QALAMUNA NOORY

Dalam waktu terPENAkan kidung kehidupan

Antrian Panjang

Hari menjadi hari terakhir masuk kerja. Empat hari yang akan datang adalah weekend. Libur yang lu,ayan panjang. Dengan catatan bagi hari Sabtu termasuk hari libur. JIka sabtu adalah hari efektif, tinggal mengurangi saja.

Jadi amat wajar jika pada hari ini semua pihak-tentunya yang libur panjang- akan mengejar target selesai. Semua pekerjaan selama seminggu harus tuntas  pada hari ini juga. Beban pekerjaan harus tuntas sebelum memasuki liburan. Sehingga tidak ada yang mengganggu suasana long weekend.

Apalagi hari ini adalah tanggal  19 pada bulan maret. Sangat berjubel dan antrian panjang mengisi ruangan kantor pajak. HAri-hari kedepan sudah melampaui tanggal 20. Jadi dari pada terlambat dan konsekuensinya kena denda, menunggu lama tidak menjadi penghalang. Bayangkan aku saja harus mengantri sampai antrian 150 lebih. Dengan nomor urut 262, padahal yang sedang dilayani di bawah angka 100. Wuihhh.. rasanya mau balik kucing saja. Untunglah niat itu aku urungkan. Semakin ditunda akan tiidak  selesai pekerjaan. Meski aku akhirnya mendengar informasi bahwa hari Sabtu kantor layanan pajak.

Hampir empat jam menunggu giliran….

inilah indonesiaku, suka mepet-mepet mendekati deadline…

March 19, 2008 Posted by | Diary | Leave a comment

Hari ini, jam ini sudah waktunya pulang. Hujan deras mengelayut i luar sana mengurungkan niatku. Padahal sudah setengah delapan malam. Rencana hari ini pulang semobil dengan teman sekerja. Apalagi jika mengingat aku tidak membawa jas hujan. Jadi mau tak mau bareng dengan teman tersebut. Rencana kita memikirkannya, sayang tidak berjalan apa adanya.

Mobil yg terparkir manis di luar kehabisan aki. Dengan tidak sengaja teman kerja menghidupkan lampu. Hampir dua jam keadaan ini tidak disadari. Sehabis dari bengkel di pandaan langsung nyelonong masuk kantor, lupa telah menghidupkan lampu. Tersadari setelah salah satu teman beranjak pulang. Wah bisa berantakan semua rencana.

Percobaan awal dilakukan dengan penuh harap. Memang aki sudah habis benar. Teringat di gudang ada charger aki, maka cara itupun ditempuh. Sementara hujan nampak tidak lelah untuk mengguyur. Upaya untuk mendekatkan mobil dekat kanopi berhasil setelah susah payah mendorong berdua. Agar tidak terimbas air hujan mobil terpaksa harus berdiam ditempat terlindungi. Berhasil, walau tak sepenuhnya terlindungi. Lagipula kabel untuk menghubungkan sumber listrik ke charger ekat mobil ternyta kurang panjang. Walah… ada saja hambatan yang datang.

Setelah sana-sini cari kabel sisa test alat kemaren malam, kutemukan juga kabel yang masih nyangkut pada kontrol panel. Dibethot saja oleh temanku. Charger kini sudah terpasang tinggal menunggu pengisian. Lima belas menit, setengah jam. Cukuplah kiranya pengisian ini. Dicobalah barang sebentar. Kelegaan menjadi harapan sekaligus jalan terang unutk pulang. Nyatanya usaha inipun kurang berhasil. Dibiarkanlah lagi alat tersebut bekerja barang sebentar lagi. Sambil kuusahakan melihat-lihat kotak masuk emailku. Atau sambil menunggu dengan mengobrol sekilas2nya dengat teman-teman lewat chating. Hujan masih terus berguyur, lebat malah…

Sampailah waktunya menimbang untuk kesempatan terakhir. Kereta mesin diesel ini harus dikembalikan seperti gerobak yang mogok kerbaunya. Didorong tentunya yang aku maksudkan. Kulihat sekilas suasana di luar sana. Dan hujan sepertinya tak mau ambil peduli. Dengan bermodalkan semangat dan harapan pada kekuatan ringkih berdua, kupanjatkan doa. Sekiranya saja terkabul sapa tahu. Nyata jelas titik hujan yang mulai memasuki bibirku. Si teman di samping setir, sambil setengah mendorong. Aku menuntuk dengan segala keterbatasan nafasku. Kaos yang kukenakan mulai menambah dingin badanku. Rupanya satu-satunya alat pelindung dada ini juga tak kuasa menahan bulir-bular air hujan.

Kami dorong sekuatnya kereta mogok ini. Lima meter pertama terasa begitu berat. Bilangan kelipata keduanya mulai teras berjalan normal. terasa lebih ringat. Itu menambah semangatku mendorong. Lima meter berikutnya mulai laju ini mobil. Secepat kilat si teman melompat di belakang setir. sayang itu tidak membantu. Tenagaku sudah habis duluan. Kami terengah-engah sambil emmegangi perut. Kami pandangi mobil kurang tahu untung ini. Sudah berapa liter di minum solar siang ini. Tetap tak mau jalan engan sendirinya. Terpaksa kami unurkan lagi mobil untuk mengambil jarak dorong. Sampailah pada pututan untuk mengulang usaha terakhir ini. Sekuat tenaga tersisa semangkok baso tadi sore kami kerahkan. Harapan melambung tatakala terasa cepat benar mobil berlari. Si teman denga cepat pula berlari ke arah setir. Kudengar suara mendesis. Harapan sekiranya menjadi kenyataan. Ku kayuh sekali lagi mendorong gerobak diesel ini. Cuma sekali mendesis. Hanya itu yang dapat ia keluarkan. dan kami menyerah denga basah kuyup..

Aku duduk di samping kiri depan. Si teman melenguh di sampingku. Badan kami kuyup. Haya sengal nafa kami yang terdengar. MObil dengan beku masih diam tak bersuara. Kulihat senyum kecut mengembang terpaksa. Hujan masih gemericik di luar mobil. Terpaksa penyerahan harus diputuskan. Itu berarti mobil harus dioarkir kembali. Kami dorong didepan moncongnya. Kulihat tetangga sebelah melihat kami. Mungkin dipikir kami mai hujan-hujanan….

Didepan komputer aku merangkai huruf menjadi kata. Tersambung satu menyatu menjadi kalimat. Sambil mencoba menunggu kering badan. Baju sudah ku buang karena tak nyaman lagi. Aku harus pulang. Kali ini dengan mootor. TAk hiraukan lagi hujan yang nampak tambah deras. Segera aku akhhiri rangkaian kalimat ini. Sambil berfikir bagaimana caranya komputerku nanti tidak basah. Karena aku tidak membawa jas hujan. Tapi aku telah berjanji membuat company prfoile. Plak…reflek tanganku menggapai nyamuk yang menggigit sakit punggungku.Aku harus pulang. Bukan karena hujan ataupun kuyup komputerku. Aku hanya tak tahan gigitan nyamuk. Plakkk…

December 17, 2007 Posted by | Diary | Leave a comment

DEKLARASI JUANDA

SOSOK Ir. H. DJUANDA KARTAWIJAYA:PERDANA MENTERI DAN PEJUANG LAUT YANG TANGGUH(Peringatan Deklarasi Djuanda, 13 Desember 2007)Nggak banyak generasi masa kini yang mengenal sosok Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, meski namanya sudah sangat banyak diabadikan ke dalam nama jalan, nama bendungan, nama stasiun kereta api (di Jakarta) dan bahkan nama bandar udara di kota Surabaya. Banyak tokoh-tokoh yang hidup semasanya juga berpikir yang sama bahwa dalam dua puluh tahun terakhir ini namanya tidak menjadi buah bibir generasi muda, padahal Ir. H. Djuanda Kartawidjaja telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasiona RI. Walah, jangan-jangan banyak para elit Republik ini mengalami sindrom yang sama, yaitu sama sekali tidak mengenalnya. Ironis… Tentunya hal ini menjadi kepedulian kita bersama. Perlu diketahui, bahwa sejak masa awal kemerdekaan (1946) sampai meninggalnya 6 Nopember 1963 dalam usia 52 tahun, Ir. H. Djuanda K. selalu mendapat kepercayaan menjadi menteri dalam berbagai kabinet, bahkan ketika meninggal masih menjabat sebagai Menteri Pertama antara tahun 1959-1963, dan sebelumnya adalah Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan selama tahun 1957-1959.Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS), tamat tahun 1924. Selanjutnya oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa yaitu Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama dia masuk ke sekolah Tinggi Teknik (Technische Hooge School) di Bandung, mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933. Semasa mudanya Djuanda hanya aktif dalam organisasi non politik yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhamadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah. Karir selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum propinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.Ir. Djuanda oleh kalangan pers dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri.Pada saat diangkat oleh presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Karya, Ir. Djuanda bukanlah orang partai, sehingga ‘Kabinet Karya’ ini beranggotakan para menteri yang dipilih berdasarkan keahliannya bukan berdasarkan asal partainya. Pada saat menjabat sebagai perdana menteri inilah, Ir. Djuanda harus menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang berat dan rumit. Beberpa diantarannya adalah masalah ketegangan hubungan antara presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta yang mengundurkan diri tahun 1956. Selain itu pergolakan di daerah semakin memanas dengan ketidakpuasan elit politik dan militer di daerah seperti di Sumatera barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara. Selain itu pemerintahan Djuanda juga harus mengatasi pemberontakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa barat, Aceh dan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon dan Seram, dan juga masalah provinsi Irian Barat yang masih diduduki oleh Belanda.Sebagai perdana menteri, Djuanda memprakarsai kegiatan yang berusaha untuk menormalisasi keadaan dan menegakkan keutuhan Negara Republik Indonesia. Untuk itulah diadakan Musyawarah Nasional yang mengundang para penguasa sipil dan militer di daerah, tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap mampu memberikan masukan-masukan yang positif sesuai dengan tujuan Munas. Acara diadakan di Gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan Timur no. 56. Presiden Soekarno dan mantan Wakil Presiden Moh. Hatta juga bersedia hadir dalam acara tersebut. Kehadiran tokoh ‘dwi tunggal’ diharapkan dapat mempengaruhi para elit lokal untuk mau duduk dan bermusyawarah memecahkan berbagai masalah kebangsaan yang tengah mengancam keutuhan Negara RI. Acara Munas dimulai tanggal 10 September 1957 dan berlangsung sampai 14 September 1957.Dalam pembukaan Munas, Ir. Djuanda menekankan pentingnya segala komponen bangsa untuk memikirkan pemecahan masalah yang membuat Negara RI berjalan tidak normal. Dengan membawa kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan golongan atau partai. Sementara itu Bung karno dan Bung Hatta mengingatkan kembali agar segenap komponen bangsa mengambil teladan dari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai jiwa yang membawa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, mengingat munas ini juga diselenggarakan di gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan No 56. Munas ini secara umum cukup berhasil meredam ketegangan antara pusat dan daerah untuk sementara waktu. Memburuknya hubungan RI dan Belanda menimbulkan gejolak di Indonesia, sehingga terjadi kekacauan dalam pengambilalihan asset-asset milik Belanda dan ditambah lagi terjadinya ‘Peristiwa Cikini’ pada tanggal 30 Nopember 1957 yaitu peledakan granat di sekolah Cikini ketika Soekarno berkunjung ke sekolah anaknya tersebut, Soekarno selamat tetapi banyak yang tewas akibat ledakan granat tersebut. Peristiwa ini berkembang dan meningkatkan suhu politik di dalam negeri, termasuk penangkapan- penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Keadaan menjadi tidak stabil ketika komandan-komandan militer dibeberapa daerah meminta agar Kabinet Djuanda dibubarkan atau mengundurkan diri. Sehingga memasuki 1958 situasi pergolakan mulai memuncak dan meletus di Sumatera Barat (PRRI) dan Sulawesi Utara (Permesta).Namun dari semua kesulitan yang dihadapi oleh Kabinet Djuanda dan juga bangsa Indonesia umumnya. Perdana menteri Djuanda ternyata mampu melakukan terobosan besar dalam upanya mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan dan laut yang menjadi wilayah territorial Indonesia dengan mencanangkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957, yang berbunyi:segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada di bawah kedaulatan Indonesia”. Pernyataan ini dibacakan dalam siding Kabinet oleh Perdana menteri Djuanda sebagai landasan hukum bagi penyusunan Rancangan Undang Undang yang nantinya dipergunakan untuk menggantikan Territoriale Zee and Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939, terutama pasal 1 ayat 1 yang menyatakan wilayah territorial Indonesia hanya 3 mill diukur dari garis air rendah setiap palung. Hal ini mengakibatkan wilayah perairan antara pulau-pulau di Indonesia menjadi kantung-kantung internasional yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar, dan waktu itu banyak kapal-kapal perang Belanda yang melintasi laut-laut dalam kita menuju Irian Barat dengan memanfaatkan hukum territorial laut tahun 1939.Penyusunan Deklarasi Djuanda yang sangat penting ini tidak terlepas dari peran. Mochtar Kusumaatmadja yang pada saat itu adalah anggota panitia rancangan Undang-undang (RUU) Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim. “Ketika RUU sedang dalam proses penyelesaian dengan menetapkan wilayah laut territorial Indonesia adalah 12 mil dari garis air rendah. Bulan oktober 1957, menteri Chaerul Saleh mendatangi saya dan mengatakan bahwa RUU tersebut tidak banyak berguna untuk menutup Laut Jawa dari pelayaran kapal-kapal asing terutama kapal perang Belanda. Mochtar kemudian menyusun draft deklarasi atas seizin Letkol Laut Pirngadi, ketua Panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dan juga Kepala Staff Operasi Angkatan Laut.” kata Mochtar. Pada tanggal 13 Desember 1957, panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dipanggil PM. Djuanda di Pejambon, Jakarta. Letkol Pirngadi dan Mochtar kusumatmadja kemudian dipersilahkan menjelaskan peta Indonesia yang sudah menggunakan konsep laut “antara” sebagai wilayah territorial Indonesia bukan hanya 3 mil atau 12 mil dari garis air rendah. Hasil rapat kabinet kemudian memutuskan konsep yang menyatakan bahwa; segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada dibawah kedaulatan Indonesia” diterima sebagai keputusan rapat. Kemudian keputusan ini diumumkan oleh PM Djuanda, yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda, yang memiliki arti yang strategis bagi perjuangan bangsa Indonesia untuk meningkatkan pembangunan dan memantapkan kesatuan nasionalnya. Dengan demikian wilayah laut kita dihitung 12 mil dari garis-garis dasar yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau Indonesia yang terluar, dengan demikian luas territorial Indonesia berkembang dari dua juta km2 menjadi lima juta km2.Meskipun Deklarasi Djuanda belum diakui secara internasional, namun oleh pemerintah RI, deklarasi ini diundangkan melalui keputusan Undang-Undang/ Prp No. 4/1960, bulan Februari 1960. UU ini kemudian diperkuat dengan Keputusan presiden no. 103/1963 yang menetapkan seluruh perairan Nusantara Indonesia sebagai satu lingkungan laut yang berada di bawah pengamanan Angkatan laut RI. Berbagai peraturan ini juga menimbulkan kecaman dari dunia Internasional, namun Indonesia tetap bersikukuh bahwa deklarasi Djuanda merupkan solusi yang terbaik untuk menjaga keutuhan laut Indonesia dan dipergunakan untuk kemamkmuran rakyat Indonesia.Dalam konferensi Hukum laut PBB ke-3, Indonesia memprjuangkan konsep kesatuan kewilayahan Nasional yang meliputi wilayah darat, laut dan udara dan seluruh kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Konsep ini kemudian diakui dalam konvensi Hukum laut PBB di Montego Bay (Jamaika) pada tanggal 10 Desember 1982. Indonesia kemudian meratifikasinya dalam UU No. 17/1985 pada tanggal 31 Desember 1985. akhirnya setelah 25 tahun menunggu Deklarasi Djuanda telah diakui oleh PBB, namun baru diakui secara internasional sejak 16 Nopember 1994, setelah 60 negara meratifikasinya. Hal ini berarti butuh waktu 37 tahun sejak Deklarasi Djuanda Kesatuan Kewilayahan Indonesia diakui oleh dunia Internasional. Saat ini dengan diberlakukannya Zona Ekonomi Eksklusif sejauh 200 mil dari garis dasar perairan maka wilayah yang dapat dikelola ekonominya termasuk wilayah laut seluas delapan juta km2, enam juta km2 diantaranya adalah wilayah perairan laut. Sosok diplomat dan ahli hukum laut Indonesia yang sangat aktif memperjuangan cita-cita deklarasi Djuanda adalah selain prof. Dr, Mochtar Kusumaatmadja adalah prof. Dr. Hashim Djalal yang dengan aktif mengikuti berbagai sidang PBB tentang hukum laut, sejak tahun 1970-an sampai 1990-an. Hashim Djalal menyelesaikan gelar Doktor tentang hukum laut pada Universitas Virginia tahun 1961, karena diilhami oleh Deklarasi Djuanda. Bahkan dia juga menggagas Rancangan peraturan pemerintah temntang lalu Lintas Laut Damai Kendaraan Air Asing melalui Perairan Nusantara Indonesia, pada bulan Juli 1962, yang kemudian disetujui oleh kabinet dan dijadikan Peraturan pemerintah No. 8/1962.Demikianlah Deklarasi Djuanda yang kita peringati setiap tanggal 13 Desember ini merupakan momentum yang dapat dijadikan refleksi sudah sejauh mana wilayah territorial darat dan laut yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita termasuk Prof. Dr. Mochtar kusumaatmadja dan Prof. Dr. Hashim Djalal dapat kita ambil semangatnya bagi pembangunan Indonesia yang lebih baik. Kehilangan Sipadan dan Ligitan, hilangnya pulau-pulau di selat Malaka akibat pengerukan pasir yang dijual ke Singapura dan masalah-masalah pulau terdepan kita yang rentan dijarah oleh pihak luar. Sudah selayaknya dalam peringatan Deklarasi Djuanda para elit sipil dan militer negeri ini selalu mengedepankan kinerjanya agar jangan sampai wilayah territorial kita berkurang karena ketidakpedulian kita terhadap territorial laut dan pulau-pulau di perbatasan dengan Negara lain. Peringtan Deklarasi Djuanda dapat dimaknai sebagai tanggung jawab setiap generasi untuk menjiwai semangat deklrasi tersebut. Maka, fahami dan dalamilah segenap ruh dan jiwa dari deklarasi itu, agar kita tidak kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak kita dan generasi setelah kita. Naskah: Tim Panitia Seminar dan Pameran 50 Tahun Deklarasi Djuanda.
             Direktorat Georgrafi Sejarah Departemen Kebudayaan & Pariwisata RI.
Disarikan oleh: Didik Prdjoko, M.Hum (UI) dan Asep Kambali, S.Pd. (UNJ/ Eks IKIP Jkt) Sumber:I.O. Nanulaita, Ir. Haji Juanda Kartawijaya, Depdikbud, IDSN, 1980/1981Awaloedin Djamin, ed., Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda: Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama, Jakarta, Kompas, 2001 

December 17, 2007 Posted by | KAJIAN | Leave a comment

Goal!!

tujuan dasar manusia adalah selaras dengan alam

itulah yang kubaca dari Zeno

kenalilah dirimu; itu kutahu dari socrates

siapa tahu dirinya pasti tahu jelas siapa Tuhannya

itu terngiang ditelingaku dari catatan Hadits

 semuanya sepertinya bermuara ke yang sama

benarkah sama?

 tentu tidak!!

pastilah itu ringkas pikir menjawabnya

jangan kau menggurui

karena itu takkan berarti

tirulah socrates mengundang keingintahuanmu

pertanyakan segala hal

agar kau tahu seberapa teguh apa yang kau pegang

sebenar apa keyakinamu akan keberadaanya

sebesar apa perjuanganmu mendapatkannya

karena jangan2 itu hanya kutipan dari orang lain

yang kau aku-aku, atau dengan cara yang lebih sopan kau meyuntingnya

karena itu bukan milikmu

maka tak berarti kau telah belajar

kemanakah ini?

alam dan diri akan mewakili awal di atas

kenapa harus selaras dengan alam

ada apa pula dalam diri, hingga perlu diketahui

Alam besar dan alam kecil itulah padanannya

macrokosmis dan microkosmis itulah kata lainnya

tapi manakah yang macro dan mana pula sebaliknya

alamkah atau dirikah?

jika kau pandangkan mata lahir  sesuai tentu macro untuk alam semesta

disana terpampang ayat-ayat dan ciptaan Nya

alam kecil mana yang ada dalam diri?

Jika pandangmu dengan tanpa kedua mata

satu mata hati, akan kau jumpai

yang terpampang luas adalah diri

itulah kenapa mereka menyebut makrokosmis untuk diri

karena disitulah Sang sempurna tak Terbatas semayam

masihkah ini belum tersambung?

tentu tidak!!

inilah jawaban yang seharusnya kali ini

tapi, siapakah dirimu?

akupun belum tahu!!

December 11, 2007 Posted by | PUISI | Leave a comment

Apology :Plato (2)

plato1.jpg 

 

Translated by Benjamin Jowett

  

How you, O Athenians, have been affected by my accusers, I cannot tell; but

I know that they almost made me forget who I was–so persuasively did they

speak; and yet they have hardly uttered a word of truth.  But of the many

falsehoods told by them, there was one which quite amazed me;–I mean when

they said that you should be upon your guard and not allow yourselves to be

deceived by the force of my eloquence.  To say this, when they were certain

to be detected as soon as I opened my lips and proved myself to be anything

but a great speaker, did indeed appear to me most shameless–unless by the

force of eloquence they mean the force of truth; for is such is their

meaning, I admit that I am eloquent.  But in how different a way from

theirs!  Well, as I was saying, they have scarcely spoken the truth at all;

but from me you shall hear the whole truth:  not, however, delivered after

their manner in a set oration duly ornamented with words and phrases. No,

by heaven! but I shall use the words and arguments which occur to me at the

moment; for I am confident in the justice of my cause (Or, I am certain

that I am right in taking this course.):  at my time of life I ought not to

be appearing before you, O men of Athens, in the character of a juvenile

orator–let no one expect it of me.  And I must beg of you to grant me a

favour:–If I defend myself in my accustomed manner, and you hear me using

the words which I have been in the habit of using in the agora, at the

tables of the money-changers, or anywhere else, I would ask you not to be

surprised, and not to interrupt me on this account.  For I am more than

seventy years of age, and appearing now for the first time in a court of

law, I am quite a stranger to the language of the place; and therefore I

would have you regard me as if I were really a stranger, whom you would

excuse if he spoke in his native tongue, and after the fashion of his

country:–Am I making an unfair request of you?  Never mind the manner,

which may or may not be good; but think only of the truth of my words, and

give heed to that:  let the speaker speak truly and the judge decide

justly.

 

And first, I have to reply to the older charges and to my first accusers,

and then I will go on to the later ones.  For of old I have had many

accusers, who have accused me falsely to you during many years; and I am

more afraid of them than of Anytus and his associates, who are dangerous,

too, in their own way.  But far more dangerous are the others, who began

when you were children, and took possession of your minds with their

falsehoods, telling of one Socrates, a wise man, who speculated about the

heaven above, and searched into the earth beneath, and made the worse

appear the better cause.  The disseminators of this tale are the accusers

whom I dread; for their hearers are apt to fancy that such enquirers do not

believe in the existence of the gods.  And they are many, and their charges

against me are of ancient date, and they were made by them in the days when

you were more impressible than you are now–in childhood, or it may have

been in youth–and the cause when heard went by default, for there was none

to answer.  And hardest of all, I do not know and cannot tell the names of

my accusers; unless in the chance case of a Comic poet.  All who from envy

and malice have persuaded you–some of them having first convinced

themselves–all this class of men are most difficult to deal with; for I

cannot have them up here, and cross-examine them, and therefore I must

simply fight with shadows in my own defence, and argue when there is no one

who answers.  I will ask you then to assume with me, as I was saying, that

my opponents are of two kinds; one recent, the other ancient:  and I hope

that you will see the propriety of my answering the latter first, for these

accusations you heard long before the others, and much oftener.

 

Well, then, I must make my defence, and endeavour to clear away in a short

time, a slander which has lasted a long time.  May I succeed, if to succeed

be for my good and yours, or likely to avail me in my cause!  The task is

not an easy one; I quite understand the nature of it.  And so leaving the

event with God, in obedience to the law I will now make my defence.

 

I will begin at the beginning, and ask what is the accusation which has

given rise to the slander of me, and in fact has encouraged Meletus to

proof this charge against me.  Well, what do the slanderers say?  They

shall be my prosecutors, and I will sum up their words in an affidavit:

‘Socrates is an evil-doer, and a curious person, who searches into things

under the earth and in heaven, and he makes the worse appear the better

cause; and he teaches the aforesaid doctrines to others.’  Such is the

nature of the accusation:  it is just what you have yourselves seen in the

comedy of Aristophanes (Aristoph., Clouds.), who has introduced a man whom

he calls Socrates, going about and saying that he walks in air, and talking

a deal of nonsense concerning matters of which I do not pretend to know

either much or little–not that I mean to speak disparagingly of any one

who is a student of natural philosophy.  I should be very sorry if Meletus

could bring so grave a charge against me.  But the simple truth is, O

Athenians, that I have nothing to do with physical speculations.  Very many

of those here present are witnesses to the truth of this, and to them I

appeal.  Speak then, you who have heard me, and tell your neighbours

whether any of you have ever known me hold forth in few words or in many

upon such matters…You hear their answer.  And from what they say of this

part of the charge you will be able to judge of the truth of the rest.

 

As little foundation is there for the report that I am a teacher, and take

money; this accusation has no more truth in it than the other.  Although,

if a man were really able to instruct mankind, to receive money for giving

instruction would, in my opinion, be an honour to him.  There is Gorgias of

Leontium, and Prodicus of Ceos, and Hippias of Elis, who go the round of

the cities, and are able to persuade the young men to leave their own

citizens by whom they might be taught for nothing, and come to them whom

they not only pay, but are thankful if they may be allowed to pay them.

There is at this time a Parian philosopher residing in Athens, of whom I

have heard; and I came to hear of him in this way:–I came across a man who

has spent a world of money on the Sophists, Callias, the son of Hipponicus,

and knowing that he had sons, I asked him:  ‘Callias,’ I said, ‘if your two

sons were foals or calves, there would be no difficulty in finding some one

to put over them; we should hire a trainer of horses, or a farmer probably,

who would improve and perfect them in their own proper virtue and

excellence; but as they are human beings, whom are you thinking of placing

over them?  Is there any one who understands human and political virtue?

You must have thought about the matter, for you have sons; is there any

one?’  ‘There is,’ he said.  ‘Who is he?’ said I; ‘and of what country? and

what does he charge?’  ‘Evenus the Parian,’ he replied; ‘he is the man, and

his charge is five minae.’  Happy is Evenus, I said to myself, if he really

has this wisdom, and teaches at such a moderate charge.  Had I the same, I

should have been very proud and conceited; but the truth is that I have no

knowledge of the kind.

 

I dare say, Athenians, that some one among you will reply, ‘Yes, Socrates,

but what is the origin of these accusations which are brought against you;

there must have been something strange which you have been doing?  All

these rumours and this talk about you would never have arisen if you had

been like other men:  tell us, then, what is the cause of them, for we

should be sorry to judge hastily of you.’  Now I regard this as a fair

challenge, and I will endeavour to explain to you the reason why I am

called wise and have such an evil fame.  Please to attend then.  And

although some of you may think that I am joking, I declare that I will tell

you the entire truth.  Men of Athens, this reputation of mine has come of a

certain sort of wisdom which I possess.  If you ask me what kind of wisdom,

I reply, wisdom such as may perhaps be attained by man, for to that extent

I am inclined to believe that I am wise; whereas the persons of whom I was

speaking have a superhuman wisdom which I may fail to describe, because I

have it not myself; and he who says that I have, speaks falsely, and is

taking away my character.  And here, O men of Athens, I must beg you not to

interrupt me, even if I seem to say something extravagant.  For the word

which I will speak is not mine.  I will refer you to a witness who is

worthy of credit; that witness shall be the God of Delphi–he will tell you

about my wisdom, if I have any, and of what sort it is.  You must have

known Chaerephon; he was early a friend of mine, and also a friend of

yours, for he shared in the recent exile of the people, and returned with

you.  Well, Chaerephon, as you know, was very impetuous in all his doings,

and he went to Delphi and boldly asked the oracle to tell him whether–as I

was saying, I must beg you not to interrupt–he asked the oracle to tell

him whether anyone was wiser than I was, and the Pythian prophetess

answered, that there was no man wiser.  Chaerephon is dead himself; but his

brother, who is in court, will confirm the truth of what I am saying.

 

Why do I mention this?  Because I am going to explain to you why I have

such an evil name.  When I heard the answer, I said to myself, What can the

god mean? and what is the interpretation of his riddle? for I know that I

have no wisdom, small or great.  What then can he mean when he says that I

am the wisest of men?  And yet he is a god, and cannot lie; that would be

against his nature.  After long consideration, I thought of a method of

trying the question.  I reflected that if I could only find a man wiser

than myself, then I might go to the god with a refutation in my hand.  I

should say to him, ‘Here is a man who is wiser than I am; but you said that

I was the wisest.’  Accordingly I went to one who had the reputation of

wisdom, and observed him–his name I need not mention; he was a politician

whom I selected for examination–and the result was as follows:  When I

began to talk with him, I could not help thinking that he was not really

wise, although he was thought wise by many, and still wiser by himself; and

thereupon I tried to explain to him that he thought himself wise, but was

not really wise; and the consequence was that he hated me, and his enmity

was shared by several who were present and heard me.  So I left him, saying

to myself, as I went away:  Well, although I do not suppose that either of

us knows anything really beautiful and good, I am better off than he is,–

for he knows nothing, and thinks that he knows; I neither know nor think

that I know.  In this latter particular, then, I seem to have slightly the

advantage of him.  Then I went to another who had still higher pretensions

to wisdom, and my conclusion was exactly the same.  Whereupon I made

another enemy of him, and of many others besides him.

 

Then I went to one man after another, being not unconscious of the enmity

which I provoked, and I lamented and feared this:  but necessity was laid

upon me,–the word of God, I thought, ought to be considered first.  And I

said to myself, Go I must to all who appear to know, and find out the

meaning of the oracle.  And I swear to you, Athenians, by the dog I swear!

–for I must tell you the truth–the result of my mission was just this:  I

found that the men most in repute were all but the most foolish; and that

others less esteemed were really wiser and better.  I will tell you the

tale of my wanderings and of the ‘Herculean’ labours, as I may call them,

which I endured only to find at last the oracle irrefutable.  After the

politicians, I went to the poets; tragic, dithyrambic, and all sorts.  And

there, I said to myself, you will be instantly detected; now you will find

out that you are more ignorant than they are.  Accordingly, I took them

some of the most elaborate passages in their own writings, and asked what

was the meaning of them–thinking that they would teach me something.  Will

you believe me?  I am almost ashamed to confess the truth, but I must say

that there is hardly a person present who would not have talked better

about their poetry than they did themselves.  Then I knew that not by

wisdom do poets write poetry, but by a sort of genius and inspiration; they

are like diviners or soothsayers who also say many fine things, but do not

understand the meaning of them.  The poets appeared to me to be much in the

same case; and I further observed that upon the strength of their poetry

they believed themselves to be the wisest of men in other things in which

they were not wise.  So I departed, conceiving myself to be superior to

them for the same reason that I was superior to the politicians.

 

At last I went to the artisans.  I was conscious that I knew nothing at

all, as I may say, and I was sure that they knew many fine things; and here

I was not mistaken, for they did know many things of which I was ignorant,

and in this they certainly were wiser than I was.  But I observed that even

the good artisans fell into the same error as the poets;–because they were

good workmen they thought that they also knew all sorts of high matters,

and this defect in them overshadowed their wisdom; and therefore I asked

myself on behalf of the oracle, whether I would like to be as I was,

neither having their knowledge nor their ignorance, or like them in both;

and I made answer to myself and to the oracle that I was better off as I

was.

 

This inquisition has led to my having many enemies of the worst and most

dangerous kind, and has given occasion also to many calumnies.  And I am

called wise, for my hearers always imagine that I myself possess the wisdom

which I find wanting in others:  but the truth is, O men of Athens, that

God only is wise; and by his answer he intends to show that the wisdom of

men is worth little or nothing; he is not speaking of Socrates, he is only

using my name by way of illustration, as if he said, He, O men, is the

wisest, who, like Socrates, knows that his wisdom is in truth worth

nothing.  And so I go about the world, obedient to the god, and search and

make enquiry into the wisdom of any one, whether citizen or stranger, who

appears to be wise; and if he is not wise, then in vindication of the

oracle I show him that he is not wise; and my occupation quite absorbs me,

and I have no time to give either to any public matter of interest or to

any concern of my own, but I am in utter poverty by reason of my devotion

to the god.

 

There is another thing:–young men of the richer classes, who have not much

to do, come about me of their own accord; they like to hear the pretenders

examined, and they often imitate me, and proceed to examine others; there

are plenty of persons, as they quickly discover, who think that they know

something, but really know little or nothing; and then those who are

examined by them instead of being angry with themselves are angry with me:

This confounded Socrates, they say; this villainous misleader of youth!–

and then if somebody asks them, Why, what evil does he practise or teach?

they do not know, and cannot tell; but in order that they may not appear to

be at a loss, they repeat the ready-made charges which are used against all

philosophers about teaching things up in the clouds and under the earth,

and having no gods, and making the worse appear the better cause; for they

do not like to confess that their pretence of knowledge has been detected–

which is the truth; and as they are numerous and ambitious and energetic,

and are drawn up in battle array and have persuasive tongues, they have

filled your ears with their loud and inveterate calumnies.  And this is the

reason why my three accusers, Meletus and Anytus and Lycon, have set upon

me; Meletus, who has a quarrel with me on behalf of the poets; Anytus, on

behalf of the craftsmen and politicians; Lycon, on behalf of the

rhetoricians:  and as I said at the beginning, I cannot expect to get rid

of such a mass of calumny all in a moment.  And this, O men of Athens, is

the truth and the whole truth; I have concealed nothing, I have dissembled

nothing.  And yet, I know that my plainness of speech makes them hate me,

and what is their hatred but a proof that I am speaking the truth?–Hence

has arisen the prejudice against me; and this is the reason of it, as you

will find out either in this or in any future enquiry.

 

I have said enough in my defence against the first class of my accusers; I

turn to the second class.  They are headed by Meletus, that good man and

true lover of his country, as he calls himself.  Against these, too, I must

try to make a defence:–Let their affidavit be read:  it contains something

of this kind:  It says that Socrates is a doer of evil, who corrupts the

youth; and who does not believe in the gods of the state, but has other new

divinities of his own.  Such is the charge; and now let us examine the

particular counts.  He says that I am a doer of evil, and corrupt the

youth; but I say, O men of Athens, that Meletus is a doer of evil, in that

he pretends to be in earnest when he is only in jest, and is so eager to

bring men to trial from a pretended zeal and interest about matters in

which he really never had the smallest interest.  And the truth of this I

will endeavour to prove to you.

 

Come hither, Meletus, and let me ask a question of you.  You think a great

deal about the improvement of youth?

 

Yes, I do.

 

Tell the judges, then, who is their improver; for you must know, as you

have taken the pains to discover their corrupter, and are citing and

accusing me before them.  Speak, then, and tell the judges who their

improver is.–Observe, Meletus, that you are silent, and have nothing to

say.  But is not this rather disgraceful, and a very considerable proof of

what I was saying, that you have no interest in the matter?  Speak up,

friend, and tell us who their improver is.

 

The laws.

 

But that, my good sir, is not my meaning.  I want to know who the person

is, who, in the first place, knows the laws.

 

The judges, Socrates, who are present in court.

 

What, do you mean to say, Meletus, that they are able to instruct and

improve youth?

 

Certainly they are.

 

What, all of them, or some only and not others?

 

All of them.

 

By the goddess Here, that is good news!  There are plenty of improvers,

then.  And what do you say of the audience,–do they improve them?

 

Yes, they do.

 

And the senators?

 

Yes, the senators improve them.

 

But perhaps the members of the assembly corrupt them?–or do they too

improve them?

 

They improve them.

 

Then every Athenian improves and elevates them; all with the exception of

myself; and I alone am their corrupter?  Is that what you affirm?

 

That is what I stoutly affirm.

 

I am very unfortunate if you are right.  But suppose I ask you a question:

How about horses?  Does one man do them harm and all the world good?  Is

not the exact opposite the truth?  One man is able to do them good, or at

least not many;–the trainer of horses, that is to say, does them good, and

others who have to do with them rather injure them?  Is not that true,

Meletus, of horses, or of any other animals?  Most assuredly it is; whether

you and Anytus say yes or no.  Happy indeed would be the condition of youth

if they had one corrupter only, and all the rest of the world were their

improvers.  But you, Meletus, have sufficiently shown that you never had a

thought about the young:  your carelessness is seen in your not caring

about the very things which you bring against me.

 

And now, Meletus, I will ask you another question–by Zeus I will:  Which

is better, to live among bad citizens, or among good ones?  Answer, friend,

I say; the question is one which may be easily answered.  Do not the good

do their neighbours good, and the bad do them evil?

 

Certainly.

 

And is there anyone who would rather be injured than benefited by those who

live with him?  Answer, my good friend, the law requires you to answer–

does any one like to be injured?

 

Certainly not.

 

And when you accuse me of corrupting and deteriorating the youth, do you

allege that I corrupt them intentionally or unintentionally?

 

Intentionally, I say.

 

But you have just admitted that the good do their neighbours good, and the

evil do them evil.  Now, is that a truth which your superior wisdom has

recognized thus early in life, and am I, at my age, in such darkness and

ignorance as not to know that if a man with whom I have to live is

corrupted by me, I am very likely to be harmed by him; and yet I corrupt

him, and intentionally, too–so you say, although neither I nor any other

human being is ever likely to be convinced by you.  But either I do not

corrupt them, or I corrupt them unintentionally; and on either view of the

case you lie.  If my offence is unintentional, the law has no cognizance of

unintentional offences: you ought to have taken me privately, and warned

and admonished me; for if I had been better advised, I should have left off

doing what I only did unintentionally–no doubt I should; but you would

have nothing to say to me and refused to teach me.  And now you bring me up

in this court, which is a place not of instruction, but of punishment.

 

It will be very clear to you, Athenians, as I was saying, that Meletus has

no care at all, great or small, about the matter.  But still I should like

to know, Meletus, in what I am affirmed to corrupt the young.  I suppose

you mean, as I infer from your indictment, that I teach them not to

acknowledge the gods which the state acknowledges, but some other new

divinities or spiritual agencies in their stead.  These are the lessons by

which I corrupt the youth, as you say.

 

Yes, that I say emphatically.

 

Then, by the gods, Meletus, of whom we are speaking, tell me and the court,

in somewhat plainer terms, what you mean! for I do not as yet understand

whether you affirm that I teach other men to acknowledge some gods, and

therefore that I do believe in gods, and am not an entire atheist–this you

do not lay to my charge,–but only you say that they are not the same gods

which the city recognizes–the charge is that they are different gods.  Or,

do you mean that I am an atheist simply, and a teacher of atheism?

 

I mean the latter–that you are a complete atheist.

 

What an extraordinary statement!  Why do you think so, Meletus?  Do you

mean that I do not believe in the godhead of the sun or moon, like other

men?

 

I assure you, judges, that he does not:  for he says that the sun is stone,

and the moon earth.

 

Friend Meletus, you think that you are accusing Anaxagoras:  and you have

but a bad opinion of the judges, if you fancy them illiterate to such a

degree as not to know that these doctrines are found in the books of

Anaxagoras the Clazomenian, which are full of them.  And so, forsooth, the

youth are said to be taught them by Socrates, when there are not

unfrequently exhibitions of them at the theatre (Probably in allusion to

Aristophanes who caricatured, and to Euripides who borrowed the notions of

Anaxagoras, as well as to other dramatic poets.) (price of admission one

drachma at the most); and they might pay their money, and laugh at Socrates

if he pretends to father these extraordinary views.  And so, Meletus, you

really think that I do not believe in any god?

 

I swear by Zeus that you believe absolutely in none at all.

 

Nobody will believe you, Meletus, and I am pretty sure that you do not

believe yourself.  I cannot help thinking, men of Athens, that Meletus is

reckless and impudent, and that he has written this indictment in a spirit

of mere wantonness and youthful bravado.  Has he not compounded a riddle,

thinking to try me?  He said to himself:–I shall see whether the wise

Socrates will discover my facetious contradiction, or whether I shall be

able to deceive him and the rest of them.  For he certainly does appear to

me to contradict himself in the indictment as much as if he said that

Socrates is guilty of not believing in the gods, and yet of believing in

them–but this is not like a person who is in earnest.

 

I should like you, O men of Athens, to join me in examining what I conceive

to be his inconsistency; and do you, Meletus, answer.  And I must remind

the audience of my request that they would not make a disturbance if I

speak in my accustomed manner:

 

Did ever man, Meletus, believe in the existence of human things, and not of

human beings?…I wish, men of Athens, that he would answer, and not be

always trying to get up an interruption.  Did ever any man believe in

horsemanship, and not in horses? or in flute-playing, and not in flute-

players?  No, my friend; I will answer to you and to the court, as you

refuse to answer for yourself.  There is no man who ever did.  But now

please to answer the next question:  Can a man believe in spiritual and

divine agencies, and not in spirits or demigods?

 

He cannot.

 

How lucky I am to have extracted that answer, by the assistance of the

court!  But then you swear in the indictment that I teach and believe in

divine or spiritual agencies (new or old, no matter for that); at any rate,

I believe in spiritual agencies,–so you say and swear in the affidavit;

and yet if I believe in divine beings, how can I help believing in spirits

or demigods;–must I not?  To be sure I must; and therefore I may assume

that your silence gives consent.  Now what are spirits or demigods?  Are

they not either gods or the sons of gods?

 

Certainly they are.

 

But this is what I call the facetious riddle invented by you:  the demigods

or spirits are gods, and you say first that I do not believe in gods, and

then again that I do believe in gods; that is, if I believe in demigods.

For if the demigods are the illegitimate sons of gods, whether by the

nymphs or by any other mothers, of whom they are said to be the sons–what

human being will ever believe that there are no gods if they are the sons

of gods?  You might as well affirm the existence of mules, and deny that of

horses and asses.  Such nonsense, Meletus, could only have been intended by

you to make trial of me.  You have put this into the indictment because you

had nothing real of which to accuse me.  But no one who has a particle of

understanding will ever be convinced by you that the same men can believe

in divine and superhuman things, and yet not believe that there are gods

and demigods and heroes.

 

I have said enough in answer to the charge of Meletus:  any elaborate

defence is unnecessary, but I know only too well how many are the enmities

which I have incurred, and this is what will be my destruction if I am

destroyed;–not Meletus, nor yet Anytus, but the envy and detraction of the

world, which has been the death of many good men, and will probably be the

death of many more; there is no danger of my being the last of them.

 

Some one will say:  And are you not ashamed, Socrates, of a course of life

which is likely to bring you to an untimely end?  To him I may fairly

answer:  There you are mistaken:  a man who is good for anything ought not

to calculate the chance of living or dying; he ought only to consider

whether in doing anything he is doing right or wrong–acting the part of a

good man or of a bad.  Whereas, upon your view, the heroes who fell at Troy

were not good for much, and the son of Thetis above all, who altogether

despised danger in comparison with disgrace; and when he was so eager to

slay Hector, his goddess mother said to him, that if he avenged his

companion Patroclus, and slew Hector, he would die himself–‘Fate,’ she

said, in these or the like words, ‘waits for you next after Hector;’ he,

receiving this warning, utterly despised danger and death, and instead of

fearing them, feared rather to live in dishonour, and not to avenge his

friend.  ‘Let me die forthwith,’ he replies, ‘and be avenged of my enemy,

rather than abide here by the beaked ships, a laughing-stock and a burden

of the earth.’  Had Achilles any thought of death and danger?  For wherever

a man’s place is, whether the place which he has chosen or that in which he

has been placed by a commander, there he ought to remain in the hour of

danger; he should not think of death or of anything but of disgrace.  And

this, O men of Athens, is a true saying.

 

Strange, indeed, would be my conduct, O men of Athens, if I who, when I was

ordered by the generals whom you chose to command me at Potidaea and

Amphipolis and Delium, remained where they placed me, like any other man,

facing death–if now, when, as I conceive and imagine, God orders me to

fulfil the philosopher’s mission of searching into myself and other men, I

were to desert my post through fear of death, or any other fear; that would

indeed be strange, and I might justly be arraigned in court for denying the

existence of the gods, if I disobeyed the oracle because I was afraid of

death, fancying that I was wise when I was not wise.  For the fear of death

is indeed the pretence of wisdom, and not real wisdom, being a pretence of

knowing the unknown; and no one knows whether death, which men in their

fear apprehend to be the greatest evil, may not be the greatest good.  Is

not this ignorance of a disgraceful sort, the ignorance which is the

conceit that a man knows what he does not know?  And in this respect only I

believe myself to differ from men in general, and may perhaps claim to be

wiser than they are:–that whereas I know but little of the world below, I

do not suppose that I know:  but I do know that injustice and disobedience

to a better, whether God or man, is evil and dishonourable, and I will

never fear or avoid a possible good rather than a certain evil.  And

therefore if you let me go now, and are not convinced by Anytus, who said

that since I had been prosecuted I must be put to death; (or if not that I

ought never to have been prosecuted at all); and that if I escape now, your

sons will all be utterly ruined by listening to my words–if you say to me,

Socrates, this time we will not mind Anytus, and you shall be let off, but

upon one condition, that you are not to enquire and speculate in this way

any more, and that if you are caught doing so again you shall die;–if this

was the condition on which you let me go, I should reply:  Men of Athens, I

honour and love you; but I shall obey God rather than you, and while I have

life and strength I shall never cease from the practice and teaching of

philosophy, exhorting any one whom I meet and saying to him after my

manner:  You, my friend,–a citizen of the great and mighty and wise city

of Athens,–are you not ashamed of heaping up the greatest amount of money

and honour and reputation, and caring so little about wisdom and truth and

the greatest improvement of the soul, which you never regard or heed at

all?  And if the person with whom I am arguing, says:  Yes, but I do care;

then I do not leave him or let him go at once; but I proceed to interrogate

and examine and cross-examine him, and if I think that he has no virtue in

him, but only says that he has, I reproach him with undervaluing the

greater, and overvaluing the less.  And I shall repeat the same words to

every one whom I meet, young and old, citizen and alien, but especially to

the citizens, inasmuch as they are my brethren.  For know that this is the

command of God; and I believe that no greater good has ever happened in the

state than my service to the God.  For I do nothing but go about persuading

you all, old and young alike, not to take thought for your persons or your

properties, but first and chiefly to care about the greatest improvement of

the soul.  I tell you that virtue is not given by money, but that from

virtue comes money and every other good of man, public as well as private.

This is my teaching, and if this is the doctrine which corrupts the youth,

I am a mischievous person.  But if any one says that this is not my

teaching, he is speaking an untruth.  Wherefore, O men of Athens, I say to

you, do as Anytus bids or not as Anytus bids, and either acquit me or not;

but whichever you do, understand that I shall never alter my ways, not even

if I have to die many times.

 

Men of Athens, do not interrupt, but hear me; there was an understanding

between us that you should hear me to the end:  I have something more to

say, at which you may be inclined to cry out; but I believe that to hear me

will be good for you, and therefore I beg that you will not cry out.  I

would have you know, that if you kill such an one as I am, you will injure

yourselves more than you will injure me.  Nothing will injure me, not

Meletus nor yet Anytus–they cannot, for a bad man is not permitted to

injure a better than himself.  I do not deny that Anytus may, perhaps, kill

him, or drive him into exile, or deprive him of civil rights; and he may

imagine, and others may imagine, that he is inflicting a great injury upon

him:  but there I do not agree.  For the evil of doing as he is doing–the

evil of unjustly taking away the life of another–is greater far.

 

And now, Athenians, I am not going to argue for my own sake, as you may

think, but for yours, that you may not sin against the God by condemning

me, who am his gift to you.  For if you kill me you will not easily find a

successor to me, who, if I may use such a ludicrous figure of speech, am a

sort of gadfly, given to the state by God; and the state is a great and

noble steed who is tardy in his motions owing to his very size, and

requires to be stirred into life.  I am that gadfly which God has attached

to the state, and all day long and in all places am always fastening upon

you, arousing and persuading and reproaching you.  You will not easily find

another like me, and therefore I would advise you to spare me.  I dare say

that you may feel out of temper (like a person who is suddenly awakened

from sleep), and you think that you might easily strike me dead as Anytus

advises, and then you would sleep on for the remainder of your lives,

unless God in his care of you sent you another gadfly.  When I say that I

am given to you by God, the proof of my mission is this:–if I had been

like other men, I should not have neglected all my own concerns or

patiently seen the neglect of them during all these years, and have been

doing yours, coming to you individually like a father or elder brother,

exhorting you to regard virtue; such conduct, I say, would be unlike human

nature.  If I had gained anything, or if my exhortations had been paid,

there would have been some sense in my doing so; but now, as you will

perceive, not even the impudence of my accusers dares to say that I have

ever exacted or sought pay of any one; of that they have no witness.  And I

have a sufficient witness to the truth of what I say–my poverty.

 

Some one may wonder why I go about in private giving advice and busying

myself with the concerns of others, but do not venture to come forward in

public and advise the state.  I will tell you why.  You have heard me speak

at sundry times and in divers places of an oracle or sign which comes to

me, and is the divinity which Meletus ridicules in the indictment.  This

sign, which is a kind of voice, first began to come to me when I was a

child; it always forbids but never commands me to do anything which I am

going to do.  This is what deters me from being a politician.  And rightly,

as I think.  For I am certain, O men of Athens, that if I had engaged in

politics, I should have perished long ago, and done no good either to you

or to myself.  And do not be offended at my telling you the truth:  for the

truth is, that no man who goes to war with you or any other multitude,

honestly striving against the many lawless and unrighteous deeds which are

done in a state, will save his life; he who will fight for the right, if he

would live even for a brief space, must have a private station and not a

public one.

 

I can give you convincing evidence of what I say, not words only, but what

you value far more–actions.  Let me relate to you a passage of my own life

which will prove to you that I should never have yielded to injustice from

any fear of death, and that ‘as I should have refused to yield’ I must have

died at once.  I will tell you a tale of the courts, not very interesting

perhaps, but nevertheless true.  The only office of state which I ever

held, O men of Athens, was that of senator:  the tribe Antiochis, which is

my tribe, had the presidency at the trial of the generals who had not taken

up the bodies of the slain after the battle of Arginusae; and you proposed

to try them in a body, contrary to law, as you all thought afterwards; but

at the time I was the only one of the Prytanes who was opposed to the

illegality, and I gave my vote against you; and when the orators threatened

to impeach and arrest me, and you called and shouted, I made up my mind

that I would run the risk, having law and justice with me, rather than take

part in your injustice because I feared imprisonment and death.  This

happened in the days of the democracy.  But when the oligarchy of the

Thirty was in power, they sent for me and four others into the rotunda, and

bade us bring Leon the Salaminian from Salamis, as they wanted to put him

to death.  This was a specimen of the sort of commands which they were

always giving with the view of implicating as many as possible in their

crimes; and then I showed, not in word only but in deed, that, if I may be

allowed to use such an expression, I cared not a straw for death, and that

my great and only care was lest I should do an unrighteous or unholy thing.

For the strong arm of that oppressive power did not frighten me into doing

wrong; and when we came out of the rotunda the other four went to Salamis

and fetched Leon, but I went quietly home.  For which I might have lost my

life, had not the power of the Thirty shortly afterwards come to an end.

And many will witness to my words.

 

Now do you really imagine that I could have survived all these years, if I

had led a public life, supposing that like a good man I had always

maintained the right and had made justice, as I ought, the first thing?  No

indeed, men of Athens, neither I nor any other man.  But I have been always

the same in all my actions, public as well as private, and never have I

yielded any base compliance to those who are slanderously termed my

disciples, or to any other.  Not that I have any regular disciples.  But if

any one likes to come and hear me while I am pursuing my mission, whether

he be young or old, he is not excluded.  Nor do I converse only with those

who pay; but any one, whether he be rich or poor, may ask and answer me and

listen to my words; and whether he turns out to be a bad man or a good one,

neither result can be justly imputed to me; for I never taught or professed

to teach him anything.  And if any one says that he has ever learned or

heard anything from me in private which all the world has not heard, let me

tell you that he is lying.

 

But I shall be asked, Why do people delight in continually conversing with

you?  I have told you already, Athenians, the whole truth about this

matter:  they like to hear the cross-examination of the pretenders to

wisdom; there is amusement in it.  Now this duty of cross-examining other

men has been imposed upon me by God; and has been signified to me by

oracles, visions, and in every way in which the will of divine power was

ever intimated to any one.  This is true, O Athenians, or, if not true,

would be soon refuted.  If I am or have been corrupting the youth, those of

them who are now grown up and have become sensible that I gave them bad

advice in the days of their youth should come forward as accusers, and take

their revenge; or if they do not like to come themselves, some of their

relatives, fathers, brothers, or other kinsmen, should say what evil their

families have suffered at my hands.  Now is their time.  Many of them I see

in the court.  There is Crito, who is of the same age and of the same deme

with myself, and there is Critobulus his son, whom I also see.  Then again

there is Lysanias of Sphettus, who is the father of Aeschines–he is

present; and also there is Antiphon of Cephisus, who is the father of

Epigenes; and there are the brothers of several who have associated with

me.  There is Nicostratus the son of Theosdotides, and the brother of

Theodotus (now Theodotus himself is dead, and therefore he, at any rate,

will not seek to stop him); and there is Paralus the son of Demodocus, who

had a brother Theages; and Adeimantus the son of Ariston, whose brother

Plato is present; and Aeantodorus, who is the brother of Apollodorus, whom

I also see.  I might mention a great many others, some of whom Meletus

should have produced as witnesses in the course of his speech; and let him

still produce them, if he has forgotten–I will make way for him.  And let

him say, if he has any testimony of the sort which he can produce.  Nay,

Athenians, the very opposite is the truth.  For all these are ready to

witness on behalf of the corrupter, of the injurer of their kindred, as

Meletus and Anytus call me; not the corrupted youth only–there might have

been a motive for that–but their uncorrupted elder relatives.  Why should

they too support me with their testimony?  Why, indeed, except for the sake

of truth and justice, and because they know that I am speaking the truth,

and that Meletus is a liar.

 

Well, Athenians, this and the like of this is all the defence which I have

to offer.  Yet a word more.  Perhaps there may be some one who is offended

at me, when he calls to mind how he himself on a similar, or even a less

serious occasion, prayed and entreated the judges with many tears, and how

he produced his children in court, which was a moving spectacle, together

with a host of relations and friends; whereas I, who am probably in danger

of my life, will do none of these things.  The contrast may occur to his

mind, and he may be set against me, and vote in anger because he is

displeased at me on this account.  Now if there be such a person among

you,–mind, I do not say that there is,–to him I may fairly reply:  My

friend, I am a man, and like other men, a creature of flesh and blood, and

not ‘of wood or stone,’ as Homer says; and I have a family, yes, and sons,

O Athenians, three in number, one almost a man, and two others who are

still young; and yet I will not bring any of them hither in order to

petition you for an acquittal.  And why not?  Not from any self-assertion

or want of respect for you.  Whether I am or am not afraid of death is

another question, of which I will not now speak.  But, having regard to

public opinion, I feel that such conduct would be discreditable to myself,

and to you, and to the whole state.  One who has reached my years, and who

has a name for wisdom, ought not to demean himself.  Whether this opinion

of me be deserved or not, at any rate the world has decided that Socrates

is in some way superior to other men.  And if those among you who are said

to be superior in wisdom and courage, and any other virtue, demean

themselves in this way, how shameful is their conduct!  I have seen men of

reputation, when they have been condemned, behaving in the strangest

manner:  they seemed to fancy that they were going to suffer something

dreadful if they died, and that they could be immortal if you only allowed

them to live; and I think that such are a dishonour to the state, and that

any stranger coming in would have said of them that the most eminent men of

Athens, to whom the Athenians themselves give honour and command, are no

better than women.  And I say that these things ought not to be done by

those of us who have a reputation; and if they are done, you ought not to

permit them; you ought rather to show that you are far more disposed to

condemn the man who gets up a doleful scene and makes the city ridiculous,

than him who holds his peace.

 

But, setting aside the question of public opinion, there seems to be

something wrong in asking a favour of a judge, and thus procuring an

acquittal, instead of informing and convincing him.  For his duty is, not

to make a present of justice, but to give judgment; and he has sworn that

he will judge according to the laws, and not according to his own good

pleasure; and we ought not to encourage you, nor should you allow

yourselves to be encouraged, in this habit of perjury–there can be no

piety in that.  Do not then require me to do what I consider dishonourable

and impious and wrong, especially now, when I am being tried for impiety on

the indictment of Meletus.  For if, O men of Athens, by force of persuasion

and entreaty I could overpower your oaths, then I should be teaching you to

believe that there are no gods, and in defending should simply convict

myself of the charge of not believing in them.  But that is not so–far

otherwise.  For I do believe that there are gods, and in a sense higher

than that in which any of my accusers believe in them.  And to you and to

God I commit my cause, to be determined by you as is best for you and me.

 

 

There are many reasons why I am not grieved, O men of Athens, at the vote

of condemnation.  I expected it, and am only surprised that the votes are

so nearly equal; for I had thought that the majority against me would have

been far larger; but now, had thirty votes gone over to the other side, I

should have been acquitted.  And I may say, I think, that I have escaped

Meletus.  I may say more; for without the assistance of Anytus and Lycon,

any one may see that he would not have had a fifth part of the votes, as

the law requires, in which case he would have incurred a fine of a thousand

drachmae.

 

And so he proposes death as the penalty.  And what shall I propose on my

part, O men of Athens?  Clearly that which is my due.  And what is my due?

What return shall be made to the man who has never had the wit to be idle

during his whole life; but has been careless of what the many care for–

wealth, and family interests, and military offices, and speaking in the

assembly, and magistracies, and plots, and parties.  Reflecting that I was

really too honest a man to be a politician and live, I did not go where I

could do no good to you or to myself; but where I could do the greatest

good privately to every one of you, thither I went, and sought to persuade

every man among you that he must look to himself, and seek virtue and

wisdom before he looks to his private interests, and look to the state

before he looks to the interests of the state; and that this should be the

order which he observes in all his actions.  What shall be done to such an

one?  Doubtless some good thing, O men of Athens, if he has his reward; and

the good should be of a kind suitable to him.  What would be a reward

suitable to a poor man who is your benefactor, and who desires leisure that

he may instruct you?  There can be no reward so fitting as maintenance in

the Prytaneum, O men of Athens, a reward which he deserves far more than

the citizen who has won the prize at Olympia in the horse or chariot race,

whether the chariots were drawn by two horses or by many.  For I am in

want, and he has enough; and he only gives you the appearance of happiness,

and I give you the reality.  And if I am to estimate the penalty fairly, I

should say that maintenance in the Prytaneum is the just return.

 

Perhaps you think that I am braving you in what I am saying now, as in what

I said before about the tears and prayers.  But this is not so.  I speak

rather because I am convinced that I never intentionally wronged any one,

although I cannot convince you–the time has been too short; if there were

a law at Athens, as there is in other cities, that a capital cause should

not be decided in one day, then I believe that I should have convinced you.

But I cannot in a moment refute great slanders; and, as I am convinced that

I never wronged another, I will assuredly not wrong myself.  I will not say

of myself that I deserve any evil, or propose any penalty.  Why should I?

because I am afraid of the penalty of death which Meletus proposes?  When I

do not know whether death is a good or an evil, why should I propose a

penalty which would certainly be an evil?  Shall I say imprisonment?  And

why should I live in prison, and be the slave of the magistrates of the

year–of the Eleven?  Or shall the penalty be a fine, and imprisonment

until the fine is paid?  There is the same objection.  I should have to lie

in prison, for money I have none, and cannot pay.  And if I say exile (and

this may possibly be the penalty which you will affix), I must indeed be

blinded by the love of life, if I am so irrational as to expect that when

you, who are my own citizens, cannot endure my discourses and words, and

have found them so grievous and odious that you will have no more of them,

others are likely to endure me.  No indeed, men of Athens, that is not very

likely.  And what a life should I lead, at my age, wandering from city to

city, ever changing my place of exile, and always being driven out!  For I

am quite sure that wherever I go, there, as here, the young men will flock

to me; and if I drive them away, their elders will drive me out at their

request; and if I let them come, their fathers and friends will drive me

out for their sakes.

 

Some one will say:  Yes, Socrates, but cannot you hold your tongue, and

then you may go into a foreign city, and no one will interfere with you?

Now I have great difficulty in making you understand my answer to this.

For if I tell you that to do as you say would be a disobedience to the God,

and therefore that I cannot hold my tongue, you will not believe that I am

serious; and if I say again that daily to discourse about virtue, and of

those other things about which you hear me examining myself and others, is

the greatest good of man, and that the unexamined life is not worth living,

you are still less likely to believe me.  Yet I say what is true, although

a thing of which it is hard for me to persuade you.  Also, I have never

been accustomed to think that I deserve to suffer any harm.  Had I money I

might have estimated the offence at what I was able to pay, and not have

been much the worse.  But I have none, and therefore I must ask you to

proportion the fine to my means.  Well, perhaps I could afford a mina, and

therefore I propose that penalty:  Plato, Crito, Critobulus, and

Apollodorus, my friends here, bid me say thirty minae, and they will be the

sureties.  Let thirty minae be the penalty; for which sum they will be

ample security to you.

 

 

Not much time will be gained, O Athenians, in return for the evil name

which you will get from the detractors of the city, who will say that you

killed Socrates, a wise man; for they will call me wise, even although I am

not wise, when they want to reproach you.  If you had waited a little

while, your desire would have been fulfilled in the course of nature.  For

I am far advanced in years, as you may perceive, and not far from death.  I

am speaking now not to all of you, but only to those who have condemned me

to death.  And I have another thing to say to them:  you think that I was

convicted because I had no words of the sort which would have procured my

acquittal–I mean, if I had thought fit to leave nothing undone or unsaid.

Not so; the deficiency which led to my conviction was not of words–

certainly not.  But I had not the boldness or impudence or inclination to

address you as you would have liked me to do, weeping and wailing and

lamenting, and saying and doing many things which you have been accustomed

to hear from others, and which, as I maintain, are unworthy of me.  I

thought at the time that I ought not to do anything common or mean when in

danger:  nor do I now repent of the style of my defence; I would rather die

having spoken after my manner, than speak in your manner and live.  For

neither in war nor yet at law ought I or any man to use every way of

escaping death.  Often in battle there can be no doubt that if a man will

throw away his arms, and fall on his knees before his pursuers, he may

escape death; and in other dangers there are other ways of escaping death,

if a man is willing to say and do anything.  The difficulty, my friends, is

not to avoid death, but to avoid unrighteousness; for that runs faster than

death.  I am old and move slowly, and the slower runner has overtaken me,

and my accusers are keen and quick, and the faster runner, who is

unrighteousness, has overtaken them.  And now I depart hence condemned by

you to suffer the penalty of death,–they too go their ways condemned by

the truth to suffer the penalty of villainy and wrong; and I must abide by

my award–let them abide by theirs.  I suppose that these things may be

regarded as fated,–and I think that they are well.

 

And now, O men who have condemned me, I would fain prophesy to you; for I

am about to die, and in the hour of death men are gifted with prophetic

power.  And I prophesy to you who are my murderers, that immediately after

my departure punishment far heavier than you have inflicted on me will

surely await you.  Me you have killed because you wanted to escape the

accuser, and not to give an account of your lives.  But that will not be as

you suppose:  far otherwise.  For I say that there will be more accusers of

you than there are now; accusers whom hitherto I have restrained:  and as

they are younger they will be more inconsiderate with you, and you will be

more offended at them.  If you think that by killing men you can prevent

some one from censuring your evil lives, you are mistaken; that is not a

way of escape which is either possible or honourable; the easiest and the

noblest way is not to be disabling others, but to be improving yourselves.

This is the prophecy which I utter before my departure to the judges who

have condemned me.

 

Friends, who would have acquitted me, I would like also to talk with you

about the thing which has come to pass, while the magistrates are busy, and

before I go to the place at which I must die.  Stay then a little, for we

may as well talk with one another while there is time.  You are my friends,

and I should like to show you the meaning of this event which has happened

to me.  O my judges–for you I may truly call judges–I should like to tell

you of a wonderful circumstance.  Hitherto the divine faculty of which the

internal oracle is the source has constantly been in the habit of opposing

me even about trifles, if I was going to make a slip or error in any

matter; and now as you see there has come upon me that which may be

thought, and is generally believed to be, the last and worst evil.  But the

oracle made no sign of opposition, either when I was leaving my house in

the morning, or when I was on my way to the court, or while I was speaking,

at anything which I was going to say; and yet I have often been stopped in

the middle of a speech, but now in nothing I either said or did touching

the matter in hand has the oracle opposed me.  What do I take to be the

explanation of this silence?  I will tell you.  It is an intimation that

what has happened to me is a good, and that those of us who think that

death is an evil are in error.  For the customary sign would surely have

opposed me had I been going to evil and not to good.

 

Let us reflect in another way, and we shall see that there is great reason

to hope that death is a good; for one of two things–either death is a

state of nothingness and utter unconsciousness, or, as men say, there is a

change and migration of the soul from this world to another.  Now if you

suppose that there is no consciousness, but a sleep like the sleep of him

who is undisturbed even by dreams, death will be an unspeakable gain.  For

if a person were to select the night in which his sleep was undisturbed

even by dreams, and were to compare with this the other days and nights of

his life, and then were to tell us how many days and nights he had passed

in the course of his life better and more pleasantly than this one, I think

that any man, I will not say a private man, but even the great king will

not find many such days or nights, when compared with the others.  Now if

death be of such a nature, I say that to die is gain; for eternity is then

only a single night.  But if death is the journey to another place, and

there, as men say, all the dead abide, what good, O my friends and judges,

can be greater than this?  If indeed when the pilgrim arrives in the world

below, he is delivered from the professors of justice in this world, and

finds the true judges who are said to give judgment there, Minos and

Rhadamanthus and Aeacus and Triptolemus, and other sons of God who were

righteous in their own life, that pilgrimage will be worth making.  What

would not a man give if he might converse with Orpheus and Musaeus and

Hesiod and Homer?  Nay, if this be true, let me die again and again.  I

myself, too, shall have a wonderful interest in there meeting and

conversing with Palamedes, and Ajax the son of Telamon, and any other

ancient hero who has suffered death through an unjust judgment; and there

will be no small pleasure, as I think, in comparing my own sufferings with

theirs.  Above all, I shall then be able to continue my search into true

and false knowledge; as in this world, so also in the next; and I shall

find out who is wise, and who pretends to be wise, and is not.  What would

not a man give, O judges, to be able to examine the leader of the great

Trojan expedition; or Odysseus or Sisyphus, or numberless others, men and

women too!  What infinite delight would there be in conversing with them

and asking them questions!  In another world they do not put a man to death

for asking questions:  assuredly not.  For besides being happier than we

are, they will be immortal, if what is said is true.

 

Wherefore, O judges, be of good cheer about death, and know of a certainty,

that no evil can happen to a good man, either in life or after death.  He

and his are not neglected by the gods; nor has my own approaching end

happened by mere chance.  But I see clearly that the time had arrived when

it was better for me to die and be released from trouble; wherefore the

oracle gave no sign.  For which reason, also, I am not angry with my

condemners, or with my accusers; they have done me no harm, although they

did not mean to do me any good; and for this I may gently blame them.

 

Still I have a favour to ask of them.  When my sons are grown up, I would

ask you, O my friends, to punish them; and I would have you trouble them,

as I have troubled you, if they seem to care about riches, or anything,

more than about virtue; or if they pretend to be something when they are

really nothing,–then reprove them, as I have reproved you, for not caring

about that for which they ought to care, and thinking that they are

something when they are really nothing.  And if you do this, both I and my

sons will have received justice at your hands.

 

The hour of departure has arrived, and we go our ways–I to die, and you to

live.  Which is better God only knows.

 

End of this Project Gutenberg Etext of Apology, by Plato

December 11, 2007 Posted by | KAJIAN | Leave a comment

Apology :Plato (1)

Translated by Benjamin Jowett INTRODUCTION. In what relation the Apology of Plato stands to the real defence ofSocrates, there are no means of determining.  It certainly agrees in toneand character with the description of Xenophon, who says in the Memorabiliathat Socrates might have been acquitted ‘if in any moderate degree he wouldhave conciliated the favour of the dicasts;’ and who informs us in anotherpassage, on the testimony of Hermogenes, the friend of Socrates, that hehad no wish to live; and that the divine sign refused to allow him toprepare a defence, and also that Socrates himself declared this to beunnecessary, on the ground that all his life long he had been preparingagainst that hour.  For the speech breathes throughout a spirit ofdefiance, (ut non supplex aut reus sed magister aut dominus videretur essejudicum’ (Cic. de Orat.); and the loose and desultory style is an imitationof the ‘accustomed manner’ in which Socrates spoke in ‘the agora and amongthe tables of the money-changers.’  The allusion in the Crito may, perhaps,be adduced as a further evidence of the literal accuracy of some parts. But in the main it must be regarded as the ideal of Socrates, according toPlato’s conception of him, appearing in the greatest and most public sceneof his life, and in the height of his triumph, when he is weakest, and yethis mastery over mankind is greatest, and his habitual irony acquires a newmeaning and a sort of tragic pathos in the face of death.  The facts of hislife are summed up, and the features of his character are brought out as ifby accident in the course of the defence.  The conversational manner, theseeming want of arrangement, the ironical simplicity, are found to resultin a perfect work of art, which is the portrait of Socrates. Yet some of the topics may have been actually used by Socrates; and therecollection of his very words may have rung in the ears of his disciple. The Apology of Plato may be compared generally with those speeches ofThucydides in which he has embodied his conception of the lofty characterand policy of the great Pericles, and which at the same time furnish acommentary on the situation of affairs from the point of view of thehistorian.  So in the Apology there is an ideal rather than a literaltruth; much is said which was not said, and is only Plato’s view of thesituation.  Plato was not, like Xenophon, a chronicler of facts; he doesnot appear in any of his writings to have aimed at literal accuracy.  He isnot therefore to be supplemented from the Memorabilia and Symposium ofXenophon, who belongs to an entirely different class of writers.  TheApology of Plato is not the report of what Socrates said, but an elaboratecomposition, quite as much so in fact as one of the Dialogues.  And we mayperhaps even indulge in the fancy that the actual defence of Socrates wasas much greater than the Platonic defence as the master was greater thanthe disciple.  But in any case, some of the words used by him must havebeen remembered, and some of the facts recorded must have actuallyoccurred.  It is significant that Plato is said to have been present at thedefence (Apol.), as he is also said to have been absent at the last scenein the Phaedo.  Is it fanciful to suppose that he meant to give the stampof authenticity to the one and not to the other?–especially when weconsider that these two passages are the only ones in which Plato makesmention of himself.  The circumstance that Plato was to be one of hissureties for the payment of the fine which he proposed has the appearanceof truth.  More suspicious is the statement that Socrates received thefirst impulse to his favourite calling of cross-examining the world fromthe Oracle of Delphi; for he must already have been famous beforeChaerephon went to consult the Oracle (Riddell), and the story is of a kindwhich is very likely to have been invented.  On the whole we arrive at theconclusion that the Apology is true to the character of Socrates, but wecannot show that any single sentence in it was actually spoken by him.  Itbreathes the spirit of Socrates, but has been cast anew in the mould ofPlato. There is not much in the other Dialogues which can be compared with theApology.  The same recollection of his master may have been present to themind of Plato when depicting the sufferings of the Just in the Republic. The Crito may also be regarded as a sort of appendage to the Apology, inwhich Socrates, who has defied the judges, is nevertheless represented asscrupulously obedient to the laws.  The idealization of the sufferer iscarried still further in the Gorgias, in which the thesis is maintained,that ‘to suffer is better than to do evil;’ and the art of rhetoric isdescribed as only useful for the purpose of self-accusation.  Theparallelisms which occur in the so-called Apology of Xenophon are not worthnoticing, because the writing in which they are contained is manifestlyspurious.  The statements of the Memorabilia respecting the trial and deathof Socrates agree generally with Plato; but they have lost the flavour ofSocratic irony in the narrative of Xenophon. The Apology or Platonic defence of Socrates is divided into three parts: 1st. The defence properly so called; 2nd. The shorter address in mitigationof the penalty; 3rd. The last words of prophetic rebuke and exhortation. The first part commences with an apology for his colloquial style; he is,as he has always been, the enemy of rhetoric, and knows of no rhetoric buttruth; he will not falsify his character by making a speech.  Then heproceeds to divide his accusers into two classes; first, there is thenameless accuser–public opinion.  All the world from their earliest yearshad heard that he was a corrupter of youth, and had seen him caricatured inthe Clouds of Aristophanes.  Secondly, there are the professed accusers,who are but the mouth-piece of the others.  The accusations of both mightbe summed up in a formula.  The first say, ‘Socrates is an evil-doer and acurious person, searching into things under the earth and above the heaven;and making the worse appear the better cause, and teaching all this toothers.’  The second, ‘Socrates is an evil-doer and corrupter of the youth,who does not receive the gods whom the state receives, but introduces othernew divinities.’  These last words appear to have been the actualindictment (compare Xen. Mem.); and the previous formula, which is asummary of public opinion, assumes the same legal style. The answer begins by clearing up a confusion.  In the representations ofthe Comic poets, and in the opinion of the multitude, he had beenidentified with the teachers of physical science and with the Sophists. But this was an error.  For both of them he professes a respect in the opencourt, which contrasts with his manner of speaking about them in otherplaces.  (Compare for Anaxagoras, Phaedo, Laws; for the Sophists, Meno,Republic, Tim., Theaet., Soph., etc.)  But at the same time he shows thathe is not one of them.  Of natural philosophy he knows nothing; not that hedespises such pursuits, but the fact is that he is ignorant of them, andnever says a word about them.  Nor is he paid for giving instruction–thatis another mistaken notion:–he has nothing to teach.  But he commendsEvenus for teaching virtue at such a ‘moderate’ rate as five minae. Something of the ‘accustomed irony,’ which may perhaps be expected to sleepin the ear of the multitude, is lurking here. He then goes on to explain the reason why he is in such an evil name.  Thathad arisen out of a peculiar mission which he had taken upon himself.  Theenthusiastic Chaerephon (probably in anticipation of the answer which hereceived) had gone to Delphi and asked the oracle if there was any manwiser than Socrates; and the answer was, that there was no man wiser.  Whatcould be the meaning of this–that he who knew nothing, and knew that heknew nothing, should be declared by the oracle to be the wisest of men? Reflecting upon the answer, he determined to refute it by finding ‘awiser;’ and first he went to the politicians, and then to the poets, andthen to the craftsmen, but always with the same result–he found that theyknew nothing, or hardly anything more than himself; and that the littleadvantage which in some cases they possessed was more than counter-balancedby their conceit of knowledge.  He knew nothing, and knew that he knewnothing:  they knew little or nothing, and imagined that they knew allthings.  Thus he had passed his life as a sort of missionary in detectingthe pretended wisdom of mankind; and this occupation had quite absorbed himand taken him away both from public and private affairs.  Young men of thericher sort had made a pastime of the same pursuit, ‘which was notunamusing.’  And hence bitter enmities had arisen; the professors ofknowledge had revenged themselves by calling him a villainous corrupter ofyouth, and by repeating the commonplaces about atheism and materialism andsophistry, which are the stock-accusations against all philosophers whenthere is nothing else to be said of them. The second accusation he meets by interrogating Meletus, who is present andcan be interrogated.  ‘If he is the corrupter, who is the improver of thecitizens?’  (Compare Meno.)  ‘All men everywhere.’  But how absurd, howcontrary to analogy is this!  How inconceivable too, that he should makethe citizens worse when he has to live with them.  This surely cannot beintentional; and if unintentional, he ought to have been instructed byMeletus, and not accused in the court. But there is another part of the indictment which says that he teaches mennot to receive the gods whom the city receives, and has other new gods. ‘Is that the way in which he is supposed to corrupt the youth?’  ‘Yes, itis.’  ‘Has he only new gods, or none at all?’  ‘None at all.’  ‘What, noteven the sun and moon?’  ‘No; why, he says that the sun is a stone, and themoon earth.’  That, replies Socrates, is the old confusion aboutAnaxagoras; the Athenian people are not so ignorant as to attribute to theinfluence of Socrates notions which have found their way into the drama,and may be learned at the theatre.  Socrates undertakes to show thatMeletus (rather unjustifiably) has been compounding a riddle in this partof the indictment:  ‘There are no gods, but Socrates believes in theexistence of the sons of gods, which is absurd.’ Leaving Meletus, who has had enough words spent upon him, he returns to theoriginal accusation.  The question may be asked, Why will he persist infollowing a profession which leads him to death?  Why?–because he mustremain at his post where the god has placed him, as he remained atPotidaea, and Amphipolis, and Delium, where the generals placed him. Besides, he is not so overwise as to imagine that he knows whether death isa good or an evil; and he is certain that desertion of his duty is an evil. Anytus is quite right in saying that they should never have indicted him ifthey meant to let him go.  For he will certainly obey God rather than man;and will continue to preach to all men of all ages the necessity of virtueand improvement; and if they refuse to listen to him he will stillpersevere and reprove them.  This is his way of corrupting the youth, whichhe will not cease to follow in obedience to the god, even if a thousanddeaths await him. He is desirous that they should let him live–not for his own sake, but fortheirs; because he is their heaven-sent friend (and they will never havesuch another), or, as he may be ludicrously described, he is the gadfly whostirs the generous steed into motion.  Why then has he never taken part inpublic affairs?  Because the familiar divine voice has hindered him; if hehad been a public man, and had fought for the right, as he would certainlyhave fought against the many, he would not have lived, and could thereforehave done no good.  Twice in public matters he has risked his life for thesake of justice–once at the trial of the generals; and again in resistanceto the tyrannical commands of the Thirty. But, though not a public man, he has passed his days in instructing thecitizens without fee or reward–this was his mission.  Whether hisdisciples have turned out well or ill, he cannot justly be charged with theresult, for he never promised to teach them anything.  They might come ifthey liked, and they might stay away if they liked:  and they did come,because they found an amusement in hearing the pretenders to wisdomdetected.  If they have been corrupted, their elder relatives (if notthemselves) might surely come into court and witness against him, and thereis an opportunity still for them to appear.  But their fathers and brothersall appear in court (including ‘this’ Plato), to witness on his behalf; andif their relatives are corrupted, at least they are uncorrupted; ‘and theyare my witnesses.  For they know that I am speaking the truth, and thatMeletus is lying.’ This is about all that he has to say.  He will not entreat the judges tospare his life; neither will he present a spectacle of weeping children,although he, too, is not made of ‘rock or oak.’  Some of the judgesthemselves may have complied with this practice on similar occasions, andhe trusts that they will not be angry with him for not following theirexample.  But he feels that such conduct brings discredit on the name ofAthens:  he feels too, that the judge has sworn not to give away justice;and he cannot be guilty of the impiety of asking the judge to break hisoath, when he is himself being tried for impiety. As he expected, and probably intended, he is convicted.  And now the toneof the speech, instead of being more conciliatory, becomes more lofty andcommanding.  Anytus proposes death as the penalty:  and what counter-proposition shall he make?  He, the benefactor of the Athenian people,whose whole life has been spent in doing them good, should at least havethe Olympic victor’s reward of maintenance in the Prytaneum.  Or why shouldhe propose any counter-penalty when he does not know whether death, whichAnytus proposes, is a good or an evil?  And he is certain that imprisonmentis an evil, exile is an evil.  Loss of money might be an evil, but then hehas none to give; perhaps he can make up a mina.  Let that be the penalty,or, if his friends wish, thirty minae; for which they will be excellentsecurities. (He is condemned to death.) He is an old man already, and the Athenians will gain nothing but disgraceby depriving him of a few years of life.  Perhaps he could have escaped, ifhe had chosen to throw down his arms and entreat for his life.  But he doesnot at all repent of the manner of his defence; he would rather die in hisown fashion than live in theirs.  For the penalty of unrighteousness isswifter than death; that penalty has already overtaken his accusers asdeath will soon overtake him. And now, as one who is about to die, he will prophesy to them.  They haveput him to death in order to escape the necessity of giving an account oftheir lives.  But his death ‘will be the seed’ of many disciples who willconvince them of their evil ways, and will come forth to reprove them inharsher terms, because they are younger and more inconsiderate. He would like to say a few words, while there is time, to those who wouldhave acquitted him.  He wishes them to know that the divine sign neverinterrupted him in the course of his defence; the reason of which, as heconjectures, is that the death to which he is going is a good and not anevil.  For either death is a long sleep, the best of sleeps, or a journeyto another world in which the souls of the dead are gathered together, andin which there may be a hope of seeing the heroes of old–in which, too,there are just judges; and as all are immortal, there can be no fear of anyone suffering death for his opinions. Nothing evil can happen to the good man either in life or death, and hisown death has been permitted by the gods, because it was better for him todepart; and therefore he forgives his judges because they have done him noharm, although they never meant to do him any good. He has a last request to make to them–that they will trouble his sons ashe has troubled them, if they appear to prefer riches to virtue, or tothink themselves something when they are nothing.  ‘Few persons will be found to wish that Socrates should have defendedhimself otherwise,’–if, as we must add, his defence was that with whichPlato has provided him.  But leaving this question, which does not admit ofa precise solution, we may go on to ask what was the impression which Platoin the Apology intended to give of the character and conduct of his masterin the last great scene?  Did he intend to represent him (1) as employingsophistries; (2) as designedly irritating the judges?  Or are thesesophistries to be regarded as belonging to the age in which he lived and tohis personal character, and this apparent haughtiness as flowing from thenatural elevation of his position? For example, when he says that it is absurd to suppose that one man is thecorrupter and all the rest of the world the improvers of the youth; or,when he argues that he never could have corrupted the men with whom he hadto live; or, when he proves his belief in the gods because he believes inthe sons of gods, is he serious or jesting?  It may be observed that thesesophisms all occur in his cross-examination of Meletus, who is easilyfoiled and mastered in the hands of the great dialectician.  Perhaps heregarded these answers as good enough for his accuser, of whom he makesvery light.  Also there is a touch of irony in them, which takes them outof the category of sophistry.  (Compare Euthyph.) That the manner in which he defends himself about the lives of hisdisciples is not satisfactory, can hardly be denied.  Fresh in the memoryof the Athenians, and detestable as they deserved to be to the newlyrestored democracy, were the names of Alcibiades, Critias, Charmides.  Itis obviously not a sufficient answer that Socrates had never professed toteach them anything, and is therefore not justly chargeable with theircrimes.  Yet the defence, when taken out of this ironical form, isdoubtless sound:  that his teaching had nothing to do with their evillives.  Here, then, the sophistry is rather in form than in substance,though we might desire that to such a serious charge Socrates had given amore serious answer. Truly characteristic of Socrates is another point in his answer, which mayalso be regarded as sophistical.  He says that ‘if he has corrupted theyouth, he must have corrupted them involuntarily.’  But if, as Socratesargues, all evil is involuntary, then all criminals ought to be admonishedand not punished.  In these words the Socratic doctrine of theinvoluntariness of evil is clearly intended to be conveyed.  Here again, asin the former instance, the defence of Socrates is untrue practically, butmay be true in some ideal or transcendental sense.  The commonplace reply,that if he had been guilty of corrupting the youth their relations wouldsurely have witnessed against him, with which he concludes this part of hisdefence, is more satisfactory. Again, when Socrates argues that he must believe in the gods because hebelieves in the sons of gods, we must remember that this is a refutationnot of the original indictment, which is consistent enough–‘Socrates doesnot receive the gods whom the city receives, and has other new divinities’–but of the interpretation put upon the words by Meletus, who has affirmedthat he is a downright atheist.  To this Socrates fairly answers, inaccordance with the ideas of the time, that a downright atheist cannotbelieve in the sons of gods or in divine things.  The notion that demons orlesser divinities are the sons of gods is not to be regarded as ironical orsceptical.  He is arguing ‘ad hominem’ according to the notions ofmythology current in his age.  Yet he abstains from saying that he believedin the gods whom the State approved.  He does not defend himself, asXenophon has defended him, by appealing to his practice of religion. Probably he neither wholly believed, nor disbelieved, in the existence ofthe popular gods; he had no means of knowing about them.  According toPlato (compare Phaedo; Symp.), as well as Xenophon (Memor.), he waspunctual in the performance of the least religious duties; and he must havebelieved in his own oracular sign, of which he seemed to have an internalwitness.  But the existence of Apollo or Zeus, or the other gods whom theState approves, would have appeared to him both uncertain and unimportantin comparison of the duty of self-examination, and of those principles oftruth and right which he deemed to be the foundation of religion.  (ComparePhaedr.; Euthyph.; Republic.) The second question, whether Plato meant to represent Socrates as bravingor irritating his judges, must also be answered in the negative.  Hisirony, his superiority, his audacity, ‘regarding not the person of man,’necessarily flow out of the loftiness of his situation.  He is not acting apart upon a great occasion, but he is what he has been all his life long,‘a king of men.’  He would rather not appear insolent, if he could avoid it(ouch os authadizomenos touto lego).  Neither is he desirous of hasteninghis own end, for life and death are simply indifferent to him.  But such adefence as would be acceptable to his judges and might procure anacquittal, it is not in his nature to make.  He will not say or do anythingthat might pervert the course of justice; he cannot have his tongue boundeven ‘in the throat of death.’  With his accusers he will only fence andplay, as he had fenced with other ‘improvers of youth,’ answering theSophist according to his sophistry all his life long.  He is serious whenhe is speaking of his own mission, which seems to distinguish him from allother reformers of mankind, and originates in an accident.  The dedicationof himself to the improvement of his fellow-citizens is not so remarkableas the ironical spirit in which he goes about doing good only invindication of the credit of the oracle, and in the vain hope of finding awiser man than himself.  Yet this singular and almost accidental characterof his mission agrees with the divine sign which, according to our notions,is equally accidental and irrational, and is nevertheless accepted by himas the guiding principle of his life.  Socrates is nowhere represented tous as a freethinker or sceptic.  There is no reason to doubt his sinceritywhen he speculates on the possibility of seeing and knowing the heroes ofthe Trojan war in another world.  On the other hand, his hope ofimmortality is uncertain;–he also conceives of death as a long sleep (inthis respect differing from the Phaedo), and at last falls back onresignation to the divine will, and the certainty that no evil can happento the good man either in life or death.  His absolute truthfulness seemsto hinder him from asserting positively more than this; and he makes noattempt to veil his ignorance in mythology and figures of speech.  Thegentleness of the first part of the speech contrasts with the aggravated,almost threatening, tone of the conclusion.  He characteristically remarksthat he will not speak as a rhetorician, that is to say, he will not make aregular defence such as Lysias or one of the orators might have composedfor him, or, according to some accounts, did compose for him.  But he firstprocures himself a hearing by conciliatory words.  He does not attack theSophists; for they were open to the same charges as himself; they wereequally ridiculed by the Comic poets, and almost equally hateful to Anytusand Meletus.  Yet incidentally the antagonism between Socrates and theSophists is allowed to appear.  He is poor and they are rich; hisprofession that he teaches nothing is opposed to their readiness to teachall things; his talking in the marketplace to their private instructions;his tarry-at-home life to their wandering from city to city.  The tonewhich he assumes towards them is one of real friendliness, but also ofconcealed irony.  Towards Anaxagoras, who had disappointed him in his hopesof learning about mind and nature, he shows a less kindly feeling, which isalso the feeling of Plato in other passages (Laws).  But Anaxagoras hadbeen dead thirty years, and was beyond the reach of persecution. It has been remarked that the prophecy of a new generation of teachers whowould rebuke and exhort the Athenian people in harsher and more violentterms was, as far as we know, never fulfilled.  No inference can be drawnfrom this circumstance as to the probability of the words attributed to himhaving been actually uttered.  They express the aspiration of the firstmartyr of philosophy, that he would leave behind him many followers,accompanied by the not unnatural feeling that they would be fiercer andmore inconsiderate in their words when emancipated from his control. The above remarks must be understood as applying with any degree ofcertainty to the Platonic Socrates only.  For, although these or similarwords may have been spoken by Socrates himself, we cannot exclude thepossibility, that like so much else, e.g. the wisdom of Critias, the poemof Solon, the virtues of Charmides, they may have been due only to theimagination of Plato.  The arguments of those who maintain that the Apologywas composed during the process, resting on no evidence, do not require aserious refutation.  Nor are the reasonings of Schleiermacher, who arguesthat the Platonic defence is an exact or nearly exact reproduction of thewords of Socrates, partly because Plato would not have been guilty of theimpiety of altering them, and also because many points of the defence mighthave been improved and strengthened, at all more conclusive.  (See EnglishTranslation.)  What effect the death of Socrates produced on the mind ofPlato, we cannot certainly determine; nor can we say how he would or musthave written under the circumstances.  We observe that the enmity ofAristophanes to Socrates does not prevent Plato from introducing themtogether in the Symposium engaged in friendly intercourse.  Nor is thereany trace in the Dialogues of an attempt to make Anytus or Meletuspersonally odious in the eyes of the Athenian public.

December 11, 2007 Posted by | KAJIAN | Leave a comment

ZENO

Tujuan kehidupan adalah hidup selaras dengan alam”
(“The goal of life is living in agreement with nature.”)

Zeno

Matematikawan bengal pencipta banyak paradoks

Zeno
(490 – 435 SM)

Riwayat
Zeno dikenal banyak orang karena namanya tercantum pada halaman pertama buku Parmenides karangan Plato. Diperkirakan bahwa saat itu Zeno berumur 40 tahun, sedang Socrates masih remaja, kisaran usia 20 tahun. Dengan mengetahui bahwa Socrates lahir pada 469 SM, maka diperkirakan Zeno lahir pada tahun 490 SM. Disinyalir bahwa Zeno mempunyai hubungan “khusus” dengan Parmenides. Catatan Plato menyebutkan adanya gosip bahwa mereka saling jatuh cinta saat Zeno masih muda, dan tulisan Zeno tentang paradoks digunakan untuk melindungi filsafat Parmenides dari para pengkritiknya. Semua catatan itu tidak pernah ada dan cerita itu dituturkan oleh tangan kedua. Tulisan Aristoteles yang terdapat pada Simplicius – terbit ribuan tahun setelah Zeno – digunakan sebagai acuan.


Zeno dari Elea, lahir pada awal mulainya perang Persia – konflik antara Timur dan Barat. Yunani dapat menaklukkan Persia, tapi semua filsuf Yunani tidak pernah berhasil menaklukkan Zeno. Zeno mengemukakan 6 paradoks, teka-teki yang tidak dapat dipecahkan oleh logika filsuf terkemuka Yunani saat itu. Paradoks yang dilontarkan Zeno membingungkan semua filsuf Yunani, namun tidak seorang pun dapat menemukan kesalahan pada logika Zeno. Paradoks ini menjadi sangat termasyur karena terus “mengganggu” pemikiran para matematikawan; dan baru dapat dipecahkan hampir 2000 tahun kemudian. Dari enam paradoksnya, yang paling terkenal, adalah paradoks lomba lari Achilles dan kura-kura.

Latar belakang


Parmenides menolak faham pluralisme dan realitas dalam berbagai macam perubahan: baginya segala sesuatu tidak dapat dibagi, realitas tidak berubah, dan hal-hal yang tampak dan berbeda hanyalah ilusi belaka, sehingga dapat dibantah dengan argumen/alasan. Tidak perlu disangsikan lagi, faham ini mendapat banyak kritikan tajam.
Tanggapan terhadap kritik Zeno memicu sesuatu yang lebih nyata, namun mampu memberi dampak mendalam bagi filsafat Yunani bahkan sampai saat ini. Zeno berusaha menunjukkan bahwa suatu kemustahilan diikuti oleh logika dari pandangan Parmenides. Segala sesuatu dapat menjadi sangat kecil atau menjadi sangat besar. Paradoks ini sebagai bukti kontradiksi atau kemustahilan akibat asumsi-asumsi yang (tampak) masuk akal. Apabila dilihat lebih dalam maka paradoks mengarah kepada target spesifik yaitu menyangkut lebih atau kurang: pandangan orang atau aliran pemikiran tertentu. Zeno – lewat paradoks – berusaha menyatakan bahwa alam semesta ini tidak berubah dan tidak bergerak.
Mencoba menyingkap siapa yang menjadi target serangan Zeno relatif lebih mudah daripada mencoba memecahkan paradoksnya. Tahun kelahiran Zeno, menunjuk bahwa dunia remajanya dipenuhi dengan pandangan Pythagoras (580 – 475 SM) dan para pengikutnya (pythagorean). Tampaknya doktrin Pythagorean mau diserang Zeno, meskipun dugaan ini masih terlampau dini untuk disebut karena topik ini masih menjadi ajang perdebatan sampai sekarang.
Paradoks Zeno mengungkapkan problem-problem yang tidak dapat diselesaikan oleh semua teknik matematika yang tersedia pada saat itu. Penyelesaian paradoks Zeno baru dimulai pada abad 18 (atau lebih awal dari itu). Paradoks itu mampu merangsang otak-otak kreatif matematikawan dan memberi warna pada sejarah perkembangan matematika.

Matematikawan “hitam”


Zeno (490 – 435 SM) dari Alea dan Eudoxus (408 – 355 SM) dari Cnidus menghadirkan pertentangan dua kubu pemikiran matematika: penghancuran kritikal dan pengembangan kritikal. Pertentangan kedua pemikiran ini layak disebut dengan ajang pertempuran logika antara matematikawan “hitam” dan matematikawan “putih.”
Duel “aliran” tidak hanya terjadi pada jaman kuno, matematikawan modern juga mengekor atau menjadi pengikut salah satu idola mereka.
Penghancuran kritikal seperti pemikiran Zeno diteruskan oleh Kronecker (1823 – 1891) dan Brouwer (1881 – 1966), sedangkan pemikiran Eudoxus diteruskan oleh Weierstrass (1815 – 1897), Dedekind (1831 – 1916) dan Cantor (1845 – 1918).

Paradoks Zeno


Ada 4 paradoks Zeno yang terkenal, meskipun yang paling terkenal adalah paradoks kedua, perlombaan lari Archilles dan kura-kura.

1. DikhotomiParadoks ini dikenal sebagai “dikhotomi” karena selalu terjadi pengulangan pembagian menjadi dua. Gerak adalah tidak dimungkinkan, sebab apapun yang terjadi gerak harus mencapai (titik) tengah terlebih dahulu sebelum mencapai (titik) akhir; tapi sebelum mencapai titik tengah terlebih dahulu mencapai seperempat dan seterusnya, suatu ketakterhinggaan. Jadi, gerak tidak akan pernah ada bahkan pada saat untuk memulainya. 2. Perlombaan lari Achilles dan kura-kuraAchilles – kesatria pada perang Troya, mitologi Yunani, berlomba lari dengan kura-kura, tetapi Achilles tidak dapat mengalahkan kura-kura yang berjalan lebih dahulu. Untuk memudahkan penjelasan, maka diberikan ilustrasi dengan menggunakan angka pada paradoks ini.
Bayangkan: Achilles berlari dengan kecepatan 1 meter per detik, sedangkan kura-kura selalu berjalan dengan kecepatan setengahnya, ½ meter per detik, namun kura-kura mengawali perlombaan dari ½ jarak yang akan ditempuh (misal: jarak tempuh perlombaan 2 km, maka titik awal/start kura-kura berada pada posisi 1 km, sedang Archilles pada titik 0 km). Kura-kura berjalan begitu Achilles mencapai tempatnya. Begitu Achilles mencapai posisi 1 km, kura-kura berada pada posisi 1,5 km; Achilles mencapai posisi 1,5 km, kura-kura mencapai posisi 1,75; Achilles mencapai posisi 1,75 km, kura-kura mencapai posisi 1,875 km. Pertanyaannya adalah kapan Achilles dapat menyusul kura-kura?.
3. Anak panah

Anak panah bergerak (karena dilepaskan dari busur) pada waktu tertentu, diam maupun tidak diam. Apabila waktu tidak dapat dibagi, panah tidak akan bergerak. Apabila waktu kemudian dibagi. Tetapi waktu juga tersusun dari setiap (satuan) saat. Jadi panah tidak dapat bergerak pada suatu saat tertentu, tidak dapat bergerak pula pada waktu. Oleh karena itu anak panah selalu diam.

4. Stadion

Paradoks tentang gerakan urutan orang duduk di dalam stadion. Urutan [AAAA] yang diam diperbandingkan dengan urutan bergerak pada tempat duduk stadion dari dua arah yang berlawanan, [BBBB]: urutan orang yang bergerak ke kiri dan [CCCC]: urutan orang duduk yang bergerak ke kanan.

Paradoks tentang stadion ini dapat digambarkan sbb.:
AAAA: urutan berhenti
BBBB: urutan bergerak ke kiri CCCC: urutan bergerak ke kanan
Semuanya bergerak dengan kecepatan tetap/sama.

Posisi I                   Posisi IIA A A A                 A A A AB B B B                 B B B B

C C C C                C C C C

Posisi I:


Urutan duduk AAAA, BBBB dan CCC terletak rapi, baris dan kolom sama. Gerakan dimulai, dengan kecepatan sama, urutan BBBB dan urutan CCCC bergerak. Urutan B paling kiri melewati 2 orang: C paling kiri dan A paling kiri. Jarak B paling kiri dengan C paling kiri adalah 2 kali jarak B paling kiri dengan A paling kiri, dengan waktu yang sama.
Zeno mempertanyakan mengapa dengan waktu yang sama dan kecepatan sama ada perbedaan jarak yang ditempuh?

Pemecahan modernSemua orang tahu bahwa dalam dunia nyata, Achilles pasti dapat menyusul kura-kura, namun dari argumen Zeno, Achilles tidak akan pernah dapat menyusul kura-kura. Para filsuf jaman itu pun tidak mampu membuktikan paradoks tersebut, walaupun mereka tahu bahwa kesimpulan akhirnya adalah salah. “Senjata” filsuf hanya logika, dan deduksi tidaklah berguna dalam kasus ini. Semua langkah tampaknya masuk akal, dan jika semua prosedur sudah dijalani, bagaimana kesimpulan yang didapat ternyata salah?
Mereka terperangah dengan problem tersebut, tetapi tidak memahami akar permasalahan: ketakterhingga (infinite). Hal ini sama dapat terjadi apabila anda membagi sebuah mata uang menjadi 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64 dan seterusnya sampai tidak terhingga tetapi hasilnya akhirnya jelas, yaitu: tetap 1 mata uang. Matematikawan modern menyebut fenomena ini dengan istilah limit; angka 1/2, 1/4, 1/8, 1/16, 1/32, 1/64, 1/128 dan seterusnya mendekati angka 0 sebagai titik akhir (limit).

Angka berurutan dengan pola tertentu sampai tidak mempunyai batas akhir; mereka makin kecil dan bertambah kecil sampai tidak dapat dibedakan lagi. Orang Yunani tidak mampu menangani ketakterhinggaan. Mereka berpikir keras tentang konsep kosong (void) tetapi menolak (angka) 0 sebagai angka. Hal ini pula yang membuat mereka pernah dapat menemukan kalkulus.

Dua paradoks tambahan

Tidak puas dengan empat paradoks yang dilontarkan. Zeno menambahkan dua paradoks lain yang tidak kalah rumitnya.

5. Paradoks tentang tempat

Paradoks ini cukup singkat, sehingga Zeno sulit menjelaskannya. Secara garis besar dapat disederhanakan sbb.: keberadaan segala sesuatu benda (misal: batu) adalah suatu tempat tertentu (misal: meja), sedangkan tempat tertentu itupun (meja) memerlukan suatu tempat (misal: rumah) dan seterusnya sampai ketakterhinggaan.

6. Paradoks tentang bulir gandum

Apabila anda menjatuhkan sebuah karung berisi gandum yang belum dikupas kulitnya akan terdengar suara keras; tetapi suara itu adalah akibat gesekan bulir-bulir gandum dalam karung; akibatnya setiap bagian dari bulir-bulir gandum menimbulkan suara saat jatuh ke tanah. Kemudian pertimbangkanlah menjatuhkan setiap bagian dari bulir gandum itu; kita semua tahu bahwa tidak ada suara yang terdengar.


Zeno boleh mati, tetapi paradok tetap hidup

Karena kecerdikan sendiri, Zeno akhirnya menghadapi problem serius. Sekitar tahun 435 SM, dia bersekongkol untuk mengulingkan tirani Elea saat itu, Nearhus. Zeno membantu menyelundupkan senjata dan mendukung pemberontakan. Sialnya, Nearchus mengetahui skenario itu, dan Zeno akhirnya ditangkap. Berharap dapat mengungkap konspirasi itu, Zeno disiksa. Tidak tahan oleh siksaan, Zeno menyuruh para penyiksanya untuk menghentikan siksaan dan dia berjanji akan menyebutkan nama rekan-rekannya.
Ketika Nearchus mendekat, Zeno meminta agar tiran itu lebih mendekat lagi karena dia akan menyebutkan nama-nama komplotan rahasia itu langsung di telinga Nearchus. Setelah telinga ada dalam jangkauan, tiba-tiba Zeno menggigit telinga Nearchus. Nearchus menjerit-jerit kesakitan, namun Zeno menolak untuk melepaskan gigitannya. Para penyiksanya hanya dapat melepaskan gigitan Zeno dengan jalan menusuk mati Zeno. Ini adalah akhir hayat, pencipta paradoks atau guru ketakterhinggaan.


Sumbangsih
Jasa Zeno paling besar adalah pengaruhnya bagi filsafat. Sasaran ‘tembak’ Zeno adalah pluraliti dan gerak – sesuatu ditanamkan pada opini-opini geometrikal yang lazim dikenal – selain akal sehat, menyerang doktrin-doktrin Pythagorean, ternyata mampu memberi inspirasi para teori relativitas (paradoks keempat) dan fisika quantum. Kenyataannya ruang dan waktu bukanlah struktur matematika utuh (continuum). Alasan bahwa ada cara untuk melestarikan realitas gerak mengingkari bahwa ruang dan waktu terbentuk dari titik-titik dan saat-saat.
Paradoks ini sangat terkenal, terutama paradoks Archilles dan kura-kura, kelak dipecahkan oleh Cantor. Hampir seluruh buku matematika mencantumkan nama Zeno pada indeksnya. Paradoks tidak hanya merupakan pertanyaan terhadap matematika abstrak tetapi juga pada realitas fisik. Memperkecil skala seperti halnya paradoks bulir gandum, sampai tidak dapat dibagi memicu orang “membedah” suatu benda sampai tingkat atom.

 

December 11, 2007 Posted by | KAJIAN | Leave a comment

PENGANTAR LOGIKA MARXISME

GEORGE NOVACK

Sumber                        : George Novack, An Introduction to The Logic of Marxism, bahan kuliah

Terjemahan Indonesia : Jurnal KIRI, Volume 3, Oktober 2000, Penerbit Neuron.

Versi Online                : Indomarxist.Net, November 2002; Marxists Internet Archive, Desember 2002.

Keterangan                  : Ijin publikasi online ini adalah untuk tujuan non-komersil.


Daftar Isi

Bahan I          : Logika Formal dan Logika Dialektik

Bahan II        : Keterbatasan Logika Formal

Bahan III       : Sekali Lagi, Tentang Keterbatasan-Keterbatasan Logika Formal

Bahan I:
Logika Formal dan Logika Dialektik

 

Pelajaran di bawah ini adalah tentang pemikiran dialektika materialis, atau apa yang dikenal sebagai logika Marxisme.

Betapa mengejutkan, apakah pelajaran ini memang penting? Di sini berkumpul anggota dan simpatisan dari sebuah partai revolusioner yang, di tengah-tengah perang dunia ke II, sedang berada di bawah tekanan pemerintahan. Perang tersebut merupakan sebuah perang terbesar dalam sejarah dunia. Buruh-buruh industri, kaum revolusioner profesional, berkumpul bersama bukan untuk membicarakan dan memutuskan sebuah aksi bersama, tapi untuk mempelajari sebuah ilmu yang menjadi tuntunan—sama seperti matematika tingkat tinggi—bagi perjuangan politik sehari-hari sekarang ini.

Alangkah berbedanya dengan karikatur yang menyakitkan tentang gerakan marxis seperti yang di gambarkan oleh tangan-tangan kelas kapitalis! Kelas-kelas pemilik menggambarkan kaum sosialis yang revolusioner sebagai orang-orang gila yang culas dan sedang membohongi diri sendiri dan orang lain dengan pandangan-pandangan fantastisnya tentang dunia kelas buruh.  Kita pun bisa membuat karikatur seperti itu: penguasa-penguasa kapitalis layaknya seperti anak-anak kecil yang yang sedang marah melihat gambaran sebuah dunia tanpa ada mereka atau tanpa peran sentral mereka.

Mereka mengaku bahwa mereka lebih logis dan masuk akal. Akhirnya, kini telah terbukti bahwa, dengan melihat bagaimana cara mereka memandang dunia, bisa dipisahkan siapa sebenarnya yang irasional dan siapa yang rasional dan masuk akal: kaum kapitalis kah atau musuhnya—kaum revolusioner. Susunan masyarakat pada saat ini sedang menuju ke arah kekacauaan dan berlaku seperti seorang maniak. Mereka menenggelamkan dunia ke dalam pembunuhan massal untuk kedua kalinya dalam seperempat sejarah manusia; mereka menyalakan obor peradaban; namun kemudian menghancurkannya tanpa sisa-sisa kemanusiaan. Dan juru bicara mereka selalu menyebutkan kita “gila”, dan perjuangan kita untuk sosialisme dilihat sebagai sebuah bukti yang “tidak realistis”.

Mereka yang salah! Dalam pertempuran melawan kekacauaan-gila kapitalisme, demi sebuah sistim sosialis yang bebas dari penghisapan dan penindasan kelas, bebas dari perang, bebas dari krisis, bebas dari perbudakan imperialisme dan bebas dari barbarisme—kita, kaum marxis, merupakan orang-orang yang paling beralasan dan masuk akal sepanjang hidup kita. Itu lah mengapa—tidak seperti kelompok-kelompok politik lainnya—kita harus mempelajari ilmu logika secara serius. Perjuangan kita melawan kapitalisme, demi sosialisme, tak bisa digagalkan dengan cara menghancurkan logika kita karena logika kita adalah sebuah alat yang tak dapat dihancurkan.

Logika atau cara pikir dialektika materialis, pasti lah berbeda dengan logika atau cara pikir borjuis yang ada sekarang ini. Metode kita, ide-ide kita—seperti yang ingin kita buktikan—lebih ilmiah, jauh lebih praktis dan jauh lebih “logis” ketimbang logika (cara pikir) lainnya. Kita menyusunnya dengan berbagai perbandingan dan jauh lebih lengkap karena diisi oleh prinsip-prinsip mendasar ilmu-pengetahuan yang bisa menemukan logika hakikat relasi-relasi semua realita—oleh karenanya, hukum-hukum berfikir bisa disebarkan luaskan pada yang lain (pada masyarakat di sekeliling kita yang terlihat tak berperasaan) dan dapat dipelajari. Itu lah metode kita—walaupun harus hidup di tengah-tengah kegilaan kelas kapitalis. Tugas kita adalah menemukan hukum-hukum yang paling umum dari logika terdalam alam, masyarakat dan jiwa manusia. Sementara borjuis kehilangan akal sehatnya, kita harus mencoba mengembangkan dan memperjelas logika kita.

1. Pengertian Awal Logika

Logika adalah sebuah ilmu. Setiap ilmu memperlajari suatu gerak khusus dalam hubungannya  dengan corak gerak material lainnya, dan berusaha untuk menemukan hukum-hukum umum dan corak tertentu dari gerakan tersebut. Logika adalah ilmu tentang proses berfikir. Seorang akhli logika mempelajari kegiatan-kegiatan proses berfikir yang ada di kepala setiap manusia dan mencoba merumuskan hukum-hukum, bentuk-bentuk dan inter-relasi semua proses mentalnya.

Dua tipe penting logika pernah muncul dalam dua tahap perkembangan ilmu logika, yakni: logika formal dan logika dialektik. Keduanya merupakan bentuk-bentuk perkembangan tertinggi gerak mental. Keduanya memiliki kesesuaian fungsinya—pengertian sadar terhadap semua bentuk gerak.

Walaupun kita baru saja tertarik pada dialektika materialis, jangan lah kita langsung mempelajari dialektika materialis sebagai cara berfikir. Kita harus mendekati dialektika secara tidak langsung dengan pertama kali menguji ide-ide mendasar dari jenis lain cara berfikir: cara berfikir logika formal. Sebagai metode berfikir, logika formal  adalah lawan dari dialektika materialis.

Dalam ilmu logika, mengapa kita harus memulai pelajaran kita tentang motode dialektika dengan mempelajari lawannya?

2. Perkembangan Logika

Ada beberapa alasan mengapa cara tersebut kita ambil. Pertama, dalam sejarah perkembangan cara berfikir, dialektika merupakan perkembangan lebih lanjut dari logika formal. Logika formal adalah sebuah ilmu-pengetahuan besar tentang sistim proses berfikir. Logika formal merupakan hasil karya filasat zaman yunani kuno. Pemikir-pemikir Yunani kuno awal lah yang menemukan metode berfikir. Pemikir Yunani kuno, seperti Aristoteles, mengumpulkan, mengkelasifikasikan, mengkritik dan mensistimasikan hasil-hasil positif dari berbagai pemikiran dan membangun sebuah sistim berfikir yang disebut logika formal. Euklides melakukan hal yang sama untuk dasar-dasar geoemetri; Archimides untuk dasar-dasar mekanika; Ptolomeus dari Alexandria kemudian menemukan astronomi dan geografi; dan Galen untuk anatomi.

Logika aristoteles mempengaruhi cara berfikir umat manusia selama dua ribu tahun. Cara fikir tersebut tidak memiliki lawan sampai kemudian ditantang, dijatuhkan dan menjadi ketinggalan zaman oleh dan karena dialektika, sebuah sistim besar kedua dalam ilmu cara berfikir. Dialektika merupakan hasil dari gerakan ilmu-pengetahuan revolusioner selama seabad, yang dilakukan oleh pekerja-pekerja intelektual. Dialektiaka  muncul sebagai cara fikir terbaru dari filsuf-filsuf besar dalam Revolusi Demokratik di Eropa Barat pada abad ke-6 dan abad ke-17. Hegel, seorang tokoh dari sekolah filsafat idealis (borjuis) di Jerman, adalah seorang guru besar yang pertama kali mentransformasikan ilmu logika, seperti di sebutkan oleh Marx: “bentuk-bentuk umum gerakan dialektika yang memiliki cara yang  komprehensif dan sadar sepenuhnya.”

Marx dan Engels adalah murid Hegel di lapangan Logika. Dalam ilmu logika, mereka berdua lah yang kemudian melakukan revolusi pada revolusi Hegelian—dengan menyingkirkan elemen mistik dalam dialektikanya, dan menggantikan dialektika idealistik dengan sebuah landasan material yang konsisten.

Pada saat kita mendekati dialektika materialis dengan menggunakan logika formal,  kita harus memundurkan langkah kita pada sejarah aktual kemajuan ilmu logika, yakni perkembangan dari logika formal menuju ke logika dialektik.

Adalah salah jika kita mengira bahwa sejarah perkembangan cara berfikir adalah seperti ini: bahwa para filsuf Yunani tidak mengetahui soal dialektika; atau mengira Hegel dan Marx menolak sepenuhnya logika formal. Seperti yang dituliskan oleh Engels: “filsuf yunani kuno sudah dialektik sejak kemunculannya dan Aristoteles, sebagai intelektual yang paling ensiklopedis di antara mereka, bahkan sudah menganalisa bentuk-bentuik paling esensial pemikiran dialektik.” Tak ketinggalan pula, dialektika muncul dalam bentuk cikal bakalnya dalam pemikiran filsuf Yunani. Namun filsuf Yunani belum dan tidak dapat mengembangkan serpihan-serpihan pemikiran dialektik dalam sebuah sistimatika berfikir yang ilmiah. Mereka menyumbangkan serpihan-serpihan pemikiran tersebut hingga menjadi bentuk akhir logika formal Aristoteles. Pada saat yang bersamaan, penelitian dialektika mereka, kritisisme pada cara fikir formal dan sebaliknya—dan semua persoalan yang dihadapinya—dilakukan dengan keterbatasan logika formal, yang diperjuangkan selama berabad-abad—yang, kemudian, dapat diselesaikan oleh dialektika hegelian dan, kini, oleh dialektika marxis.

Para akhli Dialektika modern tidak melihat logika formal sebagai sesuatu yang tak berguna. Sebaliknya, mereka menganggap bahwa logika formal tidak sekadar sesuatu yang penting dalam sejarah perkembangan metode berfikir tapi juga cukup penting pada saat ini agar berfikir benar. Tapi, dalam dirinya, logika formal jelas kurang lengkap. Unsur-unsur absyahnya menjadi bagian dalam dialektika. Hubungan antara logika formal dengan dialektika menjadi berkebalikan.  Di dalam pemikiran Yunani klasik sisi formal logika menjadi dominan dan aspek dialektiknya menjadi tergeser. Dalam ajaran modern, dialektika berada di garda depan dan sisi formal logika menjadi sub-ordinat terhadapnya.

Karena kedua tipe yang bertentangan tersebut memiliki banyak kesamaan, dan logika formal masuk sebagai materi struktural dalam kerangka logika dialektik, maka berguna sekali bagi kita menguasai logika formal. Dalam mempelajari logika formal secara tak langsung kita sudah siap menuju logika dialektik. Dengan mengakui,  atau setidaknya sedikit mengakui, logika formal, kita telah siap memisahkan logika formal dari logika dialektik. Hegel menunjukkan hal yang sama: ”Dalam kedekatannya yang terbatas (antara logika formal dan logika dialektik) terdapat suatu kotradiksi yang bisa menyumbangkan sesuatu ke belakang dirinya (logika dialektik).”

Akhirnya, lewat prosedur tersebut, kita mendapatkan pelajaran berharga dalam pemikiran dialektik. Hegel menjelaskan lagi: “Sesuatu tidak bisa dikenali secara menyeluruh sebelum mengenali lawannya.” Contohnya, kau tidak dapat benar-benar mengerti tentang seorang buruh-upahan sampai kau mengetahui bagaimana sebaliknya lawan sosial ekonominya, kelas kapitalis. Kau tidak dapat mengetahui Trotskyisme  sampai kau mempelajari secara mendalam esensi antitesis politiknya, yakni Stalinisme. Jadi kau tak akan bisa mempelajari kedalaman dialektika tanpa pertama kali mempelajari secara mendalam sejarah pendahulunya dan antitesis teoritisnya, yakni logika formal.

3. Tiga Hukum Dasar Logika Formal

Ada tiga hukum dasar logika formal. Yang pertama dan terpenting adalah hukum identitas. Hukum tersebut dapat disebutkan dengan berbagai cara seperti: “sesuatu adalah selalu sama dengan atau identik dengan dirinya, dalam Aljabar: A sama dengan A.”

Rumusan khusus hukum tersebut tak terlalu penting. Pemikiran esensial dalam hukum tersebut adalah seperti berikut. Dengan mengatakan bahwa sesuatu itu sama dengan dirinya, maka dalam segala kondisi tertentu sesuatu itu tetap sama dan tak berubah. Keberadaannya absolut. Seperti yang dikatakan oleh akhli fisika: ” materi tidak dapat di buat dan dihancurkan.” Materi selalu tetap sebagai materi.

Jika sesuatu adalah selalu dan dalam semua kondisi sama atau identik dengan dirinya, maka ia tidak dapat tidak sama atau berbeda dari dirinya. Kesimpulan tersebut secara logis patuh pada hukum identitas: Jika A  selalu sama dengan A, maka ia tidak pernah sama dengan bukan A (Non-A).

Kesimpulan tersebut dibuat secara eksplisit dalam hukum kedua logika formal: hukum kontradiksi. Hukum kontradiksi menyatakan bahwa A adalah bukan Non-A. Itu tidak lebih dari sebuah rumusan negatif dari pernyataan posistif, yang dituntun oleh hukum pertama logika formal. Jika A adalah A, maka menurut pemikiran formal, A tidak dapat menjadi Non-A. Jadi hukum kedua dari logika formal, yakni hukum kontradiksi, membentuk tambahan esensial pada hukum pertama. Beberapa contoh: manusia tidak dapat menjadi bukan manusia; demokrasi tidak dapat menjadi tidak demokratik; buruh-upahan tidak dapat menjadi bukan buruh-upahan.

Hukum kontradiksi menunjukkan pemisahan perbedaan antara esensi materi dengan fikiran. Jika A selalu sama dengan dirinya maka ia tidak mungkin berbeda dengan dirinya. Perbedaan dan persamaan menurut dua hukum di atas adalah benar-benar berbeda, sepenuhnya tak berhubungan, dan menunjukkan saling berbedanya antara karakter benda (things) dengan karakter fikiran (thought)

Kwalitas yang saling berbeda dan terpisah dari setiap benda ditunjukkan dalam hukum yang ketiga logika formal. Yakni: hukum tiada jalan tengah. (the law of excluded middle). Menurut hukum tersebut segala sesuatu hanya memiliki salah satu karakteristik tertentu. Jika A sama dengan A, maka ia tidak dapat sama dengan Non-A. A tidak dapat menjadi bagian dari dua kelas yang bertentangan pada waktu yang bersamaan. Dimana pun dua hal yang berlawanan tersebut akan saling bertentangan, keduanya tidak dapat dikatakan benar atau salah. A adalah bukan B; dan B adalah bukan A. Kebenaran dari sebuah pernyataan selalu menunjukkan kesalahan (berdasarkan lawan pertentangannya) dan sebaliknya.

Hukum yang ketiga tersebut adalah sebuah kombinasi dari dua hukum pertama dan berkembang secara logis.

Ketiga hukum tersebut mencakup sebagian dasar-dasar logika formal. Alasan-alasan formal berjalan menurut proposisinya. Selama 2.000 tahun aksioma-aksioma yang jelas dalam sistim berfikir Aristoteles telah menguasai cara berfikir manusia, layaknya hukum pertukaran dari nilai yang sama, yang telah membentuk fondasi bagi produksi komoditi masyarakat.

Lihatlah contoh dariku tentang sistim berfikir Aristoteles, sebagai berikut: dalam bukunya yang berjudul Posterior Analytics ( Buku I; Bagian 33), Aristoteles mengatakan bahwa seseorang tidak dapat secara terus menerus memahami bahwa manusia pada dasarnya adalah hewan, dengan demikian bisa juga dikatakan bahwa manusia adalah bukan hewan. Dengan demikian, manusia pada dasarnya adalah  seorang manusia dan tidak dapat dianggap bukan manusia.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan dalam hukum logika formal. Kita mengetahui bahwa hal itu berlawanan dengan kenyataan. Teori perkembangan alam mengajarkan bahwa tidak bisa lain—manusia pada dasarnya adalah binatang. Secara logika manusia adalah binatang. Tapi kita ketahui juga dari teori evolusi sosial, bahwa manusia adalah kelanjutan dari perkembangan evolusi binatang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa secara esensial ia adalah manusia, yang spesiesnya cukup berbeda dengan binatang lainnya. Kita mengetahui bahwa hal tersebut merupakan dua hal: yang satu dengan yang lainnya berbeda pada saat yang bersamaan. Aristoteles dan hukum logika formal tidak dapat berlaku lagi.

4. Isi Material dan Realitas Obyektif Hukum-hukum Tersebut

Kita bisa melihat dari contoh tersebut betapa cepat dan spontannya karakter dialektik suatu materi, oleh karena itu, dengan segera, muncul lah pemikiran yang merupakan cermin kritis terhadap pikiran formal. Walaupun ada suatu intensitas yang mengetatkan logika formal, namun tetap saja kita akan tergiring dan terdorong untuk melangkah lebih ke depan, melewati batas logika formal, pada saat kita hendak mencari kebenaran sesuatu hal. Dan sekarang kita kembali kepada logika formal

Seperti yang aku katakan sebelumnnya, dialektika modern tidak menolak kebenaran yang dikandung oleh hukum-hukum logika formal. Sikap penolakan terhadap logika formal akan berlawanan dengan semangat dialektika, yang melihat beberapa kebenaran dalam kenyataan logika formal itu sendiri. Pada saat bersamaan, dialektika membuat kita bisa melihat batas-batas dan kesalahan dalam memformalkan pandangan tentang sesuatu.

Hukum-hukum logika formal berisikan unsur-unsur kebenaran yang sangat penting dan tak bisa ditolak. Semua hukum tersebut bukan lah merupakan jeneralisasi pikiran-pikiran yang random dan hasil khayalan yang tak berarti. Hukum-hukum tersebut keluar lewat sebuh proses dunia nyata yang, selama ribuan tahun, oleh Aristoteles dan para pengikutnya, digunakan oleh peradaban manusia. Jutaan orang yang belum pernah mendengar tentang Aristoteles dan pikiran-pikirannya, sampai sekarang, berpikir untuk mengabaikan hukum-hukum awal yang pertama kali dirumuskannya. Mereka, yang seperti itu, tak akan bisa sampai mengerti tentang hukum-hukum gerak Newton—walaupun mereka dapat melihat kerangka fisik setiap hasil pemikiran Newton, namun mereka gagal memahami teori Hukum Newton tersebut secara lengkap. Dalam dunia obyektif, mengapa orang berfikir dan melakukan pensejajaran antara hukum-hukum Newton dengan hukum-hukum Aristoteles. Karena, kenyatannya, hukum berpikir Aristotles memiliki isi yang material, sama halnya juga dalam dunia objektif, sama halnya juga dalam hukum gerak mekanika Newton. “…metode berpikir kita, apakah itu logika formal atau  logika dialektik, bukan lah sebuah susunan serampangan akal sehat kita tapi lebih sebagai sebuah ekspresi interelasi-aktual dalam alam kita sendiri.”[1]

Karakter macam apa yang ada dalam realitas material yang hendak dicerminkan, dan secara konseptual dihasilkan kembali, oleh hukum-hukum berfikir formal?

Hukum identitas bertujuan merumuskan fakta material agar bisa mendefinisikan segala sesuatu dan memperlakukan segala hal dalam semua perubahan fenomenanya. Dimana pun kelanjutan (perubahan) esensial hadir dalam realitas, hukum identitas tetap bisa mendeteksinya.

Kita tak bisa berbuat atau berfikir secara sadar bila menolak hukum tersebut. Jika kita tidak bisa lagi mengenali diri kita sendiri karena amnesia atau karena sesuatu hal—karena kerusakan mental, misalnya—hingga menghilangkan kesadaran identitas pribadi kita, maka diri kita akan hilang. Tapi hukum identitas hanya lah absyah untuk melihat dunia secara universal ketimbang untuk melihat kesadaran manusia itu sendiri. Hukum tersebut muncul setiap hari dan dimana saja dalam kehidupan sosial. Jika kita tidak bisa mengenali bagian mental yang sama, lewat beberapa tindakan, maka kita tidak akan bisa melakukan produksi. Jika seorang petani tidak bisa mengerti perkembangan jagung yang ia tanam dari biji sampai menghasilkan jagung lagi, dan kemudian menjadi bahan makanan, maka tidak mungkin ada pertanian.

Anak-anak yang telah mengerti lebih jauh, bisa memahami alam dunianya saat pertama kali ia menemukan fakta bahwa ibu yang menyusuinya adalah orang yang sama yang, dengan berbagai cara, memberinya makan. Pengenalan kebenaran dengan cara seperti itu tak lain merupakan sebuah contoh khusus tentang pengenalan terhadap hukum identitas.

Jika kita tidak jernih melihat proses perkembangan dan perubahan-perubahan menuju negara kelas pekerja, maka kita tentu saja akan dengan mudah terjebak dalam kekacauan pemahaman saat berupaya untuk mengerti tentang perjungan kelas yang ada sekarang. Dalam kenyataannya, oposisi borjuis kecil menjawab dengan cara yang salah ketika merespon persoalan yang terjadi di Rusia, tidak hanya karena mereka menolak metode dialektik, tapi juga karena mereka tak bisa mengaplikasikan hukum identitas secara tepat. Dalam proses perkembangan Soviet Rusia, mereka tak bisa melihat—lepaskan dari Uni Sovyet yang di bangun selanjutnya oleh rejim Stalin—bahwa Uni Soviet bisa mempertahankan landasan–landasan sosial ekonomi negara kelas pekerja, yang didirikan oleh kelas buruh dan petani Rusia setelah revolusi oktober. Kelasifikasi secara benar, yang lepas dari perbandingan yang berbasiskan suka tidak suka, merupakan suatu basis yang sangat penting dan sebagai langkah awal dalam investigasi ilmiah. Kelasifikasi sangat penting untuk memilah penambahan terhadap kelas yang sama dan pengurangan terhadap kelas yang berbeda serta untuk menyatukan kelas-kelas yang berbeda—semua itu tak mungkin dilakukan tanpa menggunakan hukum identitas. Teori Darwin tentang revolusi pengorganisasian manusia berasal dan tergantung dari pengenalan terhadap identitas esensial berbagai makhluk yang berbeda di atas bumi ini. Hukum gerak mekanik Newton dapat disimpulkan berasal dari gerak massa, dari logika batu jatuh hingga planet-planet yang berputar dalam sistim matahari. Semua ilmu-pengetahuan lahir dan merupakan bagian dari hukum  identitas.

Hukum identititas mengarahkan hingga bisa mengenali keragaman, perubahan permanen, kesamaan, pemisahan dan penampakan yang berbeda, guna mencakup keseluruhan semua itu, serta guna mendapatkan penghubung antar fase-fase berbeda dari fenomena tertentu. Oleh sebab itu, penemuan dan penggunaan hukum tersebut disimpulkan telah membuat sejarah dalam pemikiran ilmiah dan, oleh karenanya, kita memberikan penghargaan pada Aristoteles untuk semua yang telah dirumuskannya. Oleh karena itu pula, manusia berbuat dan berpikir sesuai dengan hukum dasar logika fiormal tersebut.

Mungkin akan muncul pertanyaan: “bagaimana hukum tersebut berlaku secara gampangannya?  Jawabnya: fakta bahwa sesuatu adalah sesuatu.

Amat lah penting kehadiran hukum dasar tersebut dalam sejarah. Merupakan sebuah kemajuan yang besar sekali dalam sistim pengetahunan tentang dunia ketika manusia menemukan bahwa awan, uap, hujan dan es semuanya berasal dari air. Atau bawah surga dan bumi adalah dua hal yang bertentangan namun juga sama (surga di bumi). Ilmu Biologi mengalami revolusi dengan penemuan bahwa kehidupan organisme bersel satu dan manusia terdiri dari substansi yang sama. Ilmu fisika mengalami revolusi dengan bisa ditunjukkannya bahwa semua bentuk gerak material dapat saling bertukar dan secara esensial sama.

Tidak kah merupakan sebuah langkah yang menakjubkan dalam pengetahuan sosial dan politik ketika kelas pekerja menemukan pengetahuan, di satu sisi, bahwa upah kerja adalah upah kerja dan, di sisi lain, kapitalis adalah kapitalis. Pengetahuan bahwa buruh di mana saja memiliki kepentingan yang sama, menembus batas wilayah, nasional dan ras. Sehingga pengakuan terhadap kebenaran yang berasal dari hukum identitas adalah sebuah syarat untuk menjadi seorang sosialis yang revolusioner.

Satu hal, bagaimanapun kita memperhatikan dan menggunakan suatu hukum, adalah merupakan hal yang berbeda dengan mengerti dan memformulasikannya dalam sebuah cara yang ilmiah. Semua orang dapat bertindak sesuai dengan hukum namun sulit untuk mengetahui bagaimana hukum tersebut beroperasi. Sama dengan hukum logika itu sendiri. Setiap orang berpikir tapi tak seorang pun tahu hukum yang mana yang sedang berlangsung dalam pemikirannya.

Hukum kontradiksi merumuskan fakta-fakta material yang hadir secara bersamaan dengan yang lainnya, dan bisa dalam keadaan-keadaan yang berbeda-beda. Secara nyata aku tidak sama dengan anda—jelas kita berbeda. Atau aku hari ini berbeda dangan aku kemarin—jelas keberadaanku berbeda. Atau Uni Soviet berbeda dengan negeri lainnya, dan perkembangan Uni Soviet membedakan Uni Sovyet dahulu dengan Uni Sovyet sekarang—jelas perbedaan-perbedaannya.

Hukum formal kontradiksi, atau  penajaman perbedaan-perbedaan adalah penting untuk memperoleh kelasifikasi yang tepat sesuai dengan hukum identitas. Tanpa keberadaan perbedaan-perbedaan tersebut, tak perlu ada kelasifikasi, tanpa identitas maka tak mungkin melakukan kelasifikasi.

Hukum tak ada jalan tengah (excluded middle) menunjukkan bahwa semua hal saling bertentangan dan saling mengisi dalam kenyataannya. Aku pasti lah aku atau orang lain; hari ini aku seharusnya sama atau berbeda dengan kemarin; Uni Soviet seharusnya sama atau berbeda dengan negeri lain; aku pasti lah manusia atau binatang; aku tidak dapat secara bersamaan merupakan dua identitas yang berbeda.

Oleh karenanya, hukum logika formal mengekspresikan masa depan yang merepresentasikan dunia nyata. Hukum-hukum tersebut berisi suatu materi dan  suatu dasar objektif. Hukum-hukum tersebut secara bersamaan merupakan hukum berfikir, hukum masyarakat dan hukum alam. Ketiga akar Hukum tersebut memiliki karakter universal.

Ketiga hukum yang kita pelajari di atas bukan merupakan keseluruhan logika formal. Namun merupakan hukum-hukum dasar yang sederhana. Di atas dasar itu lah,  dan di luar darinya lah, muncul sejumlah struktur ilmu logika yang kompleks, yang memiliki kerumitan rincian-rincian setiap elemennya, dan yang di dalamnya memiliki bentuk mekanisme berpikir. Tapi kita tak akan masuk ke diskusi tentang berbagai kategori, bentuk proposisi, sikap-sikap, silogisme dan yang lainnya, yang membentuk isi tubuh logika formal. Hal tersebut bisa dicari di buku tentang logika elementer lainnya. Secara prinsipil kita lebih peduli pada pemahaman ide-ide esensial logika formal, tapi bukan pada detail perkembangannya.

5. Logika Formal dan Akal Sehat

Dalam lingkaran intelektual borjuis, akal sehat dijadikan satu pola dan cara berfikir serta menjadi penuntun tindakan. Hanya ilmu-pengetahuan yang dilandasi akal sehat lah yang bisa berada pada hirarki nilai yang tinggi. Atas nama akal sehat dan ilmu-pengetahuan, misalnya, Max Eastman menuduh Marxis sebagai penjunjung dialektika metafisik dan mistik. Sialnya, ideolog-ideolog borjuis dan borjuis kecil jarang menginformasikan pada kita apa sisi logis akal sehat mereka dan bagaimana hubungan antara akal sehat dengan ilmu-pengetahuan? Kita akan menjawab mereka! Kenyataannya, mereka yang anti dialektika sebenarnya tidak hanya tidak tahu apa dialektika itu. Mereka bahkan tak tahu apa logika formal itu. Hal itu tidak mengejutkan. Apa kah kelas kapitalis tahu apa itu kapitalisme, bagaimana hukum-hukumnya beroperasi? Jika mereka tahu, mereka akan sadar akan krisis dan perang yang mereka buat, dan tak akan seyakin sekarang dengan sistim yang mereka nikmati itu. Stalinis tak tahu apa sebetulnya stalinisme itu dan akan ke mana arah sistim tersebut. Jika mereka tahu mereka tidak akan lagi menjadi Stalinis, atau mereka akan menjadi sesuatu yang lain.

Sejauh ini, akal sehat masih secara sistimatis tersusun dan memiliki karakter logis, serta akal sehat menyatu dengan logika formal. Akal sehat bisa diurai menjadi bentuk yang tidak sistimatis dan setengah sadar dalam hubungannya dengan ilmu-pengetahuan logika formal. Ide-ide dan metode logika formal yang digunakan sekarang, sebenarnya, telah digunakan sejak berabad-abad yang lalu, memiliki saling hubungan dengan proses berfikir kita, masuk dalam pabrik peradaban kita, dan nampak bagi kebanyakan orang  sebagai sesuatu yang normal, ekslusif, serta bercorak pikir wajar. Konsepsi dan mekanisme logika formal, seperti silogisme, merupakan alat berfikir yang seakrab dan seuniversal layaknya pisau tajam.

Seperti kita ketahui, borjuis percaya bahwa masyarakat kapitalis akan abadi karena, menurut mereka, merupakan hal yang ilmiah dan tak dapat diubah. Sosialisme, kata mereka, adalah tidak mungkin dan tidak masuk akal sehat karena manusia akan selalu terbagi ke dalam dua kelas yang saling bertentangan. yakni yang kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang lemah, pemerintah dan yang diperintah, yang bermilik dan yang tak bermilik, dan setiap kelas akan berjuang sampai mati demi hidup yang lebih baik. Sebuah bentuk organisasi sosial yang tanpa kelas, yang terencana sehingga tidak anarki, yang melindungi si lemah melawan si kuat, terlihat absur, tak masuk akal, bagi mereka. Mereka melihat ide sosialis sebagai fantasi, harapan-harapan kosong.

Sampai kita tahu sosialisme bukan lah sebuah mimpi tapi sebuah keniscayaan sejarah. Sebagai sebuah tahapan evolusi sosial selanjutnya. Kita tahu kapitalisme tidak lah abadi tapi suatu bentuk sejarah tertentu cerminan produksi material, yang terbentuk karena perkembangan produksi sosial, dan takdirnya: akan digantikan oleh bentuk yang lebih superior, produksi sosialis.

Mari kita lihat ilmu berpikir dari satu titik yang sama, yakni dengan melihat pada ilmu sosial. Pemikir-pemikir Borjuis dan borjuis kecil percaya bahwa pemikiran formal adalah bentuk akhir yang sudah final dan pas. Mereka menolak dilalektika materialis sebagai bentuk tertinggi pemikiran.

Kau ingat, ketika seseorang bertanya tentang kapitalisme permanen atau berargumentasi tentang pentingnya sosialisme, kau akan jatuh dalam keraguan pada ide-ide revolusioner yang baru. Kenapa? Karena dirimu telah diperbudak oleh ide penguasa zaman kita yang, seperti di katakan Marx, sebagai ide-ide kelas penguasa. Ide-ide kelas penguasa dalam ilmu logika sekarang ini adalah ide-ide logika formal yang lebih rendah, lebih hina, dari akal sehat. Semua bagian dan kritik dialektika sebenarnya berdiri di atas landasan logika formal—terserah mereka mau mengakuinya atau tidak.

Tak diragukan lagi, dalam masyarakat kita, ide-ide logika formal berisikan semua praduga teoritis yang paling kepala batu. Meski telah beberapa orang menanggalkan keyakinannya terhadap kapitalisme, dan telah menjadi sosialis yang revolusioner, bisa saja mereka belum secara keseluruhan bisa melepas kebiasaan logika formal mereka yang diperoleh dari kehidupan borjuis sebelumnya. Kesungguhan seorang akhli dialektika bisa mengalami kemunduran jika mereka tak berhati-hati dan sadar dalam cara berfikirnya.

Marxisme, selain menolak keabadian kapitalisme, ia juga menolak keabadian kelas kapitalis. Pemikiran manusia telah berubah dan berkembang sepanjang perkembangan umat manusia. Hukum berpikir tidak lah lebih abadi daripada hukum yang ada di masyarakat. Sama halnya dengan kapitalisme, yang hanya sekadar sebuah mata-rantai bentuk sejarah produksi sosial, demikian halnya dengan logika formal, yang  hanya sekadar sebuah mata-rantai bentuk sejarah produksi intelektual. Seperti halnya kekuatan sosialisme, yang sedang berjuang untuk menggantikan bentuk produksi sosial kapitalisme dengan sebuah sistem yang lebih berkembang dan maju, demikian pula halnya pembela dialektika materialis, sebagai sebuah logika sosialisme ilmiah, sedang berjuang melawan logika formal yang telah ketinggalan zaman. Perjuangan teoritis dan praktek politik praktis merupakan bagian yang integral satu dengan yang lainnya, dan sama-sama berada dalam proses revolusioner.

Sebelum kemunculan astronomi modern, orang-orang percaya bahwa matahari dan planet lainnya mengitari bumi. Mereka secara tidak kritis percaya pada pembuktian akal sehat yang ditangkap oleh mata. Aristoteles mengajarkan bahwa bumi telah pas dan sempurna. Tahun ini adalah peringatan 400 tahun  penerbitan buku Copernicus. Sebuah revolusi pemikiran tentang tata surya, yang menumbangkan pemikiran bahwa bumi adalah pusat kekuasaan.

Seabad kemudian Galileo membuktikan kebenaran teori Copernicus. Semua profesor yang bertentangan dengan Copernicus mencemohkannya, seperti yang dikeluhkan Galileo: ”Aku berharap bisa menunjukkan bahwa planet Yupiter, yang menjadi satelit bagi para profesor di Florence, bisa mereka lihat lewat mata mereka sendiri atau dengan teleskop.” Para profesor tersebut, atas nama teori Aristoteles, menyerukan perlawanan terhadap usaha Galileo tersebut, dan akhirnya menggunakan kekuasaan untuk memenjarakan Galileo. Pelayan-pelayan negara dan gereja tersebut berhasil menekan argumen Galileo, melarang pengedaran bukunya, menteror dan bahkan membunuh lawan-lawan ilmuwan lainnya karena ide-ide mereka sangat revolusioner. Mereka membudak pada dominasi kelas penguasa.

Sama halnya dengan dialektika, khususnya dialaektik materialis, ide dan metode nya bahkan lebih revolusioner ketimbang ide Copernicus tentang Astronomi. Pertama pemutarbalikan sorga yang selama ini diagungkan oleh abad tengah, kemudian penajaman terhadap kelas progresif dalam masyarakat yang akan memutarbalikan masyarakat kapitalis. Itu lah sebabnya ide-ide dialektika materialis sangat ditentang oleh para pembela logika formal dan akal sehat. Besok, dengan revolusi sosialis, dialektika akan menjadi akal sehat dan logika formal akan mengambil posisi sub-ordiansi, hanya dianggap sebagai penolong dalam cara berfikir ketimbang seperti yang berlaku sekarang ini—mendominasi pemikiran, menyesatkan fikiran dan menghambat semua kemajuan berfikir yang menjadi tuntutan zaman.

Bahan II: Keterbatasan Logika Formal

 Pada bahan pelajaran pertama kita telah menjawab tiga pertanyaan. 1.  Apa itu logika? Kita mendifininisikan logika sebagai sebuah ilmu proses berpikir dalam hubungannya dengan semua proses yang lain di dunia ini. Kita telah belajar mengetahui dua sistim penting dalam logika: logika formal dan logika dialektik. 2.  Apa itu logika formal? Kita telah belajar memahami bahwa logika formal adalah cara berpikir yang didominasi oleh hukum identitas, hukum kontradiksi dan kukum tak ada jalan tengah (excluded middle). Kita telah paham bahwa ketiga hukum fundamental logika formal tersebut memiliki isi materi dan basis objektif;  yang dirumuskan secara eksplisit berdasarkan logika instinktif yang ada pada akal sehat; yang bersisikan aturan-aturan berfikir dalam kehidupan borjuis. 3.  Apa hubungan antara logika formal dan logika dialektik? kedua sistim  berfikir tersebut  tumbuh dan berhubungan di dua tahap yang berbeda dalam perkembangan ilmu-pengetahuan berfikir. Logika formal berkembang secara dialektik dalam evolusi sejarah logika, seperti yang biasa terjadi dalam perkembangan intelektual seseorang. Kemudian logika dialektik muncul sebagai kritik terhadap logika formal, menjatuhkan dan menggantikannya. Logika dialektik menjadi lawan yang revolusioner, mengambil alih dan menjadi solusi. Dalam pelajaran kedua ini, kita berharap bisa mengungkap keterbatasan logika formal, dan mendapatkan bagaimana dialektika bangkit karena ujian kritis terhadap ide-ide fundamentalnya. Saat ini kita telah memahami apa yang menjadi dasar logika formal, dan apa yang dicerminkannya dari realita,  mengapa menjadi penting dan bermanfaat bagi proses berfikir, dan sekarang kita akan melangkah lebih jauh lagi untuk melihat apa yang menjadi distorsi dalam logika formal serta apa yang harus ditolak dari logika formal. Kita akan melihat sisi yang tak bermanfaat dari logika formal.

Dalam langkah selanjutnya dari investigasi kita, kita tak akan mendapatkan hasil negatif yang bisa dijadikan alasan keraguan kita sehingga harus menolak seluruh bagian dari logika formal. Sebaliknya, justru kita akan mendapatkan hasil yang paling positif. Walaupun terdapat beberapa kekurangan dalam logika formal, namun terdapat juga beberapa karakter penting yang bisa diambil dari logika formal yang bisa menyempurnakan logika penggantinya, logika dialektik. Sehingga dalam proses pembelahan logika elementer dan pemisahan unsur yang absyah dari yang salah, kita bisa mendapatkan sebuah landasan bagi dialektika. Tindakan kritis dan kreatif, negasi dan affirmasi, saling bergandengan sebagai dua sisi dari proses yang sama.

Kedua gerak penghancuran dan pembentukan dilahirkan tidak saja dalam evolusi logika tapi juga dalam semua proses. Setiap lompatan ke depan, setiap tindakan kreatif melibatkan penghancuran. Agar dapat lahir, seekor anak ayam harus memecahkan kulit telor yang membungkusnya, yang telah menjadi tempat tinggal dan sumber kehidupan pada tahap tertentu. Sehingga, agar mendapatkan ruang bagi kebebasannya dan melanjutkan perkembangan selanjutnya, ilmu berpikir harus menghancurkan kulit pembungkus logika formal. Logika formal selalu mulai dengan preposisi: A adalah selalu sama dengan A. Kita mengakui bahwa hukum tentang identitas ini mengadung beberapa kebenaran, yang merupakan sebuah fungsi  yang tidak bisa dipisahkan dalam pengetahuan berfikir, dan yang selanjutnya digunakan dalam peradaban mansuia di dalam kegiatan sehari-harinya. Tapi sejauh mana kebenaran hukum tersebut? Apakah hukum tersebut bisa terus menjadi penuntun dalam realitas yang menjadi lebih kompleks? Demikian lah, pertanyaan selanjutnya. Pembuktian salah benarnya setiap preposisi diperoleh dengan melihat realitas objektif dan praktek nyatanya, derajatnya dan isi  konkrit yang terkandung dalam preposisi tersebut. Apa kah isinya berhubungan dengan sebuah output yang bisa dihasilkan oleh realitas, sehingga preposisi itu menjadi benar. Jika tidak, maka preposisi tersebut tidak bisa dibenarkan. Sekarang apa yang bisa kita dapat saat harus berhadapan dengan realitas, bukti apa yang bisa membenarkan kebenaran preposisi: A sama denan A? Ternyata, tak ada sesuatu pun dalam realita yang secara sempurna sama dengan isi preposisi tersebut. Sebaliknya, kebalikan dari aksioma tersebut jauh lebih mendekati pada kebenaran. Bagaimanapun kita berusaha membuktikan bahwa A sama daengan A—ternyata, kita tidak bisa berhasil secara sempurna.  Seperti kata Trotsky: “…meneliti dua huruf tersebut di bawah sebuah lensa pembesar—satu dengan yang lainnya sama sekali berbeda. Namun, orang bisa saja berkeberatan, karena hal-hal lain (misalnya) semata-mata merupakan simbol bagi kuantitas-kuantitas yang sederajat, contohnya, satu pon gula, masalahnya bukan ukuran atau bentuk dari huruf-huruf tersebut.” “Di samping kecurigaan ekstrim pada nilai praktis. Hal tersebut juga menunjukan ketidakkritisan teoritis. Bagaimana dengan momentum? Hal yang pertama tentu berbeda momentumnya dengan hal yang kedua karena segalanya ada dalam kurun waktu tertentu. Waktu adalah sebuah unsur yang paling fundamental bagi keberadaan.  Sehingga aksioma A sama dengan A akan berlaku jika tidak ada perubahan, jika tidak, maka aksioma tersebut tidak akan berlaku”[2] Itu lah sebabnya beberapa pembela logika formal mencoba membela diri dengan berkata: memang benar hukum identitas tidak bisa absolut, tapi itu tidak berarti kita dapat menolak prinsip tersebut. Kebenaran tersebut adalah absyah walaupun tidak berhubungan dengan realitas. Posisi  mereka tidak bisa memahami kontradiksi; justru, dengan demikian, semakin menunjukkan bahwa, dalam pandangan mereka, hukum identitas tersebut hanya berlaku sejauh tidak berhubungan dengan realitas, dan jika berhubungan dengan realitas maka hukum tersebut justru akan mendatangkan kesalahan-kesalahan tertentu. Seperti yang di kemukakan oleh Trotsky: “Aksioma A sama dengan A menunjukkan  suatu titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kebenaran pengetahuan kita namun, di sisi yang lain, juga merupakan titik keberangkatan menuju ke keseluruhan kesalahan pengetahuan kita.”[3] Bagaimana mungkin sesuatu hal, yang ada dalam hukum yang sama, menjadi sumber bagi kedua pengetahuan—pengetahuan yang salah dan pengetahuan yang benar? Kontradiksi tersebut dapat dijelaskan oleh fakta bahwa hukum identitas memiliki dua sisi karakter: kesalahan dan kebenaran. Hukum identitas memiliki kebenaran pada batas-batas tertentu. Batasan tersebut dikarenakan karakter esensialnya, yang ditunjukkan oleh perkembangan aktual obyek pertanyaannya. Di sisi lain, dilihat dari tujuan praktis cara pandang tertentu. Sekali waktu, batasan-batasan tersebut muncul, sehingga hukum identitas tidak lagi tepat dan berbelok menjadi kesalahan. Semakin jauh kita maju tanpa pegangan batasan tersebut, semakin jauh pula hukum identitas tersebut menyeret kita membelok dari kebenaran. Hukum yang lain mungkin akan mengoreksi kesalahan yang semakin banyak tersebut, namun tidak terlepas juga kemungkinannya akan masuk ke persoalan yang lebih kompleks dan yang lebih baru lagi. Mari kita lihat contohnya. Dari Albany ke New York hanya disusuri oleh sungai Hudson, tak ada yang lainnya. A selalu sama dengan A. Dengan keterbatasan tersebut akan sulit untuk memastikan bahwa sungai Hudson tersebut merupakan satu-satunya sumber air yang ada, dan sama dari hilir sampai muara, sungai Hudson. Setelah sampai di muara pelabuhan New York, ternyata sungai Hudson telah kehilangan identitasnya dan menyatu dengan Samudra Atlantik. Sedangkan air Sungai Hudson, terpecah  menjadi beberapa anak-anak sungai yang lain yang, walaupun berasal dari mata air yang sama, tapi memiliki identitas yang berbeda-beda dan materi yang berbeda pula, jauh berbeda dengan sungai Hudson itu sendiri.  Sehingga di kedua tempat tersebut—sumber mata air dan muaranya—identitas Sungai Hudson menghilang, tak lagi seutuhnya sama. Demikian pula halnya dengan kemungkinan hilangnya identitas di sepanjang sungai Hudson tersebut. Identitas sungai tersebut tergantung pada kedua sisi parit yang menahan aliran airnya. Namun, jika sungai tersebut pasang atau surut, atau jika terjadi erosi, maka parit tersebut akan berubah. Hujan dan banjir akan merubah batasan-batasan sepanjang sungai itu secara permanen atau sementara. Walaupun sungai tersebut tetap bernama Hudson, namun isinya tak akan pernah berupa air yang sama. Setiap tetesnya sudah berbeda. Oleh karenanya, sungai Hudson tersebut terus berubah identitasnya setiap saat.

Atau coba kita lihat contoh Dolar yang di kemukakan Trotsky. Kita biasanya mengasumsikan bahwa mata uang Dolar adalah mata uang Dolar itu sendiri. A sama dengan A. Tapi kita mulai sadar sekarang bahwa Dolar sekarang berbeda nilainya dengan dolar pada waktu yang lampau. Dolar tersebut semakin berkurang nilainya. Pada tahun 1942 kemampuan dolar hanya tiga perempat kemampuan pada tahun 1929.

Sepertinya, dolar tidak berubah dan hukum identitas masih bisa di gunakan, tapi, pada saat yang sama, nilainya juga sudah berubah. “Pemikiran ilmiah kita hanya lah salah satu bagian dari keseluruhan tindakan praktek kita, termasuk teknik-teknik. Dalam konsep-kopsep, eksistensi “toleransi” juga diperkenankan. Toleransi tersebut ditegakkan bukan dengan logika formal yang berasal dari aksioma A adalah sama dengan A, tapi dengan logika dialektik yang berasal dari aksioma bahwa semua hal selalu berubah. “Akal sehat” dikarakterisasi oleh kenyataan bahwa ia secara sistematis melampaui “toleransi” dialektik.”[4] Dalam bengkel kerja, toleransi diukur di setiap seperseratus sampai seperseribu setiap incinya, tergantung hasil kerja yang hendak diperolehnya. Sama halnya dengan kerja otak dan konsep-konsep peralatannya. Bila batas atau marjin toleransi kesalahan sudah bisa disetujui, maka hukum logika formal dapat berlaku. Tapi pada saat tidak diizinkan oleh toleransi, maka sebuah alat baru harus dibuat untuk memenuhi batas toleransi yang diperbolehkan. Dalam lapangan produksi intelektual, peralatan tersebut  adalah logika dialektik. Hukum identitas bisa diterapkan dalam toleransi dialektik pada dua arah yang bertentangan.  Misalnya, toleransi minimum dan toleransi maximum, sehingga hukum identitas tersebut akan berlangsung semakin absyah atau kurang absyah seperti yang dicontohkan oleh deflasi. Satu Dolar nilainya berlipat, sehingga A tidak sama dengan A, tapi lebih besar dari A. Dan dalam contoh inflasi maka, sekali lagi, satu Dolar tidak sama dengan satu Dolar sebelumnya, menjadi setengahnya.  Sekali lagi A tidak sama dengn A, tapi setengah A. Dalam beberapa kasus, hukum identitas  tidak lagi menjadi benar tapi menjadi semakin salah, tergantung pada jumlah dan karakter khusus perubahan nilai yang ada. Selain A = A, kita juga melihat kemungkinan A = 2A atau 1/2A. Perhatikan bahwa kita mulai menguji hukum identitas: A adalah yang kita uji. Yang kita dapatkan, kontradiksi: benar bahwa A = A; tapi benar juga A tidak sama dengan A dan, tambahannya, A bisa menjadi 2A atau 1/2A. Cara tersebut membuat kita lebih mengenal A. A ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan, pasti, tidak berubah seperti yang dianut oleh akhli logika formal. Mereka hanya melihat penampakannya saja. Dalam kenyataanya, A sangat kompleks dan bisa kontradiktif. Tidak hanya A tapi menyangkut semua hal. Kita tidak bisa menangkap A yang sama karena setiap saat A tersebut berubah menjadi berkurang atau bertambah. Kau mungkin bertanya: kalau begitu, sebenarnya apa itu A? Jawaban dialektiknya adalah A adalah A atau Non-A. Jika kau melihat A seperti akhli logika formal maka kau hanya akan melihat satu sisinya saja, sisi negatifnya. A sama dengan A adalah sebuah abstraksi yang tidak dapat secara penuh menjadi kenyataan atau ditemukan dalam realitas. Abstraksi tersebut berguna sepanjang kau mengerti batasan-batasannya, dan jika batasan telah tercapai maka segera kita akan mengabaikan logika formal tersebut untuk mendapatkan kebenaran final. Hukum dasar identitas bisa dipegang sebagai cara pandang dan untuk bertindak sehari-hari, tapi hukum itu harus digantikan dengan hukum yang lebih dalam dan kompleks. Para akhli mekanik akan bertanya: mengapa harus ada batas, apakah peralatan yang dimiliki dalam mekanika telah mencakup kebenaran?  Segala hal berlaku dalam kondisi tertentu dan dalam operasi tertentu: sebuah potongan, lengkungan, pendalaman dan lain sebagainya, semuanya ditempatkan pada setiap tahapan proses produksi industri. Kelas buruh menentang batasan-batasan yang nyata dalam setiap peralatan dan mesin. Mereka berhasil mengatasi batasan-batasan tersebut dengan dua cara: menggunakan peralatan yang lain atau mengkombinasikan beberapa peralatan dalam proses produksi. Berpikir secara esensial merupakan produksi intelektual, dan keterbatasan peralatan berpikir akan menghasilkan cara yang sama. Pada saat kita mentok dengan logika formal maka kita harus menggunakan logika lainnya, yakni logika dialektik, atau mengkombinasikan logika formal dengan logika dialektik untuk mendapatkan kebenaran. Itu lah yang disebut dialektika. Sama seperti peralatan-peralatan di pabrik yang harus dikombinasikan agar bisa mengoperasikan pabrik tersebut. Jadi, kalau kita menginginkan hasil yang paling tepat dalam produkis intelektual kita, maka kita harus mengembangkan ide-ide dialektika itu sendiri.

Jika kita kembali pada abstraksi awal, A sama dengan A, maka kita melihat bahwa ada sebuah kontradiksi dalam perkembangannya. A adalah berbeda dengan dirinya sendiri. Dengan kata lain, A selalu berubah dan perubahan tersebut ke segala arah. A selalu berkembang menjadi berlebih atau berkurang dari A sebelumnya.

Perubahan tersebut memiliki nilai kwalitas tertentu, yang berbeda dari yang sebelumnya, sehingga perlu juga membandingkan kwalitas awal dan kwalitas yang berikutnya dari sesuatu hal yang terus berubah. Sungai Hudson yang kehilangan identitasnya, menjadi bagian dari samudara atlantik; atau seperti yang terjadi pada mata uang. Mata uang yang semula koin yang bernama mark Jerman telah menjadi kertas cetakan. Dalam bahasa aljabar, A menjadi  Minus A. Dalam bahasa dialektikanya perubahan kwantatif menghancurkan kwantitas yang lama sehingga menjadi kwalitas yang baru. “Menentukan titik kritis pada saat yang tepat, saat kwantitas berubah menjadi kwalitas, adalah merupakan suatu tugas yang paling penting serta paling susah di dalam semua bidang pengetahuan, termasuk sosiologi.” Salah satu dari problem sentral ilmu logika adalah mengetahui dan memformulasikan hukum tersebut. Kita harus mengerti bagaimana perubahan kwantitas akan mendatangkan kwalitas baru dan sebaliknya.

Kita tiba pada satu kesimpulan. Pada saat hukum identitas secara tepat mencerminkan bentuk tertentu realitas, hukum itu juga mendatangkan distorsi kesalahan dalam mencerminkan hal yang lainnya. Lebih jauh lagi, aspek yang salah tidak bisa mencerminkan kenyataan objektif yang ada. Campuran setiap partikel fakta jeneralisasi logika yang mendasar bisa memiliki sisi kesalahan yang serius. Hasilnya,  instrumen kebenaran menjadi kesalahan umum

Bahan III: Sekali Lagi, Tentang Keterbatasan-Keterbatasan Logika Formal  Dari kedua bahan pertama yang kita pelajari, kita mendapat hukum-hukum dasar logika formal; bagaimana dan mengapa mereka hadir; hubungan apa yang dimiliki dialektika terhadapnya; dan batas-batas apa yang kemudian menjadikan logika formal tak berguna lagi. Kita akan melihat 5 kesalahan mendasar dalam elemen-elemen hukum identitas:   1. Tuntutan Logika Formal: Semesta Tidak Berubah Pertama sekali, logika formal menolak suatu gerak, perubahan dan perkembangan dalam realitas. Penolakan tersebut tidak secara eksplisit ditujukan pada keberadaan realitas. Tapi, secara tak langsung, yakni, hukum-hukumnya menolak implikasi penting logika internalnya. Seperti yang dikemukan oleh hukum identitas, jika setiap hal sama dengan dirinya maka, seperi yang ditunjukkan oleh hukum kontradiksi, tak ada yang tidak sama dengan dirinya, semuanya sama. Tapi ketidaksamaannya merupakan manifestasi dari perbedaan—dan, sebenarnya, perbedaan mengindikasikan operasional perubahan. Jika semua perbedaan ditolak maka tidak akan ada gerak dan perubahan itu sendiri, oleh karenanya tidak ada alasan menjadi berbeda. Jika logika formal ingin mendapatkan sisa kebenaran dirinya, bukan lah dengan menolak keberadaan nyata dan  rasionalitas gerak. Tak ada tempat bagi perubahan di dunia ini yang bisa diterima oleh atau digambarkan oleh logika formal. Tak ada gerak dalam dirinya. Tak ada ledakan logis dalam hukum-hukumnya yang dapat melewati dan masuk ke dunia nyata. Tak ada dinamika dari dunia luar yang mendorong segala hal keluar dari kondisinya yang sekarang guna menghasilkan formasi baru. Gerak digambarkan atau ditunjukkan sebagai realisme statistik, yang segalanya membeku di tempatnya masing-masing. Mengapa formalisme tersebut memunggungi realitas? Karena gerak memiliki karakter kontradiksinya sendiri. Seperti kata Engels: ”…bahkan perubahan mekanis sederhana suatu tempat bisa berlangsung dalam sebuah tubuh dan, pada saat yang bersamaan, keduanya bisa berada di sebuah tempat lainnya, berada di suatu tempat atau tidak berada di suatu tempat lainnya pada saat yang bersaman.”[5] Segala yang bergerak memiliki kontradiksi dalam keberadaanya, di suatu tempat yang berbeda pada saat yang bersamaan, dan bisa menundukkan atau keluar dari kontradiksi tersebut dengan menerjang satu tempat guna menuju ke tempat lainnya. Perkembangan dan bentuk kompleks gerak, seperti perkembangan pohon dan tumbuhan, perkembangan spesies, perkembangan masyarakat dalam sejarah dan perkembangan sejarah filsafat, hadir bahkan lebih sulit bagi logika formal. Tahap sekarang, yang menggantikan setiap proses adalah serial kontradiksi. Pada pertumbuhan tanaman, contohnya, tunas keberadaannya diganti oleh bunga dan kemudian oleh buah. Dimana pun mereka dikonfrontasikan dengan kontradiksi nyata, penganut logika formal selalu akan gagal. Apa yang akan mereka lakukan? Anak kecil sewaktu berhadapan dengan sesuatu yang asing, sesuatu yang menakutkan mereka, yang mereka tak mengerti dan tak dapat mereka kuasai, akan menutup mata mereka dan menutup mukanya dengan kedua tangannya, serta akhirnya melarikan diri dari ketakutan tersebut. Penganut formalis bereaksi dan terus bereaksi, sama seperti anak-anak berhadapan dengan kontradiksi. Ketika mereka tidak bisa secara komprehensif melihat kenyataan alamiahnya dan tidak mengetahui  apa yang harus dilakukan dengan semua hal yang mengerikan—itu lah yang menyedihkan dari dunia logika formal—maka, dengan ledakan kontradiksi, segera mereka akan menghancurkan logika formal mereka. Dimana pun, saat otoritas reaksioner diancam oleh kekuatan subversif, mereka akan menekan, memenjara dan membuang kekuatan subversif tersebut. Penganut logika formal menjawab kontradiksi dengan cara yang demikian. Seperti yang dilakukan oleh Sir Anthony Absolute  terhadap anaknya dalam lakon komedi Sheridan: “…Jangan masuk dalam ruanganku, jangan berani menghirup udara dan menggunakan lampu bersamaku, tapi carilah atmosfir dan matahari lain untuk dirimu! …”

Hukum tersebut menunjukkan bahwa A tidak pernah menjadi Non-A. Itu bukan sebuah ekspresi nyata dari kontradiksi yang nyata, atau, terbaca: A bukan Minus A atau bukan Non-A.

Logika formal tidak dapat mentoleransi kontradiksi aktual dalam sistimnya sendiri. Logika formal akan menekan dan menghancurkan kontradiksi tersebut. Dalam usahanya untuk membebaskan dirinya dari kontradiksi, penganut logika formal memperketat kontradiksi absolut di atas kenyataan objektif. Dalam dunia yang direpresentasikan oleh logika formal, segala sesuatu  berdiri dalam oposisi absolut terhadap yang lainnya. A adalah A; B adalah B; C adalah C, namun, sebenarnya, secara logis, mereka tidak ada yang sama Kontradiksi dieliminasi dari sistim  logika formal, kemudian bergerak naik menghindari semua kenyataan. Penganut logika formal menolak kontradiksi dalam sistimnya sendiri hanya demi merestorasinya, mengambil kekuasaan dari luar sistim mereka. Kontradiksi nyata harus memasukkan kedua hal: kesamaan dan perbedaan di dalam dirinya. Penganut logika formal tak bisa melakukannya. Semua hukum logika formal sebenarnya tidak lain merupakan kesamaan-kesamaan dalam berbagai versi. Merka tak mengenal apa perbedaan-perbedaan. Itu lah sebabnya hukum kategori yang pas bagi logika formal tidak dapat menjelaskan esensi gerak. Gerak adalah sangat lengkap, terang-terangan, bahkan kontradiksinya kasar. Dalam dirinya, ia memiliki dua sisi perbedaan waktu, unsur, fase dan lain sebagainya secara diametris. Pada saat yang bersamaan, benda yang bergerak adalah keduanya, disini dan disana, secara terus menerus. Jika tidak, dia tidak bergerak tapi diam. A tidak semata-mata Non-A. Diam adalah gerak yang berhenti; gerak adalah perhentian yang berurutan. Logika formal tidak bisa mengetahui atau menganalisa kontradiksi alam nyata—yang di dalamnya terdapat gerak—tanpa melanggar dirinya sendiri, tanpa menjatuhkan hukum-hukumnya sendiri,  tanpa menerjang dan masuk ke alam yang lain.  Adalah mimpi mengharapakan logika formal menjadi dialektik. Itu tepatnya dengan apa yang terjadi pada logika dalam evolusi. Tapi, logika formal, dalam dirinya dan oleh dirinya, tidak dapat mengambil lompatan revolusioner, tidak bisa keluar dari kulitnya. Semua pemikir formal yang konsisten tetap bertahan pada azas jeneralitas identitas dan terus menolak—cukup logis menurut logika mereka, tapi tak logis menurut kenyataan-keberadaan objektif yang nyata, yakni kenyataan perbedaan diri atau kontradiksi. Kategori identitas itu abstrak: hukum logika formal merupakan ekspresi langsung dari konsepsi dan persamaan logika ke-diam-an keberadaan objek. Oleh sebab itu, logika formal, secara esensial, merupakan  logika kematian, hubungan yang dingin, sesuatu yang diam, pengulangan abadi dan kemandegan. Sejauh kita mengganggap bahwa sesuatu itu statis dan mandeg, maka adalah benar bahwa kita tidak bertentangan dengan kontradiksi. Kita mendapatkan kwalitas tertentu yang sebagian merupakan hal yang bias, terpisah, bahkan saling kontradiktif, tapi, dalam kasus ini (dalam sistim logika formal), kwalitas tersebar di antara objek yang berbeda dan tanpa kontradiksi.[6] Bila melihat apa yang terjadi pada kasus lain, yang bergerak, ternyata tidak saja saling berhubungan, dan tidak saja secara eksternal tapi juga secara internal, sesuatu akan kehilangan identitas dan bergerak menuju sesuatu yang lain. Sungai Hudson mengalir dan bergabung dengan samudra Atlantik; Mark jerman merosot menjadi secarik kertas cetakan dan lainnya.  Apa yang bisa dilakukan oleh sesuatu hal dapat dilihat saat ia kehilangan identitas. Hasil internal dan eksternal gerak benda-benda nyata terwujud secara kontradiktif. Tapi tetap ada benarnya juga bahwa: mereka berhubungan dengan realitas. Tidak ada yang permanen. Kenyataan tidak pernah berhenti, selalu berubah, selalu fluktuatif (tidak stabil/naik turun). Proses universal, yang tak terbantahkan, membentuk landasan material bagi teori yang di ajarkan Engels ”…seluruh alam, dari unsur yang paling kecil sampai yang paling besar, dari debu hingga matahari, keberadaannya ada dalam keabadian, yakni menjadi dan melenyap, menghilang, kemudian bergolak dalam gerak yang tak berhenti…”[7] Dalam ilmu modern, tak ada jeneralisasi yang lebih aman selain berbasiskan pada percobaan, fakta, ketimbang memahami teori perkembangan universal pikiran manusia, yang bergerak maju dalam abad ke-19.

Hukum  logika formal, yang berada di luar kontradiksi, mengabaikan kontradiksi dalam teori  dan realitas perkembangan universal.  Hukum identitas itu abstrak, tak melahirkan perubahan. Sebenarnya, dari dua preposisi yang bertentangan tersebut, yang mana yang benar dan yang salah? Itu lah pertanyaan dari penganut dialektika—yang melandasi pikirannya berdasarkan proses alamiah—kepada penganut logika formal yang berkepala batu. Persoalan pikiran ilmiah, yang sedang berhadapan dengan  logika formal, tidak semata-mata merupakan persoalan yang terjadi dari akhir abad ini saja namun sejak zaman sebelumnya.

2. Logika Formal Mendirikan Benteng/Hambatan (di Antara Segala Hal) yang Tak Boleh Diterobos

Logika formal memiliki kesalahan-kesalahan karena dikepung oleh persoalan-persoalan material, ditelikung oleh ketidakmengertian terhadap fase perkembangan semua persoalan, dan tak bisa mengerti mengenai cerminan, refleksi, kenyataan objektif dalam jiwa kita. Antara kebenaran dan kesalahan tak ada fase antaranya, tak ada tahap transisi dan rantai penghubungnya. Hegel bicara tentang hal tersebut: “Pikiran-Jiwa, mengabil posisi oposisi di antara kebenaran dan kesalahan, serta menjadi pas, terlebih-lebih setelah diterima entah sebagai perjanjian atau sebagai kontradiksi antara sistim filsafat. Dan hanya melihat alasan pada sesuatu yang ada dalam pernyataan-pernyataan sistim tersebut. Hal tersebut tidak lah menggambarkan perbedaan sistim filsafat sebagai evolusi progresif  kebenaran; tapi harus lebih dilihat sebagai kontradiksi.”[8] “Tunas menghilang setelah bunga berkembang, dan dapat kita katakan: yang awal ditolak keberadaanya oleh yang berikut; sama dengan setelah buah muncul, bunga bisa dijelaskan sebagai sesuatu bentuk yang salah (dari keberadaan tumbuhan) bagi kemunculan buah, dilihat sebagai kebenaran alamiah menggantikan bunga. Tahapan tersebut bukan berarti sekadar pembedaan; yang satu merupakan pengganti, tak tepat lagi, bagi yang lain. Aktivitas tanpa henti hakikat inherennya membuat mereka, pada saat yang sama, dan dalam seluruh momentumnya, memiliki kesatuan organik, yang bukan saja sekadar nmengkontradiksikan yang satu dengan dengan yang lainnya, namun yang satu merupakan keniscayaan bagi yang lainnya; dan keniscayaan (setara) seluruh momen tersebut lah yang menentukan kehidupannya secara keseluruhan. Tapi kontradiksi antar sistim filsafat tidak bisa diselesaikan dengan cara seperti itu; di lain pihak, pikiran-jiwa yang menerima kontradiksi tersebut bukan berarti, secara akal sehat, ia memiliki pengetahuan bahwa kebenaran merupakan hasil perbaikan dan pembebasan dari kesalahan bersatu-sisi, dan mengakui bahwa semua itu merupakan hasil dari kehadiran momen-momen selayaknya (niscaya) yang saling melengkapi atau berbalasan—walaupun kelihatannya saling bertentangan dan, secara inheren, antagonostik.” Jika kita menggunakan logika formal sebagai nilai,  maka kita harus mengakui bahwa semua hal, atau segala keadaan sesuatu, adalah mutlak independen dari segala hal atau dari segala keadaan. Dunia diperkirakan sebagai segala sesuatu yang eksis dalam kesendiriannya yang sempurna, terpisah dari segala hal.

Posisi filsafat yang menggambarkan logika tersebut mencapai hasil akhir berupa: filsafat idealis-subjektif, yang muncul dengan membawa asumsi bahwa tidak ada yang benar-benar eksis, kecuali dirinya sendiri. Itu bisa diketahui dari soligisme (dalam kata latin) solus ipse (aku sendiri).

Itu lah cerminan posisi absur dalam melihat sesuatu. Apapun teori yang dikemukakannya, ia hanya mengakui keberadaan dirinya. Lebih jauh lagi, jika kita mau sedikit lebih mendalam, bagaimanapun terisolasi dan independennya sesuatu hal, sebenarnya ia membutuhkan keberadaan yang lain. Untuk berada dan menjadi dirinya, jika kita tidak menghubungkannya dengan sesuatu yang terkait dengan realitas, maka kita tidak akan pernah bisa mengerti secara tepat dan pas. Segala sesuatu akan melaju dan mengubah dirinya menjadi sesuatu yang baru. Untuk mengerti hal tersebut, kita harus menerobos batasan-batasan formal yang memisahkan satu dengan yang  lainnya. Sejauh ini, kita tahu bahwa tak ada benda yang diam. “Preposisi fundamental dialektika Marxisme: semua batasan dalam alam dan masyarakat adalah konvensional dan bergerak, artinya: tak ada satu fenomena pun yang, ketika berada di bawah kondisi-kondisi tertentu, tidak berubah menjadi bertentangan,” kata Lenin.[9] Dalam skala sejarah yang lebih luas, Trotsky berkata bahwa: ”kesadaran tumbuh dari ketidak sadaran, psikologi dari luar psikologi, dunia organik dari non-organik, sistim tata surya dari nebula.”[10] Penghancuran batas-batas, perjalan sesuatu menjadi yang lainnya, ketergantugan bersamanya, tidak terlepas dari garis perkembangan sejarah itu sendiri; semuanya berjalan bersama kita. Kita bertindak berbasiskan ide, dan ide tersebut kehilangan karakter mental yang mendominasinya serta menjadi kekuatan aktif di dalam dunia lewat diri kita. Marx menunjukkan bahwa sebuah sistim ide, seperti sosialisme, menjadi sebuah kekuatan material ketika ia berada dalam pikiran massa kelas pekerja, dan akan bergerak dalam aksi-aksi untuk merealisasikannya—perjuangan menuju sosialisme. Segalanya memiliki garis batas demarkasi, yang membatasi segala sesuatu. Bila tidak, ia tak akan menjadi sebuah tubuh yang memiliki identitas yang unik.  Kita harus menemukan batasan-batasan tersebut dalam praktek dan menyusunnya dalam pikiran kita. Tapi batasan-batasan tersebut jangan menjadi  kaku dan menelikung segala kondisi; batasan-batasan tersebut tak akan sama dalam setiap saat. Mereka berfluktuasai  menurut proses perubahan.  Batasan-batasan relatif, gerak dan cair dikenal namun ditolak oleh logika formal. Hukum tersebut menyimpulkan segalanya memiliki batasan-batasan tapi, yang lebih penting lagi, bahwa batasan-batasan tersebut memiliki pembatas-pembatas bagi dirinya. 3. Logika Formal Menolak Pembedaan Setiap Identitas Kita telah melihat bahwa logika formal menggambarkan pembatasan tajam antara kesamaan, atau identitas (identity), dengan perbedaan (difference). Semuanya ditempatkan dalam pertentangan yang mutlak satu dengan yang lainnya.  Jika terdapat hubungan antara keduanya, dianggap kebetulan dan eksternal serta tidak akan berdampak pada  keberadaan internalnya. Penganut logika formal melihat semua itu sebagai sebuah kontradiksi logis, dan merupakan sebuah horor yang mengerikan untuk mengatakan—seperti para penganut dialektika—bahwa identitas bisa menjadi perbedaan, dan perbedaan bisa menjadi identitas. Mereka yakin bahwa identitas adalah identitas dan perbedaan dalah perbedaan, dan tidak dapat sama pada saat yang bersamaan. Coba kita bandingkan  kesimpulan-kesimpulan tersebut dengan fakta-fakta pengalaman yang diuji dari kebenaran semua hukum dan ide. Dalam Dialectic of Nature, Engels mengatakan: “Tumbuhan, binatang, dan setiap sel, setiap saat dalam hidupnya adalah sama dengan dirinya dan menjadi berbeda dari dirinya, karena bergabung dan mengalir dalam substansi hidup, karena respirasinya[11], karena pembentukan sel dan karena kematian sel—lewat proses perputaran yang bergantian, dengan singkatnya bisa disebutkan: karena ada perubahan molekul yang membuatnya hidup. Dan karena kesimpulan dari setiap hasilnya merupakan bukti bagi  mata kita bahwa mereka memiliki setiap fase kehidupan: fase embrio, remaja, kematangn seksual, proses reproduksi, usia lanjut dan kematian. Semua itu adalah bagian dari evolusi semua spesies di bumi. Fisiologi lebih lanjut menggamblangkannya: yang lebih penting adalah ia tidak berhenti, tidak selesai dan, yang  lebih penting lagi, adalah bahwa semuanya tetap berbeda di dalam identitasnya. Namun pandangan abstrak-kuno indetitas formal memahaminya bahwa suatu organik berada seperti sebuah identitas yang sederhana dalam dirinya, konstan dan statis—menjadi ketinggalan jaman. “Namun demikian, corak berpikir itu berbasiskan seperti itu, bersama dengan kategorinya, terus menerus bertahan. Tapi,  bahkan dalam hakikat non-organik pun, identitas seperti itu tak terdapat dalam realita. Setiap orang terus menerus menunjukkan dan menerima pengaruh-pengaruh mekanik, fisika dan kimia, yang selalu merubah dan memodifikasi identitasnya.” Hambatan/benteng absolut tak mungkin bisa didirikan oleh logika formal—misalnya dalam kasus antara dua hal yang saling berpenetrasi dalam realitas yang berlanjut, bergerak—karena telah dicuci oleh proses perkembangan sehingga kemudian perbedaan telah menjadi kesamaan. Sebelum kami datang ke gedung ini, kami adalah orang-orang New York yang berbeda-beda. Persamaan menjadi perbedaan: setelah pelajaran ini selesai, kita akan berpisah ke tempat yang berbeda-beda. Perubahan dari perbedaan menjadi persamaan dan persamaan menjadi perbedaan mengambil peran dalam semua hubungan. Tunas yang mekar menjadi bunga, bunga menjadi buah, sehingga setiap fasenya yang berbeda adalah menjadi bagian dari pohon yang sama.Tidak seperti hukum logika formal, kesamaan material yang nyata tidak menyingkirkan dari dirinya sendiri perbedaan-perbedaan yang ada tapi mengisi ke/di dalam dirinya sebagai bagian yang esensial. Perbedaan nyata tidak membuang kesamaan tapi memasukkannya sebagai elemen esensial di dalam dirinya. Kedua bentuk tersebut dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya dengan membuat pembedaan dalam pemikiran, tapi itu tidak berarti—seperti dalam logika formal—bahwa, dalam realita, mereka bisa dipisah-pisahkankan. 4. Hukum-hukum Logika Formal: Absolut Ketidaklengkapan keempat hukum logika formal adalah bahwa mereka menyatakan dirinya sebagi sesuatu yang absolut, mutlak, final, tak bersyarat, dan pengecualian adalah tidak mungkin. Mereka mengatur dunia pemikirannya dengan cara yang totaliter, memastikan kepatuhan yang tidak boleh dipertanyakan dalam segala hal, memanjat otoritas tanpa batas demi kedaulatan mereka. A selalu sama dengan A, tak ada satu pun yang bisa menggugatnya. Sialnya, bagi penganut logika formal, tak ada di  dunia ini yang seperti mereka kemukakan. Ternyata, segalanya hadir sebagaimana aslinya, dengan sejarah dan syarat-syarat materialnya yang sudah tertentu, baik dalam hubungan satu dengan yang lainnya maupun dalam keterpisahannya, dan setiap waktu proporsinya sudah tertentu serta dapat diukur. Masyarakat manusia, contohnya. Manusia hadir di muka bumi pada waktu tertentu dan secara material dibedakan evolusinya (lebih tinggi) dari binatang. Namun Ia tak dapat dipisah-pisahkan sebagai sesuatu yang organik atau non-organik; mereka berkembang dalam derajat-derajat tertentu dan kehadirannya telah melangkah jauh, tumbuh, secara kwantitif penuh menuju  kwalitatif yang berbeda. Setiap tahap perkembangan sosialnya memiliki hukum perkembangan sendiri dan memiliki karakter-karakter khususnya. Hukum yang mutlak tidak dapat lagi bertahan di dunia nyata. Dalam berbagai tahap alam, perkembangan ilmu fisika, elemen kimia, molekul, atom, elektron diyakini oleh pemikir-pemikir metafisika sebagai atau memiliki substansi yang tidak berubah. Manusia tidak dapat mundur atau maju. Dengan kemajuan ilmu alam, setiap bagian keabadian-mutlak telah ditumbangkan—setiap pembentukan materialnya telah teruji memiliki syarat, terbatas dan relatif. Semua kepentingannya yang menjadi mutlak, terbatas (secara absolut) dan tidak berubah telah terbukti: salah. Ketika, pada akhir abad ke-19, ilmuwan mulai mengadakan dan memperoleh berbagai macam penemuan, ilmuwan sosial Amerika Serikat malah meyakini bahwa demokrasi borjuis merupakan bentuk mahkota pemerintahan bagi peradaban manusia. Namun, pengalaman sejarah sejak 1917 telah menjadi saksi bahwa demokrasi borjuis telah ditumbangkan oleh bolsevikisme dan fascisme—telah terbukti bahwa alangkah terbatasnya sejarah ini, dan alangkah banyak serta bersyaratnya bentuk-bentuk kapitalisme. Jika setiap hal hadir di bawah syarat material sejarah tertentu, berkembang, beragam, kemudian menghilang, bagaimana mungkin hukum absolut berlaku pada segala hal dengan cara yang sama, pada derajat yang sama, di setiap waktu dan di bawah semua syarat-syarat tertentu? Itu tentunya merupakan klaim yang dibuat oleh logika formal. Tuntutannya pada realistas, dan dalam pencarian hukum-hukumnya, logika formal menyebabkan ilmuwan jatuh pada kebutaan logika. Pada analisanya yang terakhir, hanya Sang Absolut lah yang memenuhi standar logika formal. Sang Absolut lah yang seharusnya mulak, tidak terikat, sempurna, independen dari segalanya… 5. Logika Formal Bisa Membuat Perhitungan tentang Segala Hal—Tapi Bukan atas Dirinya Akhirnya, hukum logika formal, yang seharusnya memberikan penjelasan rasional bagi segala hal, memiliki kesalahan yang serius. Logika formal tak bisa memperhitungkan atas dirinya. Menurut teori Marxisme, segalanya menjadi ada karena hasil dari sebab-sebab material, yang berkembang  lewat fase-fase yang silih-berganti, yang akhirnya mati. Bagaimana logika formal dan hukummya? Dimana, kapan dan mengapa segala hal bertumbuh, bagaimana segala hal berkembang? Apakah segala hal abadi? Jika kau menantang penganut logika formal, bertanya bagaimana cara menerapkan hukum-hukum logika ke dalam sejarah dan bagaimana menerima aturan-aturan universal tersebut maka,  tak ada yang berbeda, mereka akan menjawab seperti halnya kaum monarki menjawabnya: kami melakukannya atas nama … (Sang Absolut) Kita lihat  berapa banyak kebenaran dalam dialektika dan agama seperti yang dibuat profesor James Burnham dan Sidney Hook. Dalam kenyataanya, logika formal berjalan bergandengan dengan ke-Absolut-an dan dogmatisme. Sebagai hukum-hukum keabadian. Logika formal berdiri bersamaan dengan prinsip-prinsip keabadian moralitas, seperti yang digambarkan Trotsky: “Surga selalu hanya dijadikan senjata—yang digunakan dalam operasi militer—untuk melawan dialektika materialis.”[12] Pada kenyataannya, logika formal muncul dalam suatu masyarakat pada tahapan tertentu, dalam sebuah titik perkembangannya. Dan, kemudian, manusia dapat menundukkan alam;  kemudian ia berkembang sepanjang pertumbuhan umat manusia, sepanjang pertumbuhan tenaga-tenaga produktifnya, hingga bisa bekerja sama dengan pemikiran dialektik, yang ditanamkan lewat perkembangan lebih lanjutnya. Tempat bagi logika dialektik ada dimana saja, tapi dibutuhkan suatu revolusi dalam pemikiran manusia untuk menempatkannya secara tepat. Salah satu kelebihan dialektika dari logika formal bisa dilihat dalam kenyataan; tidak seperti logika formal, dialektika tidak hanya dapat menghitung keberadaan logika formal namun juga dapat menunjukkan mengapa harus menggantikan logika formal tersebut. Dialektika dapat menjelaskan tentang dirinya, pada dirinya, dan pada yang lain. Oleh karenanya, dielektika lebih logis ketimbang logika formal.   ***   Mari kita melihat bagaimana kemajuan kritik kita terhadap logika formal. Kita mulai dengan mencari kepastian tentang kebenaran logika formal. Kemudian kita mencapai sebuah batas yang, bila kita teruskan (pencarian tersebut), hanya akan berisi kesalahan-kesalahan semata. Kemudian kita dorong maju melewati batasan tersebut. Maka kita, akhirnya, akan menolak “kebenaran” logika formal yang tak bersyarat, absolut, bertentangan dengan apa yang hendak kita pastikan. Hukum formalisme terlihat memiliki dua sisi, kebenaran dan kesalahan.Kemudian, ketika segala hal menjadi lebih kompleks dan kontradiktif, hukum-hukum bisa berkembang dan berubah sesuai dengan akal sehat saat menganalisa tendensi yang berlawanan (secara terus menerus)—memang demikian lah hukum yang ada dalam diri segala hal. Ketika kita meganalisa dua kutub yang bertentangan dari segi karakter kontradiksinya, melepas saling-hubungan di antaranya, maka kita dapatkan bagaimana dan mengapa masing-masing kutub tersebut menjadi berubah sesuai dengan hukum-hukum dirinya masing-masing. Itulah metode dialektik yang digunakan dalam berfikir. Hasilnya, kita akan tiba di depan gerbang dialektika dengan menggunakan jalur dialektik yang sejati.  Itu lah sebabnya juga mengapa kemanusiaan akan sampai pada dialektika, memegangnya sebagai sebuah sistim perumusan pemikiran. Manusia menemukan batasan-batasan dalam logika, namun bisa menundukkannya dengan membuat sebuah bentuk logika yang lebih tinggi lagi secara teoritis. Dialektika membuktikan kebenarannya dengan mengaplikasikan metode berpikirnya demi menjelaskan dirinya dan asal usulnya. Dialektika hadir sebagai hasil dari sebuah revolusi sosial yang kolosal,  menembus  batas semua bagian kehidupan. Dalam politik,  representasi massa yang bangkit secara tidak sadar kemudian dibimbing oleh pemahaman dialektik. Mengetuk pintu kaum monarki dan menghancurkannya: “Waktu telah berubah, kami menuntut kesederajatan!” Dengan semangat formalisme, dengan semangat logika formal, kaum pembela absolutisme menjawab: “Kau salah, kau subversif, tidak ada yang berubah dan tidak ada yang dapat berubah. Raja tetap lah raja, dimana saja dan kapan saja. A sama dengan A, kedaulatan tidak dapat mensejajarkan manusia yang bukan A, yang Non-A.” Alasan formal semacam itu tidak dapat membendung kemajuan, kemenangan revolusi demokratik borjuis lah yang, kemudian, menghancurkan monarki. Dialektika revolusioner, bukan logika formal, yang berlaku dalam politik praktis. Dalam ruang ilmu-pengetahuan,  logika formal terjerumus dalam kriris revolusioner yang sama sebagaimana yang dialami politik absolutisme. Kekuatan baru ilmu-pengetahuan bangkit dalam perkembangan alam dan ilmu sosial—yang memukul logika formal yang sudah berkuasa ribuan tahun—guna menuntut hak mereka. Bagaimana revolusi logika dimulai dan dan ke mana arahnya, akan dijadikan topik berikutnya.   ***  

[HALAMAN UTAMA


[1] Trotsky, Leon, In Defence of Marxism, Hal. 84.

[2] Ibid, hal. 48.

[3] Ibid, hal. 49.

[4] Ibid, hal. 50.

[5] Engels F., Anti-Duhring, hal. 137.

[6] Ibid, hal. 137.

[7] Engels, F., Dialektic of Nature, hal. 13.

[8] Engels, F., dalam pembukaan Phenomenology of Mind, hal. 68.

[9] Lenin, Collected work, vol. 19, hal. 203.

[10] Leon, Trotsky, In defence of Marxism, hal. 51.

[11] Respiration: proses metabolisme organisme dalam menyerap, mengasimilasikan, oksigen dan melepaskan karbon dioksida dan segala produk oksidasi; bernafas; Webster’s II New Riverside University Dictionary, The Riverside Publishing Company, hal.1001.

December 11, 2007 Posted by | KAJIAN | Leave a comment

Al Falsafah Al- ‘Arabiyyah

Judul: al-Falsafah al-‘Arabiyyah

Penulis: Jamil Shaliba

Penerbit: Daar al-Kitab al-Lubnani-Beirut

Jumlah halaman: 691, Cet. Kedua 1973

Shaliba dan Semangat Filsafat Arab

Sunaryo

Apa yang anda rasakan ketika mengkaji filsafat Arab jika dibandingkan dengan filsafat Barat? Pada umumnya akan menjawab kurang menarik. Berangkat dari kenyataan ini, Jamil Shaliba, penulis buku al-Falsafah al-‘Arabiyyah (Filsafat Arab, 1970), berusaha menampilkan kajian filsafat Arab agar lebih menarik. Menurut Shaliba, ketaktertarikkan para pembaca terhadap filsafat Arab bukan karena pada filsafat Arab itu sendiri, melainkan pada masalah penyajian. Dalam pandangannya, kegagapan para pengajar dan penulis filsafat Arab dalam memahami maksud filsuf Arab dan kesulitan memaknai teks-teks arab menjadi kendala utama agar dapat menampilkan filsafat Arab secara menarik (h.11). Buku yang diberi judul al-Falsafah al-Arabiyyah berupaya mengatasi persoalan-persoalan teknis ini. Jamil Shaliba menyajikan al-Falsafah al-Arabiyyah dengan bahasa yang lebih mengalir dan mudah dipahami bila dibandingkan dengan buku-buku sejenis, seperti al-Turats al-Yunani fi al-Hadarat al-Islamiyah Abdurrahman Badawi yang diterjemahkan dari bahasa Italia, atau buku ­al-Fikr al-Arabi karya De Lacy O ‘Leary. Shaliba merangsang gairah pembaca agar tertarik mengkaji dan mendalami filsafat Arab dengan mengangkat kembali teks-teks asli para filsuf dan disertai dengan kemungkinan mengusung tema-tema baru dari filsuf tersebut. Menurutnya, pengaruh filsafat Arab terhadap filsafat Barat modern lebih besar bila dibandingkan dengan pengaruh filsafat Barat modern terhadap filsafat Arab kontemporer (h.12). Karenanya, kajian atas perkembangan filsafat dalam dunia Arab dan Islam bukanlah kajian yang remeh-temeh. Tema-tema tentang Ada, yang satu (monistik), yang banyak (pluralistik), hubungan antara Tuhan dan makhluknya, ruang dan waktu, gerak dan diam serta jiwa dan akal adalah tema-tema yang kerap didiskusikan dan diperdebatkan oleh filsuf-filsuf Arab dan kemudian menjadi tema-tema filsafat di dunia Barat modern. Atas dasar pertautan pemikiran ini maka sulit sekali membayangkan perkembangan filsafat di Barat tanpa peran para filsuf-filsuf Arab sebelumnya. Hal yang sama juga dapat dialamatkan pada filsafat Arab klasik. Sulit membayangkan gairah filsafat di dunia Arab tanpa penerjemahan buku-buku filsafat yang berbahasa Yunani dan Suryani oleh para penerjemah Kristen Nestorian, Yahudi dan kaum Shabi’ yang kebetulan menguasai dua bahasa tersebut. Shaliba mencatat ciri persamaan dan perbedaan antara filsafat Arab dan filsafat Yunani. Persamaan antara dua filsafat ini ada pada kepercayaan yang sangat besar terhadap peran rasio sebagai sumber pengetahuan dan sebagai metode. Keduanya percaya bahwa dengan rasio maka hakikat sesuatu dapat ditangkap (h.23). Filsuf seperti al-Farabi yang dijuluki guru kedua, di mana yang menjadi guru pertama adalah Aristoteles, dan Ibnu Rushd yang juga sangat tergila-gila pada filsafat Aristoteles adalah filsuf-filsuf yang sangat gigih memperjuangkan peran rasio sebagai sumber pengetahuan alat untuk memahami agama. Sementara titik perbedaanya ada pada tujuan dan maksud kaduanya dalam menggumuli filsafat. Bagi filsuf Yunani, filsafat semata-mata dipandang sebagai sesuatu yang estetis, sementara bagi filsuf Arab, filsafat dipandang dengan kerangka agama. Karenaya tema-tema yang sempat berkembang dan dikembangkan oleh filsuf Arab adalah tentang relevansi filsafat bagi agama, seperti harmonisasi hubungan agama dan filsafat serta pembuktian adanya Tuhan (24-25). Dari judul yang dibuat oleh Shaliba, para pembaca akan tergelitik untuk bertanya, mengapa Shaliba memberi judul bukunya filsafat Arab bukan filsafat Islam? Bukankah para filsuf yang dibahas dalam buku ini lebih dikenal sebagai filsuf Islam bukan filsuf Arab. Dengan menyebut Arab, seharusnya ia mengekslusikan Ibnu Sina dan al-Ghazali yang berasal dari Persia dan al-Farabi yang berasal dari Turki. Dan bukankah juga motif para filsuf ini lebih didorong oleh motif dan semangat peradaban Islam dibandingkan semangat kearaban. Atas pertanyaan-pertanyaan ini, Shaliba memberikan jawabannya. Pertama, gairah filsafat di dunia Arab bukanlah jerih payah orang Islam saja. Sumbangan yang juga tidak boleh dilupakan adalah peran besar para penerjemah yang hampir sembilanpuluh persen bukan orang Islam. Mereka adalah orang-orang Kristen Nestorian, Yahudi dan kaum Shabi’. Kedua, karya-karya filsuf yang dibahas dalam buku ini ditulis dalam bahasa Arab. Ketiga, bahasa agama yang dianut oleh para filsuf ini, kitabnya dan nabinya adalah berbahasa Arab. Dan keempat, bila buku ini diberi judul filsafat Islam maka ada keharusan bagi penulis untuk memasukkan filsuf-filsuf Islam yang tidak menulis dalam bahasa Arab. Namun setelah memberikan jawabannya ini, Shaliba menyatakan bahwa sebenarnya ia tidak terlalu mempersoalkan judul bukunya ini. Filsafat Arab atau filsafat Islam menurutnya sama saja. Ia mengatakan, pemikiran filsafat yang ada dalam bukunya ini adalah filsafat Arab yang dibentuk oleh Islam atau filsafat Islam yang ditulis dalam bahasa Arab (10-11). * * * Tesis utama yang ingin disampaikan oleh Shaliba dalam bukunya adalah pertautan erat filsafat Yunani bagi filsafat Arab. Tesis ini ia sajikan dalam bentuk studi tokoh dengan menampilkan dua filsuf Yunani yang paling berpengaruh bagi dunia Arab atau Islam, Plato dan Aristoteles, empat filsuf Islam yang berasal dari wilayah timur dan dua dari wilayah barat. Filsuf yang berasal dari wilayah timur adalah al-Farabi, Ibnu Sina, Abu al-‘Ala al-Ma’arry dan al-Ghazali, sementara yang berasal dari wilayah barat adalah Ibnu Rushd dan Ibnu Khaldun. Bila melihat tokoh-tokoh filsuf Islam yang dikaji, tampak ada sesuatu yang baru yang ingin ditampilkan oleh Shaliba. Kehadiran Abu al-‘Ala al-Ma’arry, al-Ghazali dan Ibnu Khladun sebagai filsuf memberikan makna bahwa yang dimaksud filsafat oleh Shaliba adalah pengertian filsafat dalam arti luas. Hal ini dikarenakan Abu al-‘Ala al-Ma’arry kurang dikenal sebagai tokoh filsuf, ia lebih dikenal sebagai penyair, Al-Ghazali sebagai teolog dan Ibnu Khaldun sebagai sejarawan Islam. Mereka bukanlah para tokoh seperti al-Farabi yang begitu giat mengomentari karya-karya klasik Yunani dan menghasilkan karya utama tentang filsafat politik, al-Madinah al-Fadilah (Negara Utama), atau Ibnu Sina yang asik dengan keruwetan membaca metafisika Aristoteles yang ia bacanya berpuluh-puluh kali, atau bahkan seperti Ibnu Rushd, Sang Rasionalis Islam, yang berupaya keras mengharmonisasikan hubungan filsafat dan agama. Tentu saja tidak buruk bila Shaliba menampilkan Abu al-Ala al-Ma’arry, al-Ghazali dan Ibnu khaldun sebagai filsuf Arab, bahkan memang sudah selayaknya seperti itu. Dalam sebuah artikel tentang pemikiran Arab kontemporer, Luthfie Syaukani mencatat tiga gerakan utama yang dilakukan oleh intelektual Arab kontemporer untuk membangkitkan kembali gairah filsafat di dunia Arab. Pertama, penerjemahan karya-karya filsafat Islam ke bahasa non-Arab, menyunting dan menerbitkannya kembali. Kedua menerjemahkan karya-karya filsuf barat ke dalam bahasa Arab, dan ketiga adalah membuat tema-tema baru tentang filsafat.[i] Dari tiga gerakan ini, Shaliba masuk dalam gerakan pertama yang berusaha keras memperkenalkan khazanah filsafat klasik Arab yang di antaranya adalah tiga tokoh tadi. Abu al-‘Ala al-Ma’arry, adalah seorang penyair yang sangat pesimis terhadap dunia. Keyakinannya yang begitu kuat tentang dunia adalah “inna al-syarr fi al-dunya ghalibun ‘ala al-khair”, sesungguhnya keburukan akan selalu menang di dunia ini. Begitu banyak faktor yang melatarbelakangi paham pesimismenya ini. Pada umur tiga tahun ia terkena penyakit yang mengakibatkan penglihatan mata kirinya menjadi hilang, dan kematian ayahnya juga telah membuat ia terpuruk dalam derita kesedihan hilangnya orang yang paling ia cintai. Sementara faktor lainnya adalah pergolakan politik kotor yang memenuhi situasi sosial pada masanya. Sedemikian pesimisnya ia mengatakan tentang dirinya “aku bagaikan sayap yang patah, sehingga aku tak mampu bangkit…” Ungkapan ini menggambarkan ketakberdayaan al-Ma’arry karena kebutaanya. Bukan hanya itu yang membuatnya tak berdaya menghadapi dunia, karakternya yang lemah juga turut mempengaruhi pandangannya itu (295). Kekecewaan al-Ma’arry terhadap dunia ia ekspresikan dengan anjuran untuk berzuhud, tidak memakan daging dan selibat (tidak menikah). Menurutnya, hidup ini adalah derita, bila seseorang menikah dengan lawan jenisnya dan kemudian melahirkan anak maka ia telah menambah derita hidup ini (298-300). Baginya, fitrah dunia adalah jahat dan derita. Apa yang kita idealkan tentang dunia selalu bertentangan dengan realitas yang ada. Pesimismenya menyimpulkan bahwa kematian lebih baik dari pada kehidupan dan kehancuran dibandingkan kekekalan. Hanya ada satu titik cahaya yang membuatnya tenang. Titik cahaya itu adalah imannya kepada Tuhan (301). Selain itu, Shaliba juga memotret polemik antara al-Ghazali dengan Ibnu Rushd tentang tiga masalah filsafat yang menyebabkan filsuf seperti al-Farabi dan Ibnu Sina dianggap kafir. Al-Ghazali mempermasalahkan duapuluh masalah filsafat, tiga di antaranya dapat membuat orang yang meyakininya menjadi kafir dan tujuhbelas yang tersisa masuk dalam wilayah bid’ah. Tiga proposisi yang membuat filsuf kafir itu adalah tentang ke-qadim-an alam (keyakinan bahwa alam tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir), ketakpercayaan tehadap kebangkitan jasad (jasmani) beserta perhitungannya dan keyakinan bahwa Allah tidak mengetahui kejadian-kejadian yang pertikular (365). Ada empat argumen yang dibangun oleh para filsuf (sebagian besar) untuk membuktikan ke-qadim-an alam. Pertama, kemustahilan munculnya sesuatu yang bukan qadim (ada awal dan akhir) dari yang qadim. Dari argumen pertama dilanjutkan pada argumen kedua. Menurut para filsuf, jika Sang Pencipta yang qadim hadir lebih dahulu dibandingkan dengan alam yang qadim, seperti lebih dahulunya satu atas dua atau gerak tangan atas bayangan tangan, maka tidak mungkin yang satu qadim sementara yang lainnya bukan qadim. Yang mungkin adalah kedua-duanya itu qadim atau kedua-duanya bukan qadim, namun kesimpulan yang terakhir ini mustahil bagi Tuhan, berarti yang benar adalah kesimpulan pertama (bahwa dua-duanya qadim). Argumen yang ketiga dan yang keempat menggunakan teori kemungkinan sebagai pembuktian atas qadimnya alam (365-369). Al-Ghazali membantah semua argumen yang dibangun oleh para filsuf tadi dengan argumen yang filosofis dan cukup rigorus (ketat) juga. Sebagai contoh bagaimana al-Ghazali menanggapi argumen para filsuf ini adalah tanggapannya atas argumen yang pertama. Menurutnya “alam itu bukanlah qadim dan ia disebabkan oleh kehendak yang qadim. Dari kehendak yang qadim ini maka muncul alam yang bukan qadim. Jika adanya alam ini tidak bermula (qadim) maka tidak ada kehendak. Sedangkan adanya alam tidak bergantung pada kehendak yang bukan qadim melainkan pada kehendak yang qadim” (h.366). Semua perdebatan ini ditulis oleh al-Ghazali dalam bukunya Tahafut al-Falasifah (kerancuan para filsuf) yang kemudian dikritik oleh Ibnu Rushd, filsuf dari Andalusia (Spanyol saat ini), lewat buku Tahafut al-Tahafut (kerancuan buku Tahafut al-Ghazali). Dan tak ketinggalan, Shaliba juga menguraikan metode sejarah Ibnu Khaldun. Menurutnya, Ibnu Khaldun sangat memperhatikan ilmu tentang sejarah dan kritik sejarah namun agak menghindar dari kajian metafisika dan filsafat peripatetik (564). Di antara metode sejarah Ibnu Khaldun yang diangkat adalah teorinya tentang perkembangan masyarakat dan ‘ashabiyah (fanatisme). Menurut Ibnu Khaldun, faktor-faktor yang melatarbelakangi adanya perkembangan adalah kondisi alam dan lingkungan, ekonomi serta faktor pribadi dan sosial (h.576). Buku setebal 691 halaman ini membahas dengan cukup panjang lebar pemikiran filsafat tokoh-tokoh yang diangkat: Plato tentang dunia ide dan epistemologinya, Aristoteles dengan filsafat pertama, fisika dan konsepnya tentang jiwa; al-Farabi tentang hubungan Allah dengan alam, dan filsafat politiknya yang ditulis dalam buku utamanya, al-Madinah al-Fadilah (Negara Utama); Ibnu Sina tentang ontologi dan jiwa (psikologi). Karenanya dengan uraiannya yang cukup menyeluruh dalam membahas setiap tokoh, buku ini sangat layak dijadikan referensi untuk tema filsafat Islam dalam persinggungannya dengan pemikiran Yunani. Dalam uraian yang cukup menyeluruh tentang pemikiran filsafat setiap tokoh yang dibahas, sayangnya Shaliba tidak menyertakan tokoh-tokoh lain yang juga mengisi peradaban baik di Yunani dan terlebih di dalam Islam secara menyeluruh pula. Sebut saja al-Kindi, filsuf Arab yang berasal dari wilayah timur tidak disajikan dengan menyeluruh, padahal sebagai filsuf pertama yang ada dalam Islam, perannya tidak kalah penting dengan filsuf seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Begitu juga Ibnu Tufail dan Ibnu Bajah yang berasal dari wilayah barat. Memang bila Shaliba menyajikan filsuf-filsuf ini seperti yang ia sajikan tentang al-Farabi dan lain-lain, maka hasilnya adalah buku yang berjilid-jilid. Namun, bukankah hasil itu yang ditunggu-tunggu untuk pengembangan filsafat Islam atau Arab dalam bidang filsafat. Catatan yang lain, Shaliba tidak mejelaskan dengan begitu detail bagaimana proses peralihan pemikiran Yunani ke dalam dunia Islam. Yang ia uraikan hanya proses penerjemahan besar-besaran pada awal abad ketujuh masehi hingga akhir abad kedelapan. Padahal selain uraian ini, pembaca juga mengharapkan uraian tentang peran para filsuf abad pertengahan seperti Agustinus dan Plotinus dengan neo-platonismenya. ‘Ala kulli hal, karya Shaliba ini patut disambut dengan sikap optimis bagi kebangkitan dan perkembangan filsafat dalam dunia Islam.

December 11, 2007 Posted by | REFERENSI | Leave a comment

HISTORI

Saat ku menjelajahi sejarah panjang anak manusia.
Aku menemukan sedikit gambaran ta’wilan perjalanan mereka.
Tak ada yang sempurna. perjalanan kisah-kisah.
MEngharukan, menyedihkan, menggairahkan dan menyentuh hati.
Menggugah  motivasi.
perjalanan sejarah bagaikan tunas.
tumbuh untuk kemudian berkembang, mekar dan berbuah.
Buah hasil sejarah anak manusia.
menyatukan kemenangan, kemakmuran, kegemilangan peradaban.
MEngiringi pula kekalahan, penderitaan dan penyiksaan.
Menang berarti menuju puncak ke Agung menara sejarah.
Kalah berarti merelakan tertindas dan hilang dalam perjalanan sejarah.

Silih berganti, terus sililh berganti.
Hari ini kau berkuasa, hilangkan ideologi lawan.
Besok giliran yang lain menikammu dan naik ke puncak tinta sejarah.

Yunani titahkan Zeus pada mahkota Delpi
Mesir  memakmurkan ISis dan Osiris
Romawi tumbuh menerkam dunia.
Tak satupun jengkal tanah Alpen tak bertekuk.
Persia mengacungkan titah di tanah arabia kuno
Aleksander Agung menyatukannya di bawah helenisme peradaban.
Silih berganti mengangkangi perjalanan waktu

Sinar dari padang tandus menerpa
Anak manusia bimbingan Tuhan berkumandang
Kasih sayang jadi landasan
Mendobrak kemandekan pikir tingkah laku
Keselewengan harus diluruskan
Darah menjadi taruhan
cerai berai jadi kabur
Si anak manusia menghilang dari roda sejarah
kini anak manusia hanya kenal dongengnya
kuburnya dan kematiannya menjadi misteri

Nun jauh di Barat sinar keTuhanan kembali menerpa
Padang pasir panas
Kiblat anak-anak nenek moyang Ibrahim membangun tonggak batu
Menurut cerita Adampun pernah membangunnya
Si anak terpuji
semua tak ada yang mengingkari
walaupun musuhnya sendiri

NAmun saat kedewasaan menuntunnya
firman Tuhan telah ada dalam dadanya
BAnyak orang terheran kaget
Ego menjadi rujukan
Gengsi menjadi penyakit ciri anak manusia
penolakan dan penyiksaan menjadi sejarah pengulangan
Tak ada nabi yang selalu diterima
Memang itulah manusia
Merasa segalanya tahu dan merasa benar
Walaupun menurut prasangkanya sendiri

Sinar itu semakin terang
banyak sudah dada anak manusia tercerahkan
Imperium menjulang dari tanah berpasir
Negeri-negeri besar mulai gentar
akhirnya takdir memang harus terjadi
pergantian adalah kewajaran
pergulatan pelik anak-anak manusia
merumuskan jalan kenyataan dengan tuntunan

Tanah arab, syam, persia, romawi telah tegenggam
Anak-anak manusia jadi lupa
semangat egaliter dan tanpa syak wasangka semakin dangkal
Raja-raja/kalifah abbasiah, ummayah, fatimiyah  hingga syafawiya
walaupun tak sedikit yang berjiwa pasrah pada Allah
Ideologi berfikir jadi senjata pertarungan sejarah
Jadilah khilafah beraneka
Saat India, eropa timur mengalah
keserakahan raja manusia berlaku
Lupa pada yang lemah
lengah pada wasiat yang Terpuji
Jengis Khan menjadi jawaban
Lumbung-lumbung membara
Rumah-rumah tak ketinggalan
perpustakaan berantakan
darah mengalir menganak sungai

Itulah sejarah
siapa lalim akan menerima upahnya
siapa lupa semangat keTuhanan akan kesetanan
dan setan pula yang akan mencengkeram

Utsmaniyah mulai menata diri
makmurkan anak manusia
muliakan tinta sejarah dengan peradaban tinggi
Bangunan menjadi tanda peradaban, ilmu dan kemakmuran
Sayang kelaliman kembali terulang
Anak manusia ingin mengungguli kuasa ilahi

Cengkeraman utara mengancam
negeri-negeri barat mulai bangun
negeri tak berpengetahuan mulanya
belajar menenun dan berindustri
tinggalkan cangkul agraria
majulah mereka
jayalah Eropa, romawi baru

Pelayaran benua dimulai
teknologi berjalan seirama
industri menandai lagu sehari-hari
Penjajahan mengiringi
Kelaliman telah dimulai
negeri jauh yang merdeka merana
perbudakan dan penderitaan berabad-abad
Asia, amerika tak luput Afrika

Kini teknolgi masih memimpin
eropa tak lagi menjajah
Dalam arti 4 abad lalu
Kelaliman nampak samar menggejala
ketidak adilan dan ketidaksewenangan muncul
Namun hari ini eropa masih mengungguli

Aku yakin tanda itu sudah mulai nampak
tinggal menunggu waktu
tangan-tangn takdir mulai menggelayuti
menunggu hati dan kaki menapaki
Untuk kerja panjang histori
Menumbuhkan tunas baru
dengan cahaya ilahi
gantikan kelaliman dan angkara mukti

Semoga aku tidak hanya bermimpi…..

12 12 2006

November 9, 2007 Posted by | PUISI | Leave a comment