku memulai membuka kembali memori untuk menulis. Kebetulan kemaren aku memiliki sepenggal pengalaman bertemu dengan seorang penulis jawa. Prouktifitasnya tak perlu diragukan. Mulai menulis sejak tahun 50-an, dan kini diusianya yang 75 tahun masih aktif. Bahakan beberapa hari yang lalu mendapatkan penghargaan regional tingkan Asia Tenggara; SEA write award di Bangkok Thailand. Bapak Suprapto Brata yang kebetulan ayah dari rekananan kerja dengan kantor tempat aku kerja. Pertemuan yang tak terduga, saat kami mengantarkan printer titipan anaknya lewat kami. Pada mulanya  aku belum bisa bertemu dengannya, karena saat mengantar barang sedang keluar. Namun kemaren mau tidak mau harus bertemu untuk meninstallkan printer tersebut pada PC nya. Jadinya pertemuan singkat berisi cerita dan sisi-sisi kehidupan Bapak Suprapto. Foto-foto selama di Bangkon saat emnerima penghargan ditunjukkannya paa kami. Beliu yang suah uzur asih bersemangat untuk menulis dan engan menyala-nyala stidak langsung memberiku energi kembali untuk memulai lagi. Betul kata pramoedia Ananta Toer, pokoknya menulis sajalah. Dibaca atau tidak, diterbitkan atau tiak bukan urusan. Yang terpenting pokoknya menulis.apapun persepsi dan penilaian orang lain akan tulisan kita. Diejek, cemooh atau tidak digubris sama sekali bukan menjadi soal.  6 Nov 07

November 6, 2007 - Posted by | Diary

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: