QALAMUNA NOORY

Dalam waktu terPENAkan kidung kehidupan

Antrian Panjang

Hari menjadi hari terakhir masuk kerja. Empat hari yang akan datang adalah weekend. Libur yang lu,ayan panjang. Dengan catatan bagi hari Sabtu termasuk hari libur. JIka sabtu adalah hari efektif, tinggal mengurangi saja.

Jadi amat wajar jika pada hari ini semua pihak-tentunya yang libur panjang- akan mengejar target selesai. Semua pekerjaan selama seminggu harus tuntas  pada hari ini juga. Beban pekerjaan harus tuntas sebelum memasuki liburan. Sehingga tidak ada yang mengganggu suasana long weekend.

Apalagi hari ini adalah tanggal  19 pada bulan maret. Sangat berjubel dan antrian panjang mengisi ruangan kantor pajak. HAri-hari kedepan sudah melampaui tanggal 20. Jadi dari pada terlambat dan konsekuensinya kena denda, menunggu lama tidak menjadi penghalang. Bayangkan aku saja harus mengantri sampai antrian 150 lebih. Dengan nomor urut 262, padahal yang sedang dilayani di bawah angka 100. Wuihhh.. rasanya mau balik kucing saja. Untunglah niat itu aku urungkan. Semakin ditunda akan tiidak  selesai pekerjaan. Meski aku akhirnya mendengar informasi bahwa hari Sabtu kantor layanan pajak.

Hampir empat jam menunggu giliran….

inilah indonesiaku, suka mepet-mepet mendekati deadline…

March 19, 2008 Posted by isafawi | Diary | | No Comments Yet

Hari ini, jam ini sudah waktunya pulang. Hujan deras mengelayut i luar sana mengurungkan niatku. Padahal sudah setengah delapan malam. Rencana hari ini pulang semobil dengan teman sekerja. Apalagi jika mengingat aku tidak membawa jas hujan. Jadi mau tak mau bareng dengan teman tersebut. Rencana kita memikirkannya, sayang tidak berjalan apa adanya.

Mobil yg terparkir manis di luar kehabisan aki. Dengan tidak sengaja teman kerja menghidupkan lampu. Hampir dua jam keadaan ini tidak disadari. Sehabis dari bengkel di pandaan langsung nyelonong masuk kantor, lupa telah menghidupkan lampu. Tersadari setelah salah satu teman beranjak pulang. Wah bisa berantakan semua rencana.

Percobaan awal dilakukan dengan penuh harap. Memang aki sudah habis benar. Teringat di gudang ada charger aki, maka cara itupun ditempuh. Sementara hujan nampak tidak lelah untuk mengguyur. Upaya untuk mendekatkan mobil dekat kanopi berhasil setelah susah payah mendorong berdua. Agar tidak terimbas air hujan mobil terpaksa harus berdiam ditempat terlindungi. Berhasil, walau tak sepenuhnya terlindungi. Lagipula kabel untuk menghubungkan sumber listrik ke charger ekat mobil ternyta kurang panjang. Walah… ada saja hambatan yang datang.

Setelah sana-sini cari kabel sisa test alat kemaren malam, kutemukan juga kabel yang masih nyangkut pada kontrol panel. Dibethot saja oleh temanku. Charger kini sudah terpasang tinggal menunggu pengisian. Lima belas menit, setengah jam. Cukuplah kiranya pengisian ini. Dicobalah barang sebentar. Kelegaan menjadi harapan sekaligus jalan terang unutk pulang. Nyatanya usaha inipun kurang berhasil. Dibiarkanlah lagi alat tersebut bekerja barang sebentar lagi. Sambil kuusahakan melihat-lihat kotak masuk emailku. Atau sambil menunggu dengan mengobrol sekilas2nya dengat teman-teman lewat chating. Hujan masih terus berguyur, lebat malah…

Sampailah waktunya menimbang untuk kesempatan terakhir. Kereta mesin diesel ini harus dikembalikan seperti gerobak yang mogok kerbaunya. Didorong tentunya yang aku maksudkan. Kulihat sekilas suasana di luar sana. Dan hujan sepertinya tak mau ambil peduli. Dengan bermodalkan semangat dan harapan pada kekuatan ringkih berdua, kupanjatkan doa. Sekiranya saja terkabul sapa tahu. Nyata jelas titik hujan yang mulai memasuki bibirku. Si teman di samping setir, sambil setengah mendorong. Aku menuntuk dengan segala keterbatasan nafasku. Kaos yang kukenakan mulai menambah dingin badanku. Rupanya satu-satunya alat pelindung dada ini juga tak kuasa menahan bulir-bular air hujan.

Kami dorong sekuatnya kereta mogok ini. Lima meter pertama terasa begitu berat. Bilangan kelipata keduanya mulai teras berjalan normal. terasa lebih ringat. Itu menambah semangatku mendorong. Lima meter berikutnya mulai laju ini mobil. Secepat kilat si teman melompat di belakang setir. sayang itu tidak membantu. Tenagaku sudah habis duluan. Kami terengah-engah sambil emmegangi perut. Kami pandangi mobil kurang tahu untung ini. Sudah berapa liter di minum solar siang ini. Tetap tak mau jalan engan sendirinya. Terpaksa kami unurkan lagi mobil untuk mengambil jarak dorong. Sampailah pada pututan untuk mengulang usaha terakhir ini. Sekuat tenaga tersisa semangkok baso tadi sore kami kerahkan. Harapan melambung tatakala terasa cepat benar mobil berlari. Si teman denga cepat pula berlari ke arah setir. Kudengar suara mendesis. Harapan sekiranya menjadi kenyataan. Ku kayuh sekali lagi mendorong gerobak diesel ini. Cuma sekali mendesis. Hanya itu yang dapat ia keluarkan. dan kami menyerah denga basah kuyup..

Aku duduk di samping kiri depan. Si teman melenguh di sampingku. Badan kami kuyup. Haya sengal nafa kami yang terdengar. MObil dengan beku masih diam tak bersuara. Kulihat senyum kecut mengembang terpaksa. Hujan masih gemericik di luar mobil. Terpaksa penyerahan harus diputuskan. Itu berarti mobil harus dioarkir kembali. Kami dorong didepan moncongnya. Kulihat tetangga sebelah melihat kami. Mungkin dipikir kami mai hujan-hujanan….

Didepan komputer aku merangkai huruf menjadi kata. Tersambung satu menyatu menjadi kalimat. Sambil mencoba menunggu kering badan. Baju sudah ku buang karena tak nyaman lagi. Aku harus pulang. Kali ini dengan mootor. TAk hiraukan lagi hujan yang nampak tambah deras. Segera aku akhhiri rangkaian kalimat ini. Sambil berfikir bagaimana caranya komputerku nanti tidak basah. Karena aku tidak membawa jas hujan. Tapi aku telah berjanji membuat company prfoile. Plak…reflek tanganku menggapai nyamuk yang menggigit sakit punggungku.Aku harus pulang. Bukan karena hujan ataupun kuyup komputerku. Aku hanya tak tahan gigitan nyamuk. Plakkk…

December 17, 2007 Posted by isafawi | Diary | | No Comments Yet

Memulai lagi

Pagi terasa mendung, galau sore yang menyenandungkan awan gelap. Mau menghancurkan muka bumi dengan curahan hujan. Nyatanya tidak kesampaian hujan turun. Jadilah pagi ini keraguan untuk menyembulkan mentari atau bekerja keras mengumpulkan awan kembali setelah bercerai berai sore kemaren. Sudah lama jari ini tidak memencet tuts-tuts keyboard. Dampai lupa bagaimana harus memulai dengan kata yang tepat. Yng jelas sudah lama sekali, lebih dari 4 bulan.  Banyak hal terlewati tanpa mampu mengembalikan memori utuh kejadian tersebut. Peradaban sudah berjalan cepat, kaget pula aku mengikutinya. Terasa lama sekali mengasingkan di pusat penambangan, nun jauh di sana dari kota. Sehingga menjadikan otak lupa bagaimana seharusna berfikir. Titik mana seharusnya difikirkan dulu sebelum menulis. Diharapkan dengan itu tulisan akan menjadi terarah dan mampu mengerucut sesuai dengan keinginan. Maka pagi ini aku memulai membuka kembali memori untuk menulis. Kebetulan kemaren aku memiliki sepenggal pengalaman bertemu dengan seorang penulis jawa. Prouktifitasnya tak perlu diragukan. Mulai menulis sejak tahun 50-an, dan kini diusianya yang 75 tahun masih aktif. Bahakan beberapa hari yang lalu mendapatkan penghargaan regional tingkan Asia Tenggara; SEA write award di Bangkok Thailand. Bapak Suprapto Brata yang kebetulan ayah dari rekananan kerja dengan kantor tempat aku kerja. Pertemuan yang tak terduga, saat kami mengantarkan printer titipan anaknya lewat kami. Pada mulanya  aku belum bisa bertemu dengannya, karena saat mengantar barang sedang keluar. Namun kemaren mau tidak mau harus bertemu untuk meninstallkan printer tersebut pada PC nya. Jadinya pertemuan singkat berisi cerita dan sisi-sisi kehidupan Bapak Suprapto. Foto-foto selama di Bangkon saat emnerima penghargan ditunjukkannya paa kami. Beliu yang suah uzur asih bersemangat untuk menulis dan engan menyala-nyala stidak langsung memberiku energi kembali untuk memulai lagi. Betul kata pramoedia Ananta Toer, pokoknya menulis sajalah. Dibaca atau tidak, diterbitkan atau tiak bukan urusan. Yang terpenting pokoknya menulis.apapun persepsi dan penilaian orang lain akan tulisan kita. Diejek, cemooh atau tidak digubris sama sekali bukan menjadi soal.  6 Nov 07

November 6, 2007 Posted by isafawi | Diary | | No Comments Yet

Pokoknya menulis

Lebih dari dua bulan aku sudah tidak mengutak-utik lembar tulisan ini. Baru pagi ini aku sempatkan. Itupun karena , seperti biasa bangun pagi gara-gara isyak menjelang subuh. Jadi sekalian saja. Mulai tadi malam aku membaca-baca buku, yang  menurutku cukup menggelitik dan seakan memenuhi keinginan dan impianku selama ini. Keinginan mandiri secara pekerjaan, sehingga punya diri yang utuh, bebas dan terjaga selalu memiliki waktu. Tiga hal yang selama ini belum aku dapatkan. Walaupun belum selesai membacanya, aku dapat gambaran mrnarik untuk hidup dengan terminologi MALAS. Eiit.. yang ini lain dari persepsi dan opini dalam masyarakat. Malas dalam artian tidak melakukan apapun karena unsur nihilisme tindakan. Akan tetapi harus mulai merancang definisi sukses pribadi dan kebahagiaan diri. Karena yang diharapkan adalah kepuasan dan kebahagiaan dalam hidup. Jadi harus mulai mrnghilangkan obsesi pada materi, apalagi uang. Karena ternyata itu tidak menjamin orang mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan. Kepuasan dan kebahagiaan akan diperoleh jika seseorang melakukan pekerjaan yang menjadi kesenangannya. Pekerjaan yang selalu bisa membuatnya merasa puas apabila telah selesai. Untuk menjadikannya berarti (secara finansial dan emosional), maka harus dilakukan dengan antusias dan pebuh kebahagiaan.   Ini yang selalu ingin saya lakukan. Termasuk saat ini, membaca dan menulis. Yang jelas ke depannya aku punya obsesi untuk membaut taman baca bagi orang tak mampu dan menjadi penulis sekaligus wiraswastawan.Sebenarnya msih ada lagi yang ingin aku geluti, cita-cita sejak kecil yaitu ingin bergelut dalam dunia pendidika. Dimana nalar akan selalu bekerja dan dapat selalu mengikuti perjalanan peradaban.InsyaAllah aku akan selalu ingin menuju ke sana. Dan selalu berkeyakina  diri mampu meraihnya.Untuk mencapi itu semua mulai sekarang harus menyiapkan diri. Tidak hanya modal semangat dan bondo nekad. Persiaan secatra arah dan strategi tindakan harus mulai dirancang. Inilah gambarang awal yang ingin aku lakukan :-         mulai mengaktifkan kembali menulis, walaupun dari hal kecil dan tak berguna-         membaca buku, literatur dan menuangkan dalam pikiran.-         Mulai untuk berjalan-jalan untuk menstimulasikan tindakan.-         Menyisihkan uang buat modal awal.-         Yang terpenting mulai menikmati hidup dan menghidupkan kembali rasa bahagia “setiap saat”-         Buang sama sekali beban dan pikiran sedih apalagi kusut, namun tataplah ke depan dengan senyum. Sedih dan senang tak ada bedanya. Keduanya bernilai positif.Sukses adalah mempunya ruang waktu untuk  selalu bahagia. Kesuksesan tidak harus menunggu memiliki karier mentereng dan uang berjibun. Akan  tetaapi seberapa besar waktu hidup kita mampu diguunakan sesuai dengan keinginan. Mau punya waktu ngobrol dan romantis dengan isteri kapan ia mau, menjenguk saudara atau teman tanpa terganggu jadwal kerja. Waktu luang hati untuk selalu memberi dan memberikan pelayanan bagi orang lain. Bercakap dengan siapapun, termasuk petani di sawah, orang d pinggir jalan atau para penjaga gardu malam hari. Bisa menikmati pemandangan gunung yang menghijau bersama isteri dan keluarga, atau meratapi dalam sunyi kekacaauan kondisi hutan dan perilaku diri masyarakat. Kebebasan yang akan selalu diimpikan orang. Kebebasan waktu dan melakukan sesuatu sesuai keinginan. Tidak terbebani apalagi terpenjara oleh waktu dan pihak lain. Jadi apa yang ada di hadapan nikmati dan gunakan sebagai sarana bahagia. Tentunya dengan wajar dan memiliki arah yang membebaskan. Naif jika melakukan ekspresi kebebasan, malah secara tidak sadar merenggut kebahgiaan dan kebebasan itu sendiri.Deepak Chopra pernah menulis semua tujaun manusia adalah bahagia. Apapun status dan kondisi seseorang. Tidak peduk dia pegawai, bos, orang kaya, miskin ataupun yang tidak punya apa-apa. Dari berbagai obsesi yang mereka kejar, kalau diurut terus tujaunnya, pasti ingin bahagia. Namun yang menjasdi sulit adalah apakah harus menunggu begitu lama, sampai memiliki ini itu untuk dapat mencapai bahagia. Harus memilki karier jabatan tertentu untuk dapat mencapai bahagia, memiliki finansial tertentu untuk dapat merasakan bahagia. Itu  hanya angan-angan yang selalu memburu ke mana arah kita. Bagaikan bayangan yang selalu mengikuti kemanapun diri melangkah. Padahal yang ingin dicari diri itu sendiri, bukan bayangan diri. Jadi saat inipun sebenarnya setiap orang telah memiliki diri, tinggal bagaimanan menemukan dan menjadikannya bahagia. Tanpa harus menunggu sesuatu yang sebenarnya bukan diri itu sendiri. Bahagia sudah ada di dalam diri, tinggal bagaimana memunculkannya. Bahagia adalah soal pembebasan. Seberapa besar kemauan untuk membebaskan perasaandan hati ini untuk terasa behagia. Bahagia tidak datang dengan bantuan orang lain. Kemunculannya tergantung diri sendiri. Setiap orang memiliki jatah dan kesempatan bahagian yang sama. Terlepas bagaimana status, dimana tempat tinggalnya dan berapa usianya. Aku bahagia saat ini, karena telah melangkahkan kaki untuk menulis. Melepaskan segala kepemilikan materi. Yang malah membuat aku harus mengeluarkan enegi untuk memikirkannya. Aku yakin akan selalu bahagia jika mau melakukan apa yang aku inginkan. Masih banyak yang aku ingin lakukan lagi. Namun cukup ini dulu aku melakukan menulis. Waktuku bermanfaat. Aku bisa merasakannya saat ini. Hasil tulisan yang dapat aku baca kembali saat ini atau suatu saat nanti. Apapun penilaian tulisan ini…21 maret 2007

November 6, 2007 Posted by isafawi | Diary | | No Comments Yet

Pertama Kali

Setelah mencoba beberapa kali failed dan terdorong oleh omongan teman. Akhirnya bisa juga membuat blog lewat worpress. Meski sudah ada blog sebelumnya. Ini sebagai ajang perbandingan, mana yang lebih mudah dan efektif. Semoga….

Salam

Mams

November 6, 2007 Posted by isafawi | Diary | | 1 Comment