QALAMUNA NOORY

Dalam waktu terPENAkan kidung kehidupan

TUHANKU..

Tuhanku, adakah kiranya ampunan untukku

Hamba yang selalu lalai

Tahu tapi mengabaikan  segala perintahMu

Aku terasing di tengah manusia 

Keramaian akan kesobongan dan bangga diri

Khayalan akan penghidupan yang mudah

Khayalana akan kemenangan dan kejayaan

Menang di atas yang lain 

Bayangan tatanan sesuai pikiranku

Semua dengan mudah berubah

Khyalan tingkat tinggi

Tanpa gerak pastiA

ku masih terus berkhayal 

Tuhan, malam ini aku ingin berubah

Kuingin melangkah jauh

Lagi-lagi aku sudah berkhayal

Padahal aku hanya inginBerubah… 

Aku ingin pasrah

Tiap langkah telah aku jalani

Aku berusaha dengan kemantapan hati

Dan kita tahu apa yang terjadi

Apakah aku kurang lagi? 

Rasanya kuingin menangis

Ah, tapi rasanya sulit kulakukan

Aku hanya ingin mengaduU

ntuk kemudian pasrahkan diri

Aku tak tahu esok bagaimana lagi

Guratan langkahku Engkau yang tahu 

Semua Engkau yang tentukan

Entah apa yang sedang Kau rencanakan

Aku hanya ingin menunggu

Menunggu, sambil mencoba mengerti

Kenapa berlaku begini 

Ah Tuhan mungkin aku tidak sopan

Mencoba bijak atas Engkau berkehendak

Mencoba berlaku sabar

Padahal hatiku melonjak

Tak terima dan tidak mau mengerti

Ketiadakentaraan rumit 

Ditengah sunyi dingin ini

Aku hanya ingin memohon

Haluskan rasa jiwaku

Untuk mengerti guratanMu atas diriku

Merasai segala apa yang Engkau rencanakan

Memahami arti semua ini

Hingga ku bisa menangis jika mengenang ini

Menyadari akan selalu kehadiranMu

Bahwa Engkaulan dengan sengaja tentukan ini

Bisa kurasakan sentuhan kasihMu

Bahwa Engkau sangat peduli

Sangat dekat di sini 

Bisa menangis jika mengenang iniT

ergetar hatiku merasakan Engkau

Bahwa Engkau punya rencana sendiri

Terhadap dirikuA

ku hanya ingin merasai guratanMu atas diriku

Agar aku bisa menangis jika tahu iniD

an bersyukur diri padaMu A

ku hanya ingin menangis mengadu

Karena pada siapa lagi aku lakukan ini

Kalau tidak padaMu

Aku hanya ingin mengadu………………………………………………..

 00.35

Keputih, 26 Dec 2006 

November 9, 2007 Posted by isafawi | PUISI | | No Comments Yet

Jalan berlanjut?

Hari ini sabtu 12 mei 2007. Setelah mengerjakan rutinitas, mencuci aku bergegas bersiap untuk ke toko buku.  Untuk menemaniku, sengaja kuajak beberapa teman. Kebetulan ada teman yang mau membeli tas ransel. Untuk mempermudah aktifitasnya membawa laptop. Jadi kusarankan membeli tas merek eiger yang salah satu tipenya ada fasilitas untuk kantung laptop. Setelah sholat dhuhur, berangkatlah kita berempat. Dengan dua sepeda motor. Seperti biasa dalam otakku sudah terbayang toko buku loak pojok di jalan Semarang. Sepanjang jalan tersebut memang tempat mangkal buku scond. Loak lah bahasa sehari-harinya. Maka seperti bayangan dalam fikiranku, toko pojoklah yang paling lengkap. Banyak macam buku tersedia. Toko itu juga paling luas areanya. Jadi memudahkan aku untuk memilih. Barbagai buku lama, pernah pakai dah masih bersegel ada. Mulai cerita, majalah, novel, saatra, ensklopedia, dan agama. Yang jelas banyak macamnya serta jumlahnya.

Dari awal aku sudah berkeinginan kuat untuk melihat buku-buku yang berkaitan dengan tema sedulur papat. Lengkapnya konsep spiritual Jawa tersebut sedulur papat limo pancer. Sudah ada dua buku dalam genggaman. Yaitu karangan Purwadi;nenek moyang orang Jawa dan Ahmad Codjim;Mistik  dan Makrifat Sunan Kali Jaga. Titik berat keduanya jelas berbeda. Pengarang pertama adalah pakar dibidang budaya jawa. Buku tersebut merupakan terjemahan dari buku/naskah kuno yang dikarang pada abad 8. mencertakan masa kekuasaan raja dan tata mayarakat abad 4. Menilik isi buku tersebut akan membawa kita pada bayangan system, tata pemerintahan dan kondisi masyarakat pada masa itu. Memang menurut pandanganku judul yang tertulis tidak menunjukkan isi buku tersebut. Ini persoalan lain, yang terpenting dalam salah satu babnya memuat tentang ajaran yang ingin aku bedah tersebut. Berbeda dengan Purwadi, Ahmad Codjim mengambil acuan pada serat Kali Jaga-salah satu wali sembilan di Jawa.  Maka untuk menambah referensi aku berkeinginan kuat berbelanja di pasar loak. Setelah melihat-lihat di sana ternyata tidak aku jumpai. Dan perjalanan tidak menjadi sia-sia. Aku berkesempatan untuk menambah koleksi buku yang lain. Terjemahan AlQuran yang lama tidak kumiliki. Dan buku kontroversi karangan Munir Mulkhan tentang Syech siti Jenar. Dengan harapan ada sediki nukilan tentang ajaran jawa tersebut. Namun setelah melihat isi bab, tak kutemukan tema tersebut.

Sebenarnya sulit untuk mengungkan kenapa harus tertarik dengan tema tersebut. Bukan hanya karena tema tersebut semakin langka dan jarang yang mengetahuinya. Akan tetapi juga banyak informasi yang tidak sama mengenainya. Interpretasi yang berlainan bisa  jadi karena perjalanan waktu yang panjang. Sehingga ada informasi baru yang masuk atau menambahkan. Sama halnya dengan semua ajaran/tema, akan menjadi bebeda setelah beberapa generasi. Ini dipicu letak geografis yang berbeda, kemampuan menangkap dan menerjemahkan serta seberapa lestari ajaran/tema tersebut diwariskan. Dari beberapa informasi yang terkumpul, belum ada satupun yang membahas secara detail dan lengkap menjadi buku tersendiri. Padahal itu sangat penting. Jika mengingat itu adalah warisan leluhur. Dalam sejarah yang terekam dan tercatat, tanah jawa-Nusantara-mendapatkan pengaruh luar dimulai dari India sampai Negara Barat. Agama Hindu selanjutnya budha. Setelah itu agama islam masuk pekiraan abad 15an. Agama nasrani yang dibawa colonial Barat masuk tidak berselang lama. Dari keempat agama besar tersebut, tidak satupun yang memuat ajaran jawa tersebut. Jadi ini murni ajarann jawa. Hindu dan budha yang kental nuansa dewa, tidak memuat ini. Demikian juga islam dan Nasrani. Tradisi sufi dalam islam juga tidak memberikan ruang tekstual tentang tema ini.

Kemungkinan bahwa tema tersebut adalah pebahasaan atau pembumian dari salah satu keempat ajaran agama yang masuk juga tidak mungkin. Andaikan tema ini adalah akulturasi atau asimilasi, pasti rujukan akan disebutkan. Namun kemungkinan ini tidak menemukan fakta yang mendukung. Jadi pegangan yang terkuat adalah memang benar nilai dari orang jawa sendiri. Dengan minimnya litertur yang membahas.. Lantas akan muncul keinginan menyingkap tema tersebut. Usaha dapat kumulai dari menyusun pertanyaan-pertanyaan. Fungsinya untuk menelusuri pemikiran-pemikiran yang ada. Memilah-milah keotentikan dan sarat nilainya. Kemudian dicari histories perkembangannya. Inilah pertanyaan yang dapat diajukan :

  1. Bagaimana ajaran “sedulur papat limo pancer” yang ada saat ini ?
  2. Apa intisari atau benang merah diantara mereka?
  3. Manakah diantara banyak informasi tersebut yang memberikan gambaran yang logis, setidaknya dianggap wewakili  nilai yang sebenarnya?
  4. Proses perkembangan historisnya, sehingga diharapkan ditemukan akar budaya munculnya ajaran tersebut?

Tidak mudah memang. Namun tantangan besar dan sedikit gambaran akan menjadi titik tolak yang menyenangkan. Pengungkapan misteri dengan sedikitnya informasi. Apabila berhasil tentunya akan bermanfaat. Penelusuran sejarah pemikiran dan khasanah spiritual. Sehingga diharapkan mampu memberikan gambaran yang semakin utuh terhadap konteks jawa. Ini penting juga untuk media perbandingan dengan konteks masa sekarang. Perjalanan manusia Jawa dari waktu ke waktu. Misalkan, asumsi pertama bahwa ajaran ini murni Jawa, akan mempermudah sejarah leluhur Jawa sendiri. Mafhum adanya bahwa agama-agama yang bekembang dalam masyarakat saat ini berasal dari luar. Bukan untuk mau bersikap sarkasme, proses keterrbukaan sangan penting. Yang ingin  digali di sini adalah penelusuran ajaran sendiri. Sebagai salah satu dasar konsep  yang memungkinan agama dari luar dengan terbuka diterima. Bukan mustahil, jika ajaran baru masuk bertolak belakang dengan nilai lama akan ditolak. Nyatanya proses keterbukaan itu berjalan, meski memang perlu waktu. Berarti ada benang merah yang menunjukkan sejalannya berbagai ajaran baru dengan yang sudah ada di Jawa secara esensial. Penelusuran ini akan mencoba membongkanya.

 

November 9, 2007 Posted by isafawi | KAJIAN | | No Comments Yet

Memulai lagi

Pagi terasa mendung, galau sore yang menyenandungkan awan gelap. Mau menghancurkan muka bumi dengan curahan hujan. Nyatanya tidak kesampaian hujan turun. Jadilah pagi ini keraguan untuk menyembulkan mentari atau bekerja keras mengumpulkan awan kembali setelah bercerai berai sore kemaren. Sudah lama jari ini tidak memencet tuts-tuts keyboard. Dampai lupa bagaimana harus memulai dengan kata yang tepat. Yng jelas sudah lama sekali, lebih dari 4 bulan.  Banyak hal terlewati tanpa mampu mengembalikan memori utuh kejadian tersebut. Peradaban sudah berjalan cepat, kaget pula aku mengikutinya. Terasa lama sekali mengasingkan di pusat penambangan, nun jauh di sana dari kota. Sehingga menjadikan otak lupa bagaimana seharusna berfikir. Titik mana seharusnya difikirkan dulu sebelum menulis. Diharapkan dengan itu tulisan akan menjadi terarah dan mampu mengerucut sesuai dengan keinginan. Maka pagi ini aku memulai membuka kembali memori untuk menulis. Kebetulan kemaren aku memiliki sepenggal pengalaman bertemu dengan seorang penulis jawa. Prouktifitasnya tak perlu diragukan. Mulai menulis sejak tahun 50-an, dan kini diusianya yang 75 tahun masih aktif. Bahakan beberapa hari yang lalu mendapatkan penghargaan regional tingkan Asia Tenggara; SEA write award di Bangkok Thailand. Bapak Suprapto Brata yang kebetulan ayah dari rekananan kerja dengan kantor tempat aku kerja. Pertemuan yang tak terduga, saat kami mengantarkan printer titipan anaknya lewat kami. Pada mulanya  aku belum bisa bertemu dengannya, karena saat mengantar barang sedang keluar. Namun kemaren mau tidak mau harus bertemu untuk meninstallkan printer tersebut pada PC nya. Jadinya pertemuan singkat berisi cerita dan sisi-sisi kehidupan Bapak Suprapto. Foto-foto selama di Bangkon saat emnerima penghargan ditunjukkannya paa kami. Beliu yang suah uzur asih bersemangat untuk menulis dan engan menyala-nyala stidak langsung memberiku energi kembali untuk memulai lagi. Betul kata pramoedia Ananta Toer, pokoknya menulis sajalah. Dibaca atau tidak, diterbitkan atau tiak bukan urusan. Yang terpenting pokoknya menulis.apapun persepsi dan penilaian orang lain akan tulisan kita. Diejek, cemooh atau tidak digubris sama sekali bukan menjadi soal.  6 Nov 07

November 6, 2007 Posted by isafawi | Diary | | No Comments Yet

Pokoknya menulis

Lebih dari dua bulan aku sudah tidak mengutak-utik lembar tulisan ini. Baru pagi ini aku sempatkan. Itupun karena , seperti biasa bangun pagi gara-gara isyak menjelang subuh. Jadi sekalian saja. Mulai tadi malam aku membaca-baca buku, yang  menurutku cukup menggelitik dan seakan memenuhi keinginan dan impianku selama ini. Keinginan mandiri secara pekerjaan, sehingga punya diri yang utuh, bebas dan terjaga selalu memiliki waktu. Tiga hal yang selama ini belum aku dapatkan. Walaupun belum selesai membacanya, aku dapat gambaran mrnarik untuk hidup dengan terminologi MALAS. Eiit.. yang ini lain dari persepsi dan opini dalam masyarakat. Malas dalam artian tidak melakukan apapun karena unsur nihilisme tindakan. Akan tetapi harus mulai merancang definisi sukses pribadi dan kebahagiaan diri. Karena yang diharapkan adalah kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. Jadi harus mulai mrnghilangkan obsesi pada materi, apalagi uang. Karena ternyata itu tidak menjamin orang mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan. Kepuasan dan kebahagiaan akan diperoleh jika seseorang melakukan pekerjaan yang menjadi kesenangannya. Pekerjaan yang selalu bisa membuatnya merasa puas apabila telah selesai. Untuk menjadikannya berarti (secara finansial dan emosional), maka harus dilakukan dengan antusias dan pebuh kebahagiaan.   Ini yang selalu ingin saya lakukan. Termasuk saat ini, membaca dan menulis. Yang jelas ke depannya aku punya obsesi untuk membaut taman baca bagi orang tak mampu dan menjadi penulis sekaligus wiraswastawan.Sebenarnya msih ada lagi yang ingin aku geluti, cita-cita sejak kecil yaitu ingin bergelut dalam dunia pendidika. Dimana nalar akan selalu bekerja dan dapat selalu mengikuti perjalanan peradaban.InsyaAllah aku akan selalu ingin menuju ke sana. Dan selalu berkeyakina  diri mampu meraihnya.Untuk mencapi itu semua mulai sekarang harus menyiapkan diri. Tidak hanya modal semangat dan bondo nekad. Persiaan secatra arah dan strategi tindakan harus mulai dirancang. Inilah gambarang awal yang ingin aku lakukan :-         mulai mengaktifkan kembali menulis, walaupun dari hal kecil dan tak berguna-         membaca buku, literatur dan menuangkan dalam pikiran.-         Mulai untuk berjalan-jalan untuk menstimulasikan tindakan.-         Menyisihkan uang buat modal awal.-         Yang terpenting mulai menikmati hidup dan menghidupkan kembali rasa bahagia “setiap saat”-         Buang sama sekali beban dan pikiran sedih apalagi kusut, namun tataplah ke depan dengan senyum. Sedih dan senang tak ada bedanya. Keduanya bernilai positif.Sukses adalah mempunya ruang waktu untuk  selalu bahagia. Kesuksesan tidak harus menunggu memiliki karier mentereng dan uang berjibun. Akan  tetaapi seberapa besar waktu hidup kita mampu diguunakan sesuai dengan keinginan. Mau punya waktu ngobrol dan romantis dengan isteri kapan ia mau, menjenguk saudara atau teman tanpa terganggu jadwal kerja. Waktu luang hati untuk selalu memberi dan memberikan pelayanan bagi orang lain. Bercakap dengan siapapun, termasuk petani di sawah, orang d pinggir jalan atau para penjaga gardu malam hari. Bisa menikmati pemandangan gunung yang menghijau bersama isteri dan keluarga, atau meratapi dalam sunyi kekacaauan kondisi hutan dan perilaku diri masyarakat. Kebebasan yang akan selalu diimpikan orang. Kebebasan waktu dan melakukan sesuatu sesuai keinginan. Tidak terbebani apalagi terpenjara oleh waktu dan pihak lain. Jadi apa yang ada di hadapan nikmati dan gunakan sebagai sarana bahagia. Tentunya dengan wajar dan memiliki arah yang membebaskan. Naif jika melakukan ekspresi kebebasan, malah secara tidak sadar merenggut kebahgiaan dan kebebasan itu sendiri.Deepak Chopra pernah menulis semua tujaun manusia adalah bahagia. Apapun status dan kondisi seseorang. Tidak peduk dia pegawai, bos, orang kaya, miskin ataupun yang tidak punya apa-apa. Dari berbagai obsesi yang mereka kejar, kalau diurut terus tujaunnya, pasti ingin bahagia. Namun yang menjasdi sulit adalah apakah harus menunggu begitu lama, sampai memiliki ini itu untuk dapat mencapai bahagia. Harus memilki karier jabatan tertentu untuk dapat mencapai bahagia, memiliki finansial tertentu untuk dapat merasakan bahagia. Itu  hanya angan-angan yang selalu memburu ke mana arah kita. Bagaikan bayangan yang selalu mengikuti kemanapun diri melangkah. Padahal yang ingin dicari diri itu sendiri, bukan bayangan diri. Jadi saat inipun sebenarnya setiap orang telah memiliki diri, tinggal bagaimanan menemukan dan menjadikannya bahagia. Tanpa harus menunggu sesuatu yang sebenarnya bukan diri itu sendiri. Bahagia sudah ada di dalam diri, tinggal bagaimana memunculkannya. Bahagia adalah soal pembebasan. Seberapa besar kemauan untuk membebaskan perasaandan hati ini untuk terasa behagia. Bahagia tidak datang dengan bantuan orang lain. Kemunculannya tergantung diri sendiri. Setiap orang memiliki jatah dan kesempatan bahagian yang sama. Terlepas bagaimana status, dimana tempat tinggalnya dan berapa usianya. Aku bahagia saat ini, karena telah melangkahkan kaki untuk menulis. Melepaskan segala kepemilikan materi. Yang malah membuat aku harus mengeluarkan enegi untuk memikirkannya. Aku yakin akan selalu bahagia jika mau melakukan apa yang aku inginkan. Masih banyak yang aku ingin lakukan lagi. Namun cukup ini dulu aku melakukan menulis. Waktuku bermanfaat. Aku bisa merasakannya saat ini. Hasil tulisan yang dapat aku baca kembali saat ini atau suatu saat nanti. Apapun penilaian tulisan ini…21 maret 2007

November 6, 2007 Posted by isafawi | Diary | | No Comments Yet

Pertama Kali

Setelah mencoba beberapa kali failed dan terdorong oleh omongan teman. Akhirnya bisa juga membuat blog lewat worpress. Meski sudah ada blog sebelumnya. Ini sebagai ajang perbandingan, mana yang lebih mudah dan efektif. Semoga….

Salam

Mams

November 6, 2007 Posted by isafawi | Diary | | 1 Comment